Krisis Pemimpin Yang Pro Kepada Pengusaha OAP di Pegunungan Bintang (Bagian III-Selesai)

0
IMG-20200608-WA0061

Nampak Bangunan Ruko yang baru dibangun di Oksibil, Dok. Yuventus Opki Untuk Tribunpapua.id

Mandiri secara Ekonomi. Orang Asli Papua (OAP) di Pegunungan Bintang mandiri secara ekonomi. Cita cita ini dapat realisasi ketika para pejabat Papua kelas menengah ke atas, yang berprofesi sebagai ASN, Politikus, pengusaha bergerak bersama membuat satu sistem ekonomi yang pro terhadap OAP. Sistem Ekonomi yang bisa produksi barang dan jasa, membangun pabrik pabrik untuk produksi kebutuhan dasar manusia OAP, kelola potensi SDA yang ada di tanah Papua ini.

Namun sampai dengan saat ini para elit daerah, tidak berani anggarkan dana untuk membangun pabrik pabrik yang bisa menghidupi masyarakat Papua. Peran Sentral Pemimpin daerah mendorong ekonomi yang produktif itu penting. Para bupati harus berperan aktif dalam memajukan masyarakatnya di bidang ekonomi.

Ada satu istilah yang dipakai orang India, yaitu Niti. Niti adalah salah satu istilah ‘’Sankrit’’ yang berarti kebijakan. Kebijakan yang secara harafiah berarti sikap dan tingkah laku yang tepat (policy). Niti (Sankrit) bagi India, adalah kebijakan yang ditetapkan oleh Raja sebagai model atau panutan bagi komunitas demi suatu sukses di tengah segala macam bahaya di dunia. Nah, itu di India.

Bagaimana dengan Orang Pegunungan Bintang?

Yang saya sedih adalah dalam situasi secara keseluruhan roda pemerintahan di Kabupaten Pegunungan Bintang telah hancur. Hancurnya adalah mulai kehilangan krisis kepemimpinan, ketokohan, kekadernisasian sehingga tak ada satu person yang berdiri menjadikan liderator untuk memeluk seorang anak yang merayap di atas debu tanah sambil menangis memanggil senja baru.

Kondisi serta realita menunjukkan, bahwa sikap dan mental seorang pemimpin di negeri berdongeng ‘’BINTANG’’ telah jatuh dan mati. Siapa yang berani mempertaruhkan nyawahnya demi rakyat atas tanah Aplim Apom?

Nah orang politik terjun ke bisnis, orang sosialis terjun ke bisnis, para birokrat terjun ke bisnis, hanya untuk memenuhi kepentingan diri sendiri. Pegunungan Bintang menjadi abu-abu. Kita orang Pegunungan Bintang, harus belajar dari teman-teman di wilayah II tepatnya di Distrik Kiwirok dan sekitarnya, roda ekonomi hanya dipegang oleh masyarakat asli Kiwirok.

Contoh lain, adalah Bapak Matius mayor. Beliau memiliki sebuah tempat penginapan di Yandebabo, sebuah pulau milik keluarganya di Raja Ampat, Papua Barat. Berbekal modal sedikit yang dimilikinya, ia membangun kamar-kamar dan hingga kini pada 4 barak dengan 9 kamar. Bapak Matias sempat ditawarkan oleh investor asing untuk bekerjasama, tetapi ia tolak keras. Sebab, ia tahu bahwa bekerjasama denagn investor asing hanya akan menguntungkan mereka daripada pemilik tempat (bapak Matias Mayor).

Ia berpikir demikian karena, Bapak Mayor ingin menjadi tuan di negeri sendiri (Master of Our Land), dikutip dari dokumen Papuan Voices (2014), sehingga alam dan ciptaannya serta tanahnya dikerjakan oleh dia sendiri dan nikmati oleh beliau sendiri. Maka ia menolak tawaran investor asing untuk kerja.

Dari pengalaman itu, saya usulkan kepada Anda dan saya, kepada kita OAP. Pegunungan Bintang bahwa; Pertama, Kepada pemerintah; bijaksanalah dan berpikirlah kepada rakyat. Berani Anda mengambil resiko sebagai pemimpin. Berusahalah menjadi binatang bunglon di setiap saat dan merakyat. Kedua, Stop memberikan peluang kepada orang pendatang untuk mengusai ekonomi dan memarjinalkan pedagang local (Orang Asli Pegunungan Bintang).

Ketiga, Anda dan saya bicara kepentingan ekonomi atas rakayat Pegunungan Bintang; buka ruko untuk Anda sendiri dan jadi pelaku ekonomi sendiri di negeri anda sendiri supaya anda lanjut usia. Orang asli yang bangun ruko, bisakah Anda buka rental foto copy sendiri? Pasti Anda bisa. Buka saja. Dimana-mana, para penjajah kapitalis menjajah suatu bangsa karena kepentingan ekonomi. Jika kita OAP kuat dalam ekonomi, maka penjajah akan keluar secara terhormat dan pulang ke negeri asalnya.. percaya atau tidak, ya. Cobalah.

Keempat, Bicaralah atas kepentingan umum dan tanggalkan kepentingan pribadi. Seketika Anda memberikan ruang kepada orang pendatang, dan ia mengusai segala lini di atas tanah Anda, maka Anda akan jatuh miskin dalam tuju turunan. Kelima, Kepada generasi masadepan bangsa Aplim Apom. Lupakan egois, sukuisme, daerahisme, kampungisme di atas tanah Aplim Apom. Orang Pegunungan Bintang adalah satu.

Keenam, Anda mengharapkan pada upah kontrakan, Anda sedang menciptakan ketergantungan. Gen Anda meneruskan keturunan Anda menjadi keturunan ketergantungan. Pada akhirnya, keturunan Anda menciptakan budaya malas kerja. Sebab setiap zaman, tidak akan pernah sama dengan periode masa hidup Anda dan saya. Lagipula, setiap zaman selalu akan berubah zaman. Berpikirlah dan bijaksanalah dalam mengatur ritme kehidupan Anda dan saya sepanjang hidup ini.

Ketujuh, Tanah Aplim Apom adalah Milik Orang Pegunungan Bintang. Anda sendiri bekerja, memupuk tanaman-taman, dan Anda sendiri menuai setiap hasil yang Anda dan saya, kita petik. Jangan tanam lalu biarkan elang dan burung gagak merampas dan mengambilnya dan engkau pulang dengan tangan hampa (kosong). Tuhan berikan kepada Anda dan saya untuk kita kerja memanusiakan manusia Aplim Apom terlebih dahulu.

Kedelapan, Di Pegunungan Bintang, tidak hanya suku Ngalum, Suku Murop, dan Suku Ketengban. Tapi, masih ada banyak sub-sub suku kecil yang mendiami seluruh negeri bumi Pegunungan Bintang. Oleh karena itu, kita harus belajar budaya masyarakat Pegunungan Bintang. Libatkan akademisi, intelktual, agar melalui kajian Antropologis, Sosiologis, Linguistik untuk melakukan kajian secara akademis untuk mengetahu karakter, sifat-sifat, psikologis, masyarakat  Pegunungan Bintang secara menyeluruh agar tidak keliru mengambil kebijakan dalam penanganan suatu persoalan dalam membangun peradaban manusia Aplim Apom melalui pendekatan humanitis.

Kalau hal ini tidak dilibatkan, maka akan muncul pikiran-pikiran sinis terhadap sesama dan tidak akan membangun suatu hubungan itikat baik terhadap sesama manusia Aplim Apom. Akibatnya, daerah ini akan gagal terus untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat dari  berbagai dimensi yang diharapkan oleh rakyat Pegunungan Bintang. Semoga!

 

Penulis: Opki W. Yuventus, Pengurus KAPP Aplim Apom SIbilki

Editor: Fransiskus Kasipmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *