Belajar Dimulai Dari Rumah
Anak Anak Mengikuti Pendampiangan Penggerak PIDIMA, Okpol Pegunungan Bintang, Dok. W. Yuventus Opki Untuk Tribunpapua.id
OLEH W. YUVENTUS OPKI
TRIBUNPAPUA.ID—Bagi manusia, pendidikan sangat penting. Tanpa ada pendidikan, manusia akan sulit mengerti tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Dalam pendidikan, juga akan mengerti akan fenomena alam, sifat-sifat manusia, dan lain sebagainya. Pendidikan, tidak hanya kita berpikir untuk menyekolahkan anak di bangku sekolah tetapi, banyak hal yang bisa pelajari yang disebut dengan pendidikan.
Misalnya, pendidikan non formal. Ketika orang melakukan keterampilan mengukir sebuah karya berupa lukisan, anyaman, membuat mebeler dan sebagainya. Kegiatan itu merupakan bagian dari proses pendidikan yang dapat diaktualisasikan melalui tindakan kerja (action work) sekaligus mengembangkan pengetahuan keterampilan (Skill Knowledge).
Namun demikian, siring berjalannya waktu dengan perkembangan budaya global, manusia diwajibkan dalam membangun pendidikan yang menjiwai suatu tindakan moral yang menuju pada etika alam sadar yang memberikan sumbangsi rasa aman, nyaman, dan menciptakan kedaan yang pro aktif memberikan sifat kemanusiaan yang memberi rasa aman dan membawa keuntungan bagi individu, kelompok, komunitas, dan lembaga tertentu.
Pendidkan modern saat ini, dengan berkembangnya teknologi, memanjakan budaya kekinian, sehingga masa depan anak-anak dipertanyakan. Kenapa? Karena dengan majunya teknologi dan pengaruhnya media social, daya kreatif anak sangat melemah oleh karena faktor medi sosial, seperti facebook, twiter, instagram, WeChat, VidMate, dsb. Saya melihat kebanyak anak-anak (generasi sekarang), lebih berfokus pada aktivitas media sosial daripada , melakukan aktivitas bersama keluarga, sangat kurang.
Oleh sebab itu, saya rasa penting membangun pendidikan mulai dari rumah. Pendidikan yang dimaksud ini, dimulai dari lingkungan sekitar, yang sederhananya adalah keluarga di rumah.
Orang tua mendidik anak tentang etika dalam sopan santun. Selain itu, pendidikan yang dibangun mulai dari rumah adalah melalui kegiatan belajar bersama (BIMBEL). Kegiatan bimbingan belajar adalah membantu mencerdaskan anak dari rumah. Ada beberapa faktor yang menghambat anak-anak malas sekolah, tidak cepat membaca, menulis di sekolah, yaitu;
Pertama; factor Orang tua. Orang tua yang tidak pernah mengatur waktu dalam membantu anak belajar bersama di rumah. Situasi dan kondisi melihat, bahwa orang tua lebih memilih melakukan aktivitasnya sendiri.
Salah satu aktivitas yang menjadi ketidak fokusan orang tua mendampingi anak belajar di rumah adalah kegiatan judi togel (sio) dan putaran. Bahkan, yang paling buruk dari tindakan orang tua, terhadap anak adalah menyuru anak pergi membelikan sio di Bandar. Sebenarnya, hal itu, sangat membunuh karakter anak oleh orang tua sendiri.
Di lingkungan saya tinggal, banyak orang tua yang lebih memilih melakukan kegiatan mereka ke aktivitas sio setiap hari. Ya. Mereka tetap akan bekerja di kebun, tapi…dalam pikiran mereka pasti ingat sio. Jadi, sehabis pulang dari kebun, mereka cepat ke tempat sio. Cek angka berap yang main/keluar. Nah, sementara, anak-anak dibiarkan mereka main sampai malam.
Akibat dari kegiatan tersebut, saya tergerak hati dan kemudian mencoba membentuk satu Komunitas Bimbingan Belajar (KBB) dengan nama Komunitas Gerakan PIDIMA (KOG-PIDIMA), untuk mengajar anak-anak dari lingkungan rumah.
Selama tiga hari adakan bimbingan belajar bersama anak-anak SD mulai dari kelas I (satu) – kelas (VI), ada siswa kelas IV dan V yang belum mengerti tentang EYD ( Ejaan Yang Disempurnakan). Oleh sebab itu, saya mengajak adik-adik dari SMA sebagai guru bimbingan belajar di Komunitas PIDIMA kami bergerak bersama-sama mengajar anak-anak agar mereka lebih mantap lagi.
Menurut anak-anak saat bimbingan belajar, bahwa, “kami belajar di rumah bersama kaka-kaka itu bagus dari pada di sekolah. Karena di sekolah kadang guru pukul kami. Jadi kami senang belajar di rumah bersama kaka-kaka”.
Melalui kegiatan bimbingan belajar tersebut, kami juga melihat perkembangan anak-anak lebih cepat memahami dan mengikuti pelajaran yang kami ajarkan seperti, bahasa, matematika, cerita dongeng, bermain kata.
Bahasa lokal (daera) menjadi faktor pendukung bagi anak-anak lokal untuk mudah mengerti dan cepat merespon setiap pertanyaan kami. Oleh karena itu, ada kesadaran dari orang tua untuk menggunakan bahasa ibu di rumah. Sebab bahasa ibu adalah bahasa pertama yang digunakan oleh manusia setelah bahasa asing (bahasa Indonesia, bahasa Inggris).

Factor kedua; adalah faktor pengaruh lingkungan. Akibat dari gesekan pengaruh lingkungan, baik dari eksternal maupun internal. Eksternal, adalah anak tidak fokus belajar, yaitu budaya sinetron, medsos, Gadget, dsb. Internal, adalah kurang keterbukaan orang tua membangun komunikasi, menasihati, dan mempengaruhi hal negative sehingga anak juga memiliki rasa takut, tidak nyaman untuk bergaul bebas melakukan aktivitas yang bersiafat membangun untuk masa depan anak itu sendiri.
Melihat persoalan itu, saya dan adik-adik SMA membentuk satu komunitas untuk mengumpulkan adik-adik di alam bebas adakan kegiatan bimbingan belajar. Satu hal yang menjadi dasar utama manusia adalah menjaga integritas diri dan mengintegrasikan diri untuk serius melihat dan mendidik manusia tanpa rasa lelah. Sebab beradapan antara manusia dengan manusia, memiliki sifat dan watak yang berbeda.
Dalam gerakan Komunitas PIDIMA, kami melihat dari fenomena lingkungan sekitar yang melihat sifat manusia yang terpecah belah dalam satu wilayah dengan memiliki empat kampong dengan solidaritas kerja sama yang runtuh karena faktor kecemburuan dari dalam lingkungan.
Kami Komunitas Gerakan PIDIMA bertjuan untuk mulai membangun kebersamaam, solidaritas warga empat kampung ini harus menjadi bersatu walaupun secara pemerintahan beda DPA. Melalui Komunitas ini, berusaha mempererat tali persaudaraan agar mendidik anak-anak dari rumah untuk mengartikan tentang pendidikan, hidup masa depan yang baik dan menjaga, melestarikan, tanah serta kekayaan alam yang diberikan Tuhan dan ditinggalkan oleh nenek moyang orang Pegunungan Bintang khususnya dan Papua pada umumnya.
Filsuf Thomas Hobbes, pada dasarnya manusia berwatak saling memangsa. Homo homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lain. Namun dalam pandangan seoarang Driyarkara berbeda dengan Hobbes, yaitu pada dasarnya manusia berwatak saling menolong, mengormati, dan menopang. Artinya manusia adalah sahabat bagi manusia lain. Diryarkara menyadari bahwa memang ada realitas yang keras dan penuh pertentangan dalam sejarah manusia, tetapi menurutnya itu bukan pokok. Yang poko di mata Diryarkara adalah sebenarnya manusia itu baik, manusia itu si suka menolong , bahkan suka memandang satu sama lain sebagai ‘’teman seperjalanan’’ dalam ziarah kehidupan.
Homo Homini socius, menurut Diryarkara. Manusia adalah sahabat bagi manusia lain. Dalam kata-kata Mudji Sutrisno, seorang Murid Driyarkara: bahwa Homo Homini Socius: manusia adalah kawan kawan bagi sesamanya, kawan yang membantu menjadi semakin manusiawi dan kawan yang ikut mengantarkannya menuju ke pusat hidup manusia, yaitu Tuhan.
Menyimak pikiran Diryarkara, manusia sebagai teman bagi sesama, dalam Komunitas Gerakan PIDIMA ingin mencoba membangun hubungan relasi yang baik bersama masyarakat melalui kegiatan bimbingan belajar bersama anak-anak di lingkungan.
Sebenarnya, tidak gampang untuk menyatuhkan manusia satu dengan manusia lain karena setiap manusia punya sifat-sifat, tingkah laku dan watak yang berbeda. Oleh sebanya, kita harus secara perlahan mempengaruhi masyarakat melalui bentuk kegiatan BIMBEL yang dijalankan. Komunitas Gerakan PIDIMA adalah sala satu bentuk komunitas yang dibuat untuk mengajar anak-anak SD setiap sore pada hari Senin-Rabu-Jumat di alam bebas. PIDIMA adalah kepanjangan dari ‘’Pinong Dipyopmai’’ (Bahasa Ngalum), artinya ‘’satu pikiran satu jiwa’’.
Jadi Komunitas ini berusaha mempengaruhi masyarakat melalui kegiatan BIMBEL anak-anak di rumah untuk mereka (orang tua) semakin sadar dan mendidik anak serta antarkan anak-anak ke tempat bimbingan belajar yang sedang kami jalankan di lingkungan.
Dengan kegitan ini masyarakat bersatu focus berjuang menciptakan sumber daya manusia dari Desa atau kampung-kampung untuk kota. Dengan menghilangkan rasa ego, iri hati, dan cemburu di lingkunagn sekitar. Membangun pendidikan mulai dari rumah adalah lebih melihat jiwa manusia secara langsung untuk memberikan motivasi hidup yang tidak merugikan satu sama lain.
Penulis: W. Yuventus Opki, Pembina Komunitas Gerakan PIDIMA
