Dinkes Targetkan Tahun 2023 Bebas Filaria di Pegunungan Bintang
Kadis Kesehatan, Yermias Tapyor. S.KM (Foto: Frans/TP)
OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Pemerintah mencangkan bulan Oktober menjadi bulan eliminasi penyakit kaki gajah (Filaria), yakni waktunya untuk meminum obat pencegahan yang diberikan dalam program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis sebanyak 1 dosis setiap tahun selama 5 tahun berturut-turut.
Seluruh penduduk berusia antara 2-70 tahun dan tinggal di wilayah endemis penyakit kaki gajah itu akan diingatkan untuk meminum obat pencegahan. POPM harus dilaksanakan selama lima tahun berturut-turut.
Untuk itu, pemerintah Pegubin menargetkan pada tahun 2023 masyarakat Pegunungan Bintang terbebas dari Penyakit Filariasis ini. Karena penyakit kaki gajah tidak bisa disembuhkan, jadi tujuan meminum obat adalah untuk mencegah.
Hal itu dikatakan, kepala Dinas Kesehatan Pegunungan Bintang, Yermias Tapyor S.KM kepada media ini, ketika menemuinya di Kantor Dinkes Dabolding, distrik Kalomdol, senin (14/10/2019) lalu.
Menurut kepala dinkes Pegubin penyakit filariasis berada di dataran rendah berkisar antara 200-300 meter dari permukaan laut. Itu artinya penyebaran penyakit filariasis berada di daerah pesisir, atau dataran rendah. Sehingga daerah daerah terdeteksi ada penyakit tersebut seperti Puskesmas Aboy , ini yang paling banyak. Puskesmas aboy temukan 8 kasus.
Di wilayah selatan Pegubin, puskesmas Iwur, Kawor, Awinbon dan Oksibil. Puskesmas Oksibil ini di ada temuan di distrik Kalomdol. Distrik Kalomdol wilayah kerja Puskesmas Kota, ucapnya.
Sejauh ini tidak ada peningkatan. Karena kami sudah bekerja, mengedarkan obatnya. Pengobatan secara menyeluruh. Setiap tahun obat itu kami distribusikan ke setiap puskesmas atau distrik. Sehingga menekan jumlah penderita filarial.
“Sejauh ini belum ada peningkatan. Yang ada itu, itu itu saja”Ucap Yermias Tapyor.
Selain itu, menurutnya kebersihan pribadi menjadi factor penyebab timbulnya penyakit filariasisi. Terutama kuku kaki.untuk itu, pengobatan itu wajib dilakukan oleh pemerintah.
“Bulan oktober ini pencanangan eliminasi Filaria, untuk itu semua warga, semua penduduk wajib minum obat pencegah filaria. Langsung dilakukan pencegahan dengan pemberian obat obat itu”kata Tapyor.
Target dinkes Pegubin 2023, warga Pegunungan Bintang bebas dari penyakit filarial. Dukungan pemerintah berupa ketersediaan anggaran untuk setiap tahun ada, walaupun belum maksiml, tetapi kami tetap mendistribusikan obat dan juga tenaga ke pelosok distrik.
Masyarakat harus ikuti saran dokter untuk teratur minum. Berhubung obat sekali dalam satu tahun, karena itu setiap masyarakat wajib minum obat. Minimal 90 % dari jumlah penduduk itu wajib minum obat, kecuali ibu hamil.
Menurut kepala dinas, ada keuntungan dari obat ini, kita minum untuk penyakit filaria tetapi cacing juga bisa mati, ucapnya.
Penularan penyakit Filaria Bisa juga dari gigitan nyamuk. Nyamuk juga bisa tularkan, jadi pencegahannya selain minum obat, bisa menggunakan kelambu. Masyarakat juga bisa meminimalisir, gigitan nyamuk. Semua jenis nyamuk bisa menularkan.
Penyakit ini massa inkubasinya selama 4 tahun, jadi setelah empat tahun baru bisa muncul gejala penyakitnya. Menurutnya, gejala gejal sering timbul adalah pembengkakan, oragn organ fital, kaki, grotum, alat alat fital.
Sebelumnya Puskesmas Oksibil menyampaikan data kurang falid, dikoreksi memang tidak ada pasien yang dirujuk ke RS Abe, memang tidak ada pasien filariasis, pasien rujukan tidak ada pasien filariasis, ucap kepala dinkes pegubin itu.
Penulis: Fransiskus Kasipmabin
