5d6387ad5d42d

W. Yuventus Opki

Pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun mengupayakan mengancurkan dan memadamkan isu Papua Merdeka baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan berbagai cara melalui berbaigai program dengan dana yang cukup besar, bahkan melalui pembubaran paksa massa pendemo, menagkap, menahan, mengejar, menghilangkan nyawa rakyat sipil tanpa ada masalah sedikit pun dengan anggapan bahwa Papua sudah final melalui PEPERA dan membungkam ruang demokrasi bagi Rakyat Bangsa Papua, yang begitu semangatnya ingin melepaskan diri dari negara kolonial Indonesia. Bahkan negara Indonesia sedang dan telah menyiapkan milisi orang Papua guna untuk suatu kelak jika Papua merdeka akan ada terjadi perang antara orang-orang Papua sejatih dengan orang-orang papua bikinan kolonial Indonesia.

Bangsa Papua Barat ingin Merdeka bukanlah ikut-ikutan atau mimpi basah di siang bolong, melainkan sebuah sejarah yang membuktikan bahwa Papua sudah merdeka setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. West New Guinea atau Ducth New Guinea pada saat Persiapan Dekolonisasi Papua Tahun 1945 – 1962, Setelah Pasukan Sekutu berhasil memukul mundur pasukkan Jepang dari wilayah Papua Barat, maka administrasi wilayah ini diserahkan kembali kepada Pemerintah Belanda pada tanggal 22 April 1944 di Hollandia.

Sedangkan administrasi wilayah Papua dan New Guinea diserahkan kembali kepada Pemerintah Australia. Penyerahan ini dilakukan karena Jenderal Douglas McArthur berpidato di Ifar Gunung (Hollandia/Jayapura) bahwa setelah selesai perang, maka seluruh wilayah di Pasifik harus Memiliki Pemerintahan Sendiri (Self Government) namun karena Bangsa Papua belum mampu untuk memimpin dirinya sendiri, maka Belanda merasa berkewajiban untuk memajukan wilayah ini sesuai dengan pembagian Administrasi wilayah jajahannya seperti Nederland Indies (Indonesia), Nederland Antillens (Suriname), dan Nederland New Guinea (Papua Barat).

Pembagian Administrasi Provinsi Nederland Niuew Guinea terjadi jauh sebelumnya yaitu pada tanggal 7 Maret 1910 dengan mengangkat seorang Gubernur Jenderal yang bertanggung jawab langsung kepada Kerajaan Belanda dan tidak berada dibawah control Gubernur Jenderal Nederland Indies yang berkedudukan di Batavia atau Jakarta (John Anari, Comp. Eng:Kegagalan Dekolonisasi Dan Ilegal Referendum Di Papua Barat, hal 109 bagian B).

Sejarah tidak bisa ditutupi oleh siapa pun bagi Bangsa Papua karena sejarah sudah jelas-jelas menuliskan bahwa Papua bukanlah bagian dari Nederland Indies (Indonesia). Bangsa ini harus sadar dan menghargai hak-hak suatu bangsa yang dulunya bukan wilayah Indonesia dan saatnya bangsa itu sadar dan ingin mau merdeka di atas negerinya sendiri.

Untuk itu, bangsa Indonesia kembalikan hak hak Orang West Papua dengan secara hormat tanpa ada unsur-unsur plagiatisme, intimidasi dan diskriminatif. Bicara Papua Merdeka bukanlah soal makan dan minum melainkan untuk melindungi dan melestarikan kekhasan budaya dan harga diri suatu bangsa dalam sebua kelompok dengan mengangkat nilai-nilai kemanusian.

Kemudian muncul pertanyaan bahwa kenapa banyak orang di Jawa belum tahu tentang Papua? Selain itu, saya sendiripun ketika sore hari pernah makan di salah satu angkringan yang dimana nasi-nasi itu sering disebut dengan nasi kucing karena bungkusan nasi itu bungkusan sangat kecil, sudah tahu kan?

Kalau selera orang Luar Jawa atau Indonesia Timur, pasti angkat nasi bagaikan pegunungan Kartens Piramid dan itu harus kenyang. Tetapi waktu itu karena lapar, akhirnya saya pesan Es susu putih dan ambil nasi kucing 5 bungkus sekali. Lalu saya makan, tiba-tiba seorang bapa datang duduk disamping saya. Selanjutnya bapak tersebut makan sambil bertanya. Selamat malam pak, Bapak dari Papua? Saya menjawab, Ya saya dari Papua. Lalu bapa ini pun balik tanya,’ Papua itu kaya kan Pak. Kemudian saya diam karena emosi.

Sehubungan dengan hal itu, pertama kali kami ke jogja, dari Jayapura berangkat, transit di Makasar – lanjut transit – jakarta disitu kami tunggu lama sambil pesan makan, ada karyawan Air pot datang menghampiri salah satu teman kami dalam bahasa Inggris begini; Are your from Brazil? Tetapi teman saya jawab dengan bahasa Indonesia bahwa Kami bukan dari Brazil tapi dari Papua pengalaman seperti ini banyak sekali saya jumpai setelah saya di tanah Jawa dan saya kaget kemudian bertanya dalam hati bahwa berarti pantas saja kalau Papua meinta merdeka dari Indonesia dong.

Oleh karena itu, di Indonesia masih ada yang belum tahu tentang Papua, sehingga Indonesia benar-benar gagal meng-Indonesiakan manusia Papua ke dalam NKRI dan yang bisa tahu nama Papua adalah orang-orang Indonesia-Jakarta dalam hal segelintir orang Indonesa yang tahu nama Papua. Hal-hal kecil inilah yang membuktikan bahwa Papua bukanlah Indonesia. Sehingga wajar kalau Papua merdeka diluar Indonesia itu sangat-sangat jelas sekali, ketika rakyat Papua demo negara melarang bahkan membubarkan massa aksi demo di seluruh pelosok tanah air RI (wilayah Kolonial).

Kemudian bagaimana dengan konsep Pemekaran?

Masalah Papua Merdeka menurut orang Jakarta adalah masalah kesejahteraan, ketertinggalan dan ketidak adilan dalam suatu sistem. Kalau kita bertanya satu persatu kepada rakyat Papua, semua program gula-gula mentos yang dibuat oleh pusat kepada pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat, pasti jawaban Rakyat Papua lain dengan apa yang ditanyakan oleh orang-orang Jakarta.

Oleh karena itu, pemekaran bukanlah solusi bagi rakyat Bangsa Papua melainkan membuka lahan-lahan baru untuk kaum bangsa kedar untuk megisap darah dan mengkuras harta karun orang Papua yang disediakan oleh Allah Bangsa Papua Barat. Sebab pemekaran adalah salah satu bentuk pembodohan bagi rakyat Papua oleh pemerintah pusat terhadap bangsa Papua yang dulunya bersatu.

Misalnya program UP4B yang begitu kegila-gilaanya Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat, mengirim putra dan putrinya ke suluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia sampai saat ini, biaya belum terakomodir dari Pemerintah daerah setempat sehingga ada yang terpaksa harus membiayai tempat tinggalya ditanggung sendiri ketika saya menghubungi salah satau mahasiswa yang kuliah di Banda Aceh jurusan peternakan.

Sungguh sangat mengkwatirkan tentang masa depan anak cucu Bangsa Papua Barat di masa akan datang. Oleh karenanya, Mahassiswa sebagai intelektual muda Bangsa Papua Barat, terus bersuara melalui media-media yang baik lokal maupun nasional untuk menolak secara tegas kepada pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat supaya jangan ada terjadi perpecahan diantara orang Papua melalui DOB yang dikeluarkan oleh Presiden Republik Indonesia (RI), Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Desember 2013 silam terkait pemekaran daerah otonom baru (DOB) tersebut. Sehubungan dengan itu, di daerah lain bisa-bisa saja memberikan otonomi baru dan mengadakan pemekaran Provnsi, Kabupaten dan Kampung.

Karena pemekaran bagi Rakyat Bangsa Papua bukanlah kado-kado manis yang harus dibanggakan oleh rakayat Papua melainkan pemekaran adalah bentuk pembodohan dan perpanjangan penderitaan rakyat di atas negerinya sendiri. Karenanya para DPRP dan MRP serta penjabat pemerintah Papua maupun Papua barat, harus jelih membaca apa yang direncanakan dan dirancang oleh orang-orang Jakarta.

Lalu pertanyaannya kemudian adalah bagimana dengan para Pejabat pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota di Papua yang saat ini diam seribu diam di atas penderitaan rakyatnya sendiri? Lalu kemudian para pejabat Papua mencari makan di Jakarta. Sedangkan masyarakatnya sedang menderita karena penyakit, kelaparan, kurang gisi dan sejumlah penyakit lainnya.

Sekali lagi bahwa pemekaran tidak membawa perubahan bagi Rakyat Bangsa Papua Barat. Karenanya pemerintah Indonesia sudah gagal dengan namanya Otsus sekarang UP4B dan Otsus Plus semuanya itu bukan untuk orang Papua melainkan dana – dana sebesar itu hanya untuk orang non Papua khususnya TNI/POLRI KOPASUS guna untuk membunuh dan memusnakan orang asli Papua Barat di atas Tanahnya sendiri sehingga berhenti penipuan yang sedang membodo-bodohi orang Papua.

Bahkan orang Papa sendiri yang masih cari makan dan bentukan kolonial Indonesia barisan Merah Putih segera sadar diri dan tunjukan harga dirimu bahwa saya adalah orang Papua. Karena Papua tidak bisa dibangun oleh orang luar Papua. Seperti sending yang pertama kali mendarat di pulau Papua dan memberikan kabar keselamatan Tuhan Yesus oleh Isac Samul Kinje pada tahun 1925 dengan keadaan yang sangat takut dan Memberkati Papua dengan doanya’’ Dalam nama Tuhan Yesus saya berdoa, Sekalipun orang memilki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak bisa memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit dan Memimpin dirinya sendiri’’.

Doa sang misionaris inilah yang sudah dan sedang terjadi sampai sekarang. Sehingga sekalipun orang Indonesia yang memilki kepandaian tinggi,akal budi dan marifat dengan gelar yang begitu menggila dunia, bangsa Indonesia seratus persen tidak akan membangun Papua melainkan yang ada korupsi dan banyak hutang di luar negeri ibarat tutup lobang gali lobang.

Dalam Kitab Ulangan, 28:33 dan 38 disana mengatakan bahwa: Ul, 28:33’ Suatau Bangsa yang tidak kaukenal, akan memakan hasil bumimu dan segala hasil jerih payahmu;engkau akan ditindas dan diijak. Ayat 38 banyak benih yang akan kaubawah ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kaukumpulkan, sebab belalang akan menghabiskannya’’.

Kekayaan yang begitu melimpah rua, Bangsa Papua miliki hasil bumi; tambang emas, nikel, uranium, hasil bumi lautan semuanaya dikuasai asing.  Orang Asli West Papua hanya mendapatkan sisa, atau sedikit. Lalu pertanyaannya adalah masih ada harapan ka Bangsa Papua hidup dalam NKRI? Kalau penderitaan ini masih terus terjadi, Bangsa Papua seharusnya mengadu kepada siapa untuk menentukan nasipnya sendiri? Akankah terus menjadi bayang-bayang di atas bukit emas?

 

Penulis Adalah Alumni  Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *