Pemerintah Didesak Segera Adakan Evaluasi Penangan Penyakit Sosial Masyarakat

0
46488591_186167525653813_8877236980337868800_n

Yance Tapyor (Foto: Dok Pribadi/TP)

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Penanganan Penyakit sosial di wilayah Pegunungan Bintang 10 tahun terakhir ini tidak ada keseriusan dari pihak berwenang. Pemerintah daerah (Pemda) Pegubin Belum membuat Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait penanganan penyakit sosial yang kini marak di mana mana. Akibatnya, kasus kekerasan, penganiayaan, pembakaran, pencurian semakin meningkat di wilayah Oksibil dan sekitarnya.

Peristiwa kebakaran kemarin di Oksibil merupakan salah satu kasus yang diduga pelakunya dipengruhi Alkohol, minuman keras. Pelaku menghasut pemuda lain yang sedang bermain judi togel, putaran, billiard di Pasar Mabilabol lalu bersama sama membakar Ruko dan Kios di pertigaan Okpol dan sekitarnya. Motif kebakaran sedang didalami oleh pihak berwenang di Mabes Polres Pegunungan Bintang Oksibil.

Kasus pencurian, kehilangan barang, pembobolan ATK di Kantor kantor pemerintah di Oksibil, kasus pencurian barang di Kantor KNPI dan kasus pencurian lainnya semakin hari terjadi di Oksibil. Banyak laporan polisi yang dibuat, namun lagi lagi belum menyelidiki factor penyebab pelaku melakukan penurian atau miras, judi togel dan lain sebagainnya.

Dengan melihat situasi daerah yang seakin hari semakin tidak nyaman terutama dengan semakin tingginya penyakit sosial di kalangan masyarakat, pemerintah daerah di minta perlu melakukan evaluasi atas sejumlah persoalan yang terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terhakir ini.

Budaya bakar membakar yang dilakukan oleh oknum masyarakat di Oksibil belakangan ini ditepis oleh Yance Tapyor, tokoh masyarakat Pegunungan Bintang. Ia menilai,  bakar membakar bukan budaya atau kebiasaan orang kupel, Ngalum, murop,Kambom, Batom,Lepki,kimki, dan omkai,  di pegubin.

Yance Tapyor merupakan salah satu korban dari kejadian pembakaran pekan lalu. Dirinya menilai selamai ini sejumlah penyakit social yang meraja lelah di wilayah ini terjadi pembiaran dan ketika terjadi sesuatu buralah semua komponen buka mata dan mendirikan kubuh-kubuh dengan mengatas namakan tokoh ini dan tokoh itu.

“Saya melihat penyakit sosial khusunya miras, narkoba, perjudian, seks bebas di wilayah ini terjadi pembiaran dan saling menyalakan satu dengan yang lain pada hal menurut saya yang bertindak sebagai kepala keluarga itu pemerintah daerah tetapi pemerintah daerah juga lipat tangan dan tidak melihat hal ini”ucapnya.

Dengan demikian saya harap dengan kejadian ini sejumlah penyakit social yang meraja lelah di wilayah ini perlu di berantas hinga akar-akarnya,  sebab akibat dari pembiaran tersebut telah terjadi aksi bakar-membakar secara beruntun dalam 10 tahun terakir ini mulai dari tahun 2013 hingga tahun 2019 ini.

Selain itu Yance Tapyor juga menuturkan  saya sudah korban dua kali yang pertama rumah saya di bakar pada oktober 2018 lalu. Dan kali ini sejumlah tempat usaha saya juga turut terbakar, itu semua di picu karena minuman keras.

Oleh sebab itu, saya berpesan kepada pemerintah agar perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh terkait sejumlah penyakit social yang meraja lelah di daerah ini, sekaligus dapat menertibkannya, agar pelayanan ekonomi dan pelayanan pemerintahan serta sejumlah pelayanan public lainnya dapat berjalan dengan baik, ucapnya.

 

Reporter         : Melki P. Uropmabin

Penulis            : Melki P. Uropmabin, Frans Kasipmabin 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *