216 OMK Hadiri Temu Akbar di Oksibil
Oksibil, TRIBUN PAPUA.ID—Kegiatan Temu Akbar Orang Muda Katolik (OMK) se-Dekenat Pegunungan Bintang diadakan pada Minggu, 28 Juli-1 Agustus 2018 silam, di Gedung Sotkat Mabilabol Oksibil.
Kegiatan yang dihelat selama 5 hari tersebut dihadiri oleh 216 Orang Muda Katolik (OMK) dari 4 Paroki, antara lain Paroki Kristus Bangkit Iwur, Paroki Oklip, Paroki Bintang Timur Apmi SIbil, dan Paroki Roh Kudus Mabilabol.
Temu Orang Muda Katolik (OMK) Merupakan kegiatan tahunan yang diselenggrakan oleh OMK yang ada di empat Paroki Dekenat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura.
Orang Muda Katolik tidak terlepas dari Greja. Greja berkembang atau tidak ada di Pundak Orang Muda Katolik. Dengan melihat kondisi Umat Katolik yang semakin hari semakin berkurang, baik di dalam Gereja pada hari minggu, maupun kegiatan kegiatan Grejawi yang diselenggarakan Oleh Gereja umat tidak antusias.
Kegiatan akbar ini diselenggarakan melihat kondisi Gereja yang semakin berkembang tiap tahunnya tidak bisa lepas dari nasib generasi muda sebagai penerus di masa depan. Terlepas dari semua kenyataan itu, sebuah pertanyaan besar akan muncul ketika melihat kondisi kaum muda saat ini di empat paroki dekenat Pegunungan Bintang. “kemanakah anak-anak muda empat paroki ini?”
Hal itu dikatakan Ketua Panitia, Ferdinandus Bamulki, pada acara pembukaan Temu OMK se-Dekenat Pegunungan Bintang.
Menurutnya,Keprihatinan tersebut dibuktikan dengan sangat sedikitnya anak-anak muda yang mau aktif di Gereja, lingkungan Komunitas Basis (KOMBAS), Lingkungan Stase, organisasi kepemudaan bahkan sampai dengan keluarga yang kurang harmonis.
“Jiwa kaum muda yang seharusnya memperkuat fondasi di setiap paroki, kini seakan terkubur dan tidak memiliki semangat untuk bangkit”ucap Feba.
Membangkitkan Kesaran OMK Menggerja.
Kurangnya kesadaran untuk turut terlibat dalam kegiatan kepemudaan Gereja menjadi salah satu fokus keprihatinan. Kesadaran itu sendiri sebenarnya timbul karena didasari oleh sebuah ajakan hati nurani yang bernama panggilan. Panggilan Tuhan dalam jiwa kaum muda Katolik sangatlah beragam, mulai dari panggilan sebagai biarawan hingga terpanggil menjadi kaum muda berkualitas yang mau aktif dan berkontribusi bagi perkembangan kaum muda di Gereja.
Untuk memaknai panggilan itu sendiri, ada dua tipe kaum muda di empat paroki ini. Pertama, mereka tidak tahu mengenai makna panggilan dan apa saja pilihan panggilan mereka sebagai kaum muda Katolik. Kedua, mereka sudah tahu pilihan apa saja yang terbentang, tetapi tidak memiliki semangat dan dorongan untuk bangkit.
Kaum muda juga kurang pekah terhadap Komunitas Basis (Kombas) dimana OMK menjadi penggerak untuk kemajuan Kombas. Keterlibatan kaum mudah sangat penting. Jika tidak bergerak mendampingi, maka tidak mungkin Kombas bisa mandiri.
Perhatian gereja terhadap pembinaan kaum muda merupakan hal yang sangat penting. Pembinaan itu tidak hanya menyangkut iman, tetapi juga berkaitan dengan pembinaan kepemimpinan, organisasi dan mentalitas.
Untuk itu, momentum kekigatan Akbar ini mampu membangkitkan semangat Orang Muda Katolik untuk menggerakan Organisasi yang militant, Progresif, yang dijiawai dengan nilai nilai kekatolikan menuju orang muda mandiri dan Misioner.
Menurut ketua Panitia, beberapa tujuan utama dari kegiatan ini, pertama; Membantu Kaum Muda Mengenali Panggilan Hidup Mereka; Kedua, Meningkatkan Rasa Kepedulian Terhadap Tanggung Jawab yang diberikan; Ketiga, Mampu dan mau menggerakan diri dalam kerja kerja Organisasi yang Militan dan Progresif demi tercapainya Greja Mandiri dan Misioner; Keempat, Menyatuhkan kaum muda dari empat Paroki yang ada di Pegunungan Bintang.
Kegiatan Temu Akbar OMK mengusung tema “ Menggapai Bintang Bersama Keluarga OMK” dengan sub tema “Carilah Dauluh Kerajaan Allah dan Kebenarannya, Maka Semua Itu akan ditambahkan bagimu (Matrius, 6: 33)”.
Kegiatan OMK ini dibuka oleh Pastur Paroki Roh Kudus Mabilabol,dan Juga Pastur Deken Dekenenat Pegunungan Bintang, Carolus Kune Boruk. Pr. Dari Pantauan media ini di Tempat kegiatan, peserta antusias mengikuti kegiatan selama 5 hari.
Penulis: Fransiskus Kasipmabin
