Barang Supsidi dan Peluang Usaha Bagi OAP Di Pegunungan Bintang

0
20200703_090819

Robby Y. Wasini, di Gudang Beras Oksibil, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

OLEH ROBBY Y. WASINI

TRIBUNPAPUA.ID—Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang terbit di www.tribunpapua.id pada tanggal 11 Juli 2020. Pada Artikel ini akan membahas factor factor yang mempengaruhi Penjualan maupun pembelian Barang supsidi bagi OAP di Oksibil Pegunungan Bintang dan solusi peluang bisnis bagi OAP Pegunungan Bintang.

Faktor Faktor Yang mempengaruhi Jual Beli Barang Barang Supsidi Bagi OAP Pegubin di Oksibil

Beberapa factor yang mempengaruhi jual beli barang Supsidi bagi OAP  Pegunungan Bintang di Oksibil. Salah satu faktor yang menonjol sekali yaitu faktor Modal Financial (uang) dan diikuti oleh faktor-faktor yang lain.

Orang pendatang datang dengan kekuatan modal uang yang lebih banyak dikarenakan rata-rata di Oksibil yang punya kios, toko, warung makan, ruko dan sales sembako semuanya milik masyarakat amber.

Orang pendatang datang belanja barang dengan kekuatan modal financial yang besar dibanding masyarakat asli yang rata-rata modal financial yang relatif rendah karena masyarakat hanya mengandalkan modal jualan hasil bumi. Masyarakat Asli belanja subsidi untuk keperluan makan minum setiap hari.

Faktor lain adalah muatan barang. barang subsidi dilayani dengan pesawat jenis kecil jadi muatan barangpun terbatas kemudian jumlah pembeli meningkat jadi pendapatan barang hasil pembelanjaan per individu hanya bisa membawah satu atau dua jenis barang dari tempat pembelanjaan barang subsidi.

Faktor berikutnya  adalah sekalipun orang asli membuka kios atau memiliki usaha sembako dan menyediakan barang sembako namun pembeli orang asli lebih senang belanja di kios, toko orang amber dibanding kiosnya orang asli Papua.

Kemudian, Faktor lainnya adalah orang asli lebih senang membagi-bagi uang. maksudnya adalah ketika orang asli memperoleh uang banyak maka uang tersebut kadang dibagi-bagi begitu saja kepada siapa saja yang dia kenal maupun sesama keluarganya.

Kenyataan dari faktor diatas dapat kita jumpai di kota Oksibil bahwa ruko, toko, kios sembako semuanya milik masyarakat amber dibanding orang asli. sekalipun orang asli punya ada namun hanya terhitung dan sebagian hanya mereka-mereka yang punya CV.

Faktor-faktor diatas inilah yang kadang kala mempengaruhi kemajuan dan kemunduran manfaatnya usaha-usaha perdagangan barang sembako yang berlabel subsidi di Oksibil sehingga pembeli antara orang asli dan orang amber terkadang puas dan terkadang disaat tidak puas seringkali melampiaskan emosinya dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar pada waktu proses penjualan berlangsung.

Ketika Pengusaha Pendatang Titip Uang Belanja Barang Supsidi

Pedagang-pedagang pendatang antrean lebih banyak,  maka mama-mama maupun bapak-bapak orang asli sering melontarkan dengan ungkapan “ Barang subsidi hadir di Oksibil bukan untuk pendatang tetapi untuk kami orang asli jadi kamu tidak usah belanja disini, biarkan kami orang asli belanja sampai habis dan sisa barang yang kami kasih tinggal itu yang kamu belanja karena kami datang belanja hanya untuk makan sedangkan kamu (pendatang) datang belanja untuk kembali jual lagi dengan harga mahal”.

Ungkapan ini yang seringkali dapat dilontarkan oleh orang asli kepada pedagang amber dan memang benar adanya tujuan hadirnya barang subsidi adalah untuk masyarakat asli namun realita di lapangan orang asli hanya koleksi beras sedangkan barang lain hanya satu-dua orang saja yang belanja, itu pun hanya membeli satu atau dua jenis barang.

kemudian sekalipun penjualan biasanya mengutamakan orang asli tetapi pedagang-pedagang orang amber (pendatang) biasanya menitipkan uang kepada orang asli untuk membantu membelikan barang saat proses penjualan berlangsung.

Ketika petugas bertanya apakah barang yang kamu beli itu untuk makan atau dititip oleh pedagang amber maka seringkali mengaku untuk makan padahal barang yang dibeli itu titipan dari pedagang pendatang.

Setiap kali pesawat cargo masuk di Oksibil tentunya muatan barang milik pedagang amber. Mereka memperoleh keuntunggan modal besar dengan hasil penjualanya dibanding orang asli yang hanya mengandalkan modal jualan hasil bumi.

Sebetulnya modal hasil bumi bisa saja berkembang dan mendapatkan modal yang banyak asalkan pedagang asli pintar-pintar dalam mengelolah manajemen keuangan dengan benar dan lakukan secara berkelanjutan.

Misalnya ketika hasil bumi habis terjual maka hasil itu bisa dapat belanja sembako yang berlabel subsidi kemudian jual kembali. Selanjutnya lakukan lagi dengan cara yang sama terus-menerus pastinya akan memperoleh hasil dua kali lipat dari sebelumnya, yaitu peroleh hasil dari penjualan hasil bumi dan hasil penjualan barang sembako.

Bagaimana Memulai Usaha Dari Barang Supsidi di Oksibil Pegunungan Bintang

Beberapa alternatif yang perluh di lakukan orang asli Pegunungan Bintang agar perbedaan dan faktor-faktor yang mempengaruhi antara pedagang asli dan pendatang tersebut diatas dapat dikurangi,  saya dapat menganjurkan beberapa alternatif sebagai solusi.

Barang subsidi sebenarnya sangat bermanfaat bagi masyarakat asli, kalau masyarakat asli menggunakan peluang tersebut untuk mengembangkan usaha berdagang sembako.  Harga-harga barang Supsidi relatif lebih murah. Cara memulai usaha berdagang sembako tidak harus menunggu hingga mempunyai modal uang yang banyak baru memulai,  namun dengan cara belanja satu atau dua jenis barang kemudian jual kembali dan simpan bunganya lalu kembali belanja lagi dengan modal awal.

Cara ini berputar terus-menerus pasti juga akan memperoleh modal uang yang besar. “Sedikit demi sedikit pasti menjadi bukit”. ungkapan ini memiliki arti yang sangat menginspirasi bagi orang-orang bisnis untuk memulai mencoba. orang-orang sukses sekalipun mereka awalnya memulai dari hal-hal yang kecil dengan mengandalkan modal yang kecil bahkan dengan tanpa modal.

Oleh karena itu,  orang asli Pegunungan Bintang kalau peluang adanya barang subsidi ini dimanfaatkan dengan baik lalu memulai dengan membuka usaha-usaha berdagang sembako dan terus-menerus menggeluti di dunia usaha maka suatu saat orang asli pun bisa sama dengan orang-orang amber (pendatang) bahkan bisa dapat mengalahkan mereka.

Membangun BUMDES  di kampung kampung. Pemerintahan Kampung perluh memanfaatkan peluang barang subsidi ini dengan memperkuat BUMDES. BUMDES sudah harus difungsikan karena poros ekonomi suatu kampung ada di situ. Kepala-Kepala Kampung harus bermitra dengan Direktur Subsidi untuk pembelanjaan barang-barang berlabel subsidi demi menghidupkan dan memperkokoh kemajuan ekonomi masyarakat kampung.

Pola-pola yang selama ini gunakan adalah belanja hanya sebatas untuk makan itu sudah harus di rubah menjadi belanja barang untuk dijual kembali. karena kebiasaan belanja barang sebatas untuk makan itu mematikan daya saing usaha berdagang antara masyarakat amber dan masyarakat asli.

Dinas Badan yang menangani tentang perdagangan harus memberikan edukasi tentang cara berdagang kepada orang asli Pegunungan Bintang secara berkelanjutan demi kemajuan pengembangan pedagang-pedagang sembako asli Pegunungan Bintang.

Orang asli Pegunungan Bintang yang mempunyai jiwa-jiwa usaha berdagang sudah harus mematikan sisi perasaan belas kasihan, karena hal itu akan membuat usaha akan bangkrut.

Kenyataan bahwa ketika satu atau dua orang asli sukses dalam bidang usaha bisnis ataupun menjadi PNS, pasti semua orang akan berharap dan bergantung pada mereka untuk mendapatkan uang. dengan demikian rantai ketergantungan selalu tumbuh subur akhirnya menjadi satu kebiasaan sosial yang berlangsung lama oleh karena itu kebiasaan seperti ini perlu di rubah.

Perluh belajar banyak dari pedagang-pedagang amber (pendatang) tentang bagaimana memulai berdagang terutama usaha sembako.

Pedagang-pedagang amber memiliki usaha dimana-mana dan tanpa putus asa mereka menggeluti dalam berdagang. Makan seadanya dan hidup seadanya, yang penting kita harus pintar cari uang.

Untuk mencari uang dengan cara bisnis,  anak anak harus diajari mulai kecil untuk kemudian menjadi mental usaha. Semoga!

 

Penulis: Robby Y. Wasini, Karyawan PT. BCL Cargo Papua, sehari harinya mengangkut Barang Supsidi di Oksibil

Editor: Fransiskus Kasipmabin 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *