Theo Sitokdana: Pegubin Butuh Pemimpin Yang Memiliki Hati Membangun
Theo Sitokdana, Tokoh Intelektual Pegubin, Wakil Bupati Periode 2005-2010. (Foto; Dok Pribadi)
Setelah mengikuti proses pembangunan di daerah selama 4 tahun lebih, nampaknya Proses Pembangunan Pegubin berjalan di tempat. Tidak pernah berubah ubah,(yang ada hanya bekas Bupati Welington L. Wenda), baik itu bidang SDM maupun infrastruktur selama kepemimpinan Bupati Costan Oktemka, S.Ip dan Wakilnya Deki Deal, S.Ip
OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang mengkantongi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terendah, bertengker ke posisi 27 dari 29 kabupaten kota di Provinsi Papua dengan persentase 43, 24 di tahun 2018 dan 36, 61 tahun 2019.
Indeks Pembangunan Manusia diukur dari kemajuan Pendidikan, Kesehatan, kesejahteraan ekonomi, Infrastruktur aspek penting lainnya. Jika IPM Pegubin rendah, maka patut dipertanyakan terkait hak hak dasar setiap manusia tersebut.
Kemajuan pembangunan bidang Pendidikan, EKonomi, Kesehatan, Infrastruktur juga dipengaruhi oleh pemimpin daerah. Mengutip Kata Bijak Ahok “Yang menjadi sumber dari permasalahan adalah pemimpin, jika pemimpinnya benar, tentu bawahannya juga ikut benar”katanya.

Untuk itu, seorang pemimpin mampu membijaki kemajuan pembangunan di daerah. Pegunungan Bintang yang IPM-nya sangat rendah ini, sangat dibutuhkan pemimpin yang mempunyai hati untuk membangun daerah ini.
Kabupaten Pegunungan Bintang hari ini mengalami krisis pemimpin yang memiliki hati untuk membangun manusia dan daerah ini. Sebelum Pegunungan Bintang dimekarkan menjadi sebuah DOB baru, kita berada pada kungkungan geografi yang menciptakan kita serba terisolasi.
Hal itu dikatakan Theo Sitokdana, salah satu tokoh Pejuang pemekaran kabupaten Pegunungan Bintang yang juga wakil bupati Pegunungan Bintang periode 2005-2010 di Grup diskusi Oksibil Membangun pekan kemarin.
Ia mengungkapkan untuk membangun Pegunungan Bintang harus dengan Hati dan Pikiran Jernih. Ia memandang pemimpin pemimpin hari mengeluh dengan persoalan fisik Geografis.
Theo mengatakan “Hari ini persoalan utama bukan pada keterisolasian fisik geografi. Kita saat ini dan ke depan berhadapan dgn keterisolasian MENTAL kepribadian dan penjiwaan kehidupan Spiritual yang matang dari para pemimpin”ucapnya.
Kemudian ia mengatakan Dana APBD kita sudah tembus 1,5 trilyun rupiah setiap tahun. Dalam 4 tahun terakhir ini APBD Kab Peg Bintang sudah mencapai lebih dari 6 trilyun rupiah. Jumlah ini murni dana pembangunan 4 trilyun lebih, sedangkan sisa 2 trilyun utk belanja pegawai.
Jika mengacuh kepada dana pembangunan sebesar 1 trilyun rupiah setiap tahun, maka rasionalnya dan sangat logis adalah kita tidak ada alasan utk mengatakan keterisolasian fisik geografis menjadi kendala dalam pembangunan kabupaten ini.
“Sumber dana APBD kita menjadi dasar untuk mencari dana sharing dari APBD Provinsi dan APBN untuk membangun ruas jalan tembus selatan, utara dan barat sambil mengupayakan pembangunan ruas jalan yang menghubungkan antar Distrik”ucap mantan wakil bupati tersebut.
Menurutnya, Pak Wellington Wenda, bupati pertama memulai pembentukan wajah kota Oksibil dengan dana 300 milyard rupiah tahun 2005. Jumlah itu naik menjadi 800 milyard rupiah pada tahun 2008. Bertahan pada posisi jumlah itu sampai 2010. Dengan jumlah dana yg demikian, ia memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada dan akhirnya semua fasilitas yang sedang kita nikmati hari ini bisa di-ada-kan.
“Ini bukti bahwa keterisolasian fisik geografis bukan kendala utama dalam membangun daerah. Justru kendala pertama dan sangat utama adalah keterisolasian MENTAL Kepemimpinan seseorang”kata Sitokdana yang diposting Grup Oksibil membangun.
Kemudian ia menjelaskan Uang banyak tetapi tidak bisa digunakan dengan menerapkan kepemimpinan yang tepat, pengelolaan keuangan daerah yang tepat dan pengorganisasian kerja yang tepat pula maka yang ada selalu adalah rasa tidak cukup, tidak mensyukuri apa yang ada, banyak mengkritik orang atau lembaga lain serta tidak menghargai kemampuan org lain.
Kalau motivasi menjadi pemimpin adalah untuk menjadi kaya, maka tentu dana APBD Kabupaten Pegunungan Bintang yang ada saat ini dipandang tidak cukup. Karena itu memimpin daerah ini pasti akan menggunakan filsafat keutamaan “Saya”. Saya, saya, saya kemudian kamu. Ini sangat membahayakan daerah. Daerah akan terus terisolasi secara fisik berkepanjangan, ucapnya.
Penulis : Fransiskus Kasipmabin
