Hendak Melakukan Rapid Tes, Tim Covid-19 Pegubin Ditolak Masyarakat

0
IMG-20200701-WA0011

Yermias Tapyor S.KM, Ketua Tim Covid-19 Pegunungan Bintang. Dok. Tribunpapua.id

OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID–Tim gugus tugas percepatan penanggulangan virus Corona atau disebut Covid-19 kabupaten Pegunungan Bintang selama sosialisasi dan kegiatan Rapid Tes di wilayah distrik Kalomdol, Oksibil dan Serambakon diwarnai protes dari masyarakat setempat.

Selama dua minggu lebih Tim Covid-19 melakukan Rapid Tes di 6 titik, antara lain Okpol, Okmakot, Mabilabol, kabiding, pasar baru Mimalkatop dan kampung Tulo. Namun, tiga tempat tidak berhasil, soalnya ditolak masyarakat setempat.

Bagaimana Alasan Masyarakat Tolak Kedatangan Tim Covid-19?  

Semenjak Tim Covid-19 dibentuk pemerintah daerah Pegunungan Bintang, masyarakat di wilayah Pegubin menolak kerja kerja tim Covid-19 yang dibentuk oleh pemda tersebut. Mereka menilai Tim Covid-19 di tingkat kabupaten sudah tiga kali pergantian ketua, akibatnya kerja kerja Tim Covid-19 tidak maksimal.

Kemudian, pada tanggal 13 Mei 2020, bupati Pegunungan Bintang, Costan Oktemka, S.IP menyatakan Pemda anggarkan 21 Miliar untuk perangi Covid-19. Sumber dana ini dianggarkan dari APBD Kabupaten Pegubin. Namun realisasi Anggaran tidak Nampak,bisa dilihat dari kerja tim yang tidak terorganisir, penyediaan APD bagi warga masyarakat, Alat medis selalu kurang, kekurangan tenaga dokter dan lainnya.

Menurut MB, kepada media ini mengatakan selama kerja kerja Tim,  semenjak terbentuknya sampai dengan bulan Juli belum ada kejelasan dari Tim Covid-19 kerja dan hasilnya bagaiaman. Belum ada keterbukaan Informasi publik terkait penggunaan dana Covid-19 Di kabupaten Pegunungan Bintang.

Selain itu, ia mengatakan bantuan sosial tunai langsung dari pemerintah daerah belum ada. Walau sudah dilockdown sampai saat ini Pemda Pegunungan Bintang belum memberikan bantuan tunai langsung (BTL), maupun bantuan sosial pangan, seperti beras, sembako dan lainnya.

“Yang kami tahu itu Bantuan Tunai Langsung yang bersumber dari Dana Desa (DD) dan Bantuan sosial langsung (BSL) dari kampung, sedangkan dari Pemerintah daerah Pegunungan Bintang sampai dengan bulan Juli ini belum ada”katanya kepada media ini pada tanggal 2 Juli 2020.

Target Tim Covid-19: Pertahankan Pegubin Zona Hijau di Papua  

Semenjak virus corona muncul di Wuhan dan menyebar ke seluruh dunia hingga di Papua, Pegunungan Bintang belum ada kasus yang ditemukan. Menurut statistik, Pegunungan Bintang masuk dalam wilayah zona Hijau.

Melki Pimkan Uropmabin, salah satu tokoh pemuda Oksibil mengatakan Pegunungan Bintang harus pertahankan zona Hijau, dengan cara semua orang harus melakukan Rapid Tes, isolasi diri di rumah masing masing, pertahankan imun tubuh supaya tidak terserang virus Corona.

“Untuk mempertahakan Pegunungan Bintang dalam Zona Hijau, pemda anggarkan danah lebih untuk tim Covid-19 bekerja keras, melengkapi semua alat medis, datangkan tenaga dokter, semua warga Pegunungan Bintang patuhi Protap kesehatan”ucapnya kepada media ini di Oksibil.

Sementara itu, ketua Tim Covid-19 Yermias Tapyor mengatakan semua warga mau tidak mau,  suka tidak suka RDT wajib dilakukan guna memastikan pegubin kini berada di zona mana dari ancaman pandemi virus corona yang kini sedang merebak dari barat ke timur indonesia ini.

“Untuk memastikan zona di wilayah Pegubin Tim Gugus Covid Pegubin terus melakukan berbagai upaya  untuk melakukan RPD bagi masyarakat yang ada di wilayah Pegunungan Bintang,  terutama  distrik Oksibil, Kalomdol, Serambakon dan OkAom”ucap Yermias Tapyor.

Walau tim sudah bentuk dan bekerja sosialisasi tidak maksimal, karena masyarakat menolak di 4 tiitik. Mosi tidak percaya warga terhadap tim Covid-19 Pegunungan Bintang meningkat. Akibatnya beberapa hari lalu, warga serang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Oksibil.

Pencegahan Corona Virus Dalam Tradisi Suku Ngalum Pegunungan Bintang

Dalam rangkah mencegah virus Corona, semua elemen masyarakat terlibat memerangi terhadap Virus ini. Selain Pemerintah daerah, Agama dan Lembaga Adat pun ikut berpartisipasi dengan cara masing masing.

Dewan Adat Aplim Apom Sibilki misalnya mengintruksikan kepada seluruh Ap Iwol untuk melakukan ritual guna mencegah mewabahnya Corona di wilayah kerja Lembaga Adat Aplim Apom Sibilki.

Yohanes Kakyarmabin, Sekjen Dewan Aplim Apom Sibilki belum lama ini mengintruksikan kepada semua masyarakat Adat melakukan ritual adat di Ap Iwol Masing Masing dari Tepin Aip sampai Telepomin Pegunungan Bintang.

Di Pegunungan Bintang, Ap Iwol masing masing melakukan ritual, menurut pantauan media ini di Oksibil dan sekitarnya ada beberapa titik yang melakukan Ritual. Seperti di Ap Iwol Banumdol dan Kutdol, Ap Iwol Beta Abib, di kamung Dabolding, distrik Kalomdol, kampung Arinkop dan lainnya.

Dalam keterkaitan dengan virus corona itu, mari kita simak pandangan orang Iwol Betaabip. Menurut mereka  virus  sejenis tersebut dahulu pernah ada di Pegunungan Bintang, sekitar akhir tahun 1970an.

Masyarakat adat setempat menyebutnya dengan sebutan Kolme. Kolme merupakan sejenis virus korona yang menyebar  dengan cepat untuk menemukan dan mematikan inangnya (orang). Virus korona atau kolme pada saat itu memakan korban sekitar puluhan bahkan ratusan orang di wilayah Pegunungan Bintang. Hal tersebut di sebabkan karena belum adanya ketersediaan  tenaga medis dan obat-obatan dan alat pembantu lainnya.

Belajar dari cara penyebaran corona saat ini, masyarakat adat setempat meyakini bahwa Corona adalah Kolme dalam bentuk dan nama berbeda. Ibarat sebuah produk yang sama namun beda kemasan.

Oleh karena itu,  virus Corona dianggap orang Ngalum sebagai sebuah makluk pencabut nyawa yang di turunkan oleh atangki (Allah versi suku Ngalum) sebagai salah satu bentuk teguran.

Cara pandang ini bertitik tolak dari kepercayaan orang Ngalum secara turun temurun yang meyakini bahwa setiap wabah yang menimpa mereka merupakan hukuman sang Atangki sebagai akibat dari kesalahan komunitas adat.

Menilik jauh ke belakang, saat Kolme menyerang orang Ngalum yang gejalanya mirip Corona Virus ( Covid 19) ini, masyarakat adat  berhasil memutuskan rantai penyebaran dengan upacara atau ritual adat.

Sejak dahulu kala upacara adat  merupakan satu-satunya solusi alternatif untuk menyelamatkan manusia. Acara adat di lakukan dengan cara bakar batu. Bakar batu merupakan salah satu tradisi masyarakat Ngalum  dalam menanggulangi wabah penyakit  yang membahayakan manusia dan kesuburan ternak serta tanaman.

Dengan demikian, untuk mencegah penyebaran wabah virus covid 19, masyarakat di beberapa Iwol (rumah adat) telah  melakukan  upacara adat dalam upaya perlindungan diri dari serangan virus Corona.

Masyarakat setempat  menyiapkan seekor babi sebagai suatu bentuk persembahan terhadap Sang Maha Pencipta Alam Semesta atau warga setempat menyebutnya Atangki.

Masyarakat Adat Ap Iwol Betaabib  menyakini bahwa dengan cara seperti ini mampu mengusir  wabah menular yang membahayakan nyawa manusia. Masyarakat dari setiap iwol melakukan acara adat sebagai tradisi yang di wariskan oleh nenek moyang sesuai dengan kaidah dan norma yang berlaku.

Masyarakat Adat melakukan ritual guna mencegah Corona Virus di wilayah Pegubin. Sebab, Tim Covid-19 terlambat melakukan upaya upaya penanganan.

Yermias Tapyor mengatakan, walau selama tim Covid-19 bekerja masyarakat ada yang pro dan kontra tapi itu bagian evaluasi bersama. “Untuk itu saya menghimbau kerja sama smeua pihak, ikuti arahan pemerintah”ucapnya.

“Demi keselamtana kita bersama, Tim Covid-19 melaksanakan  tugas dan kewajibannya” terang Yermias.

Menurut  ketua Tim  covid dan juga Kepala Dinas Kesehatan Pegunungan Bintang itu, kami baru diberikan mandat oleh bupati pegubin, pada pertengahan bulan juni dan waktu kerja efektif kami ini baru 2 minggu kami bekerja.

“Memang saya akui, bahwa saya ketua Tim yang baru diangkat. Sebelumnya 2 kali pergantian, saya ketua tim yang ke 3”ucapnya.

Menurutnya tujuan kami sama, namun  kami tim covid kali ini adalah melakukan pengamanan di wilayah perbatasan dan memastikan pegubin berada di zona mana.

Nah untuk memastikan zona itu tahapan yang kami harus lalui adalah, melakukan RDT secara massal kepada seluruh masyarakat di dalam ibu kota maupun di wilayah perbatasan antara negara maupun antar daerah.

Dirinya juga menambahkan setelah melakukan RPD dan memperoleh hasilnya barulah kami akan melakukan upaya dan langkah selanjudnya, sebab tanpa menemukan di zona mana kita berada tentu upaya yang di lakukan akan sia-sia, beber ketua Tim Covid kepada media ini, tanggal 1 Juli 2020 lalu.

 

Reporter       :  Aqunio Ningdana, Timo Aomsen

Penulis          : Melki P. Uropmabin

Editor             : Fransiskus Kasipmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *