Pembunuhan Karakter OAP, Penimbunan Uang Kapitalis Melalui NKRI
Ningdana O, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh Ningdana.O)*
Pengantar
Pembunuhan karakter identik dengan mematikan eksistensi seseorang untuk mendapatkan/memuaskan ego. Di lain sisi, pembunuhan karakter sering dilakukan untuk menjatuhkan mental seseorang yang empunya karakter. Hal ini pun dilakukan dengan tujuan menguasai dan mendegradasikan sifat dan karakter orang yang empunya karakter.
Joseph goebbel, seorang menteri ahli propaganda pada rezim Nazi, dan seorang ahli strategi Italia bernama Niccolo Machiavelli menulis dalam bukunya the ends justify the means bahwa tujuan menghalalkan cara pemikiran ini kemudian melahirkan istilah Machiavellism yang bermakna taktik yang licik. Dua prinsip ini yang dianut pelaku pembunuhan karakter (Mulyadi, Rizal 2016 kompasiana.com).
Dirujuk dari sentilan mengenai pembunuhan karakter, penulis akan mencoba untuk mengkaji hubungan pembunuhan karakter yang dilakukan oleh kapitalisme lewat negara untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita mereka. Dalam artikel ini penulis lebih fokus membahas West Papua (Orang Asli Papua).
Pembunuhan Karakter OAP Oleh Anak Kandung Kapitalis
Hubungan Kapitalisme dengan negara bagaikan seorang anak dan orang tua. Karena untuk mencapai tujuan mereka, para kapitalis akan melakukan kolonisasi terhadap daerah tak berpemerintahan (bertuan) untuk kemudian mengeksploitasi kekayaan alamnya dan sumber daya manusia menggunakan perangkat negara. Untuk mengamankan daerah tersebut, para kapitalis akan menggunakan berbagai cara untuk menghalalkan segala upaya, termasuk pembunuhan karakter. Upaya-upaya yang sering ditemukan ialah pembuatan UU yang berpihak kepada kapitalis guna melegitimasi dan menjustifikasi progres daripada kapitalis. Legalisasi berupa pembuatan UU ini dibuat sebagai instrumen yang sekaligus sebagai bahan untuk antisipasi hal-hal yang bisa saja menghambat proses kerja kapitalis.
Contoh kasus, ketika lahan (tanah) yang hendak mendirikan perusahaan oleh kapitalis ditolak oleh pemilik tanah (Pribumi). Para kapitalis akan mempertahankan argumen mereka menggunakan instrumen yang telah dibuat oleh negara yang sedang diperalat oleh kapitalis, termasuk aparatus keamanan guna mengamankan tempat yang sedang diintai. Adapun jikalau masyarakat pribumi keukeuh untuk mempertahankanya, kapitalis akan menggunakan negara untuk melakukan pendekatan yang refresif dan berbau militeristik.
Gambaran umum yang di uraikan penulis di atas ini telah, sedang, dan terus dipraktekan oleh kolonial (Negara Indonesia) sebagai anak kandung kapitalis global dengan tujuan menjarah habis-habisan sumber daya alam dan melakukan genocida secara perlahan terhadap Orang Asli Papua.
Pemerintah Indonesia melakukan program ini secara terstruktur dan sistematis, sehingga orang-orang yang apatis (masa bodoh dengan kondidi objektif yang terjadi di West Papua) dan kurang memahami tentang sistem kapitalis terorganisir ke dalam sistem kapitalisme itu sendiri. Contoh kasus, tidak banyak juga kepala-kepala suku yang dulunya ialah orang yang sangat berpengaruh dan berperan penting untuk melindungi tanah yang menjadi ulayatnya. Namun karena didoktrin dan di asut dengan janji-janji yang memukau lalu di manfaatkan sehingga mereka (kapitalis) mendapatkan legitimasi dari kepal-kepala suku setempat. Sehingga mereka secara tidak langsung berubah dari kepala-kepala suku menjadi para pelayan kapitalis lalu menyerupai birokrat negara yang sering di peralat oleh para kapitalis.
Terkait pembunuhan karakter oleh Pemerintah Indonesia terhadap OAP, Pdt.Socrates Sopyan Yoman pernah mengutarakan bahwa “ ada istilah-istilah yang didengar lebih indah dan halus. Tetapi hal itu bagian integral yang tak terpisahkan dalam pembunuhan karakter, mental dan kekayaan intelektual, potensi karunia dan talenta yang diberikan Tuhan kepada Orang-Orang Asli Papua. Istilah-istilah itu meliputi: terbodoh, terbelakang, termiskin, tertinggal, primitif, kanibal, belum bisa, belum maju, tukang mabuk. Paling menyakitkan lagi adalah istilah primitif dan kanibal” (Yoman Sofyan, Socratez 2017:Hal 181). Asumsi dasar yang mereka tanamkan dalam benak-benak Pemerintah Indonesia inilah yang membuat dan menganggap diri mereka lebih superior dibanding Orang Asli Papua. Stigma-stigma seperti kanibal dan primitif yang sering mereka arahkan ke Orang Asli Papua ini jugalah yang membuat mereka melakukan rasisme sampai mendegradasi derajat OAP ke posisi yang paling rendah bahkan disamakan dengan monyet (dehumanisasi).
Tidak sampai di situ, Pemerintah Indonesia juga sering mengadu dombakan sesama OAP lewat organisasi masyarakat (ORMAS) peliharaan Negara ataupun milisi,seperti Barisan Merah Putih. Pola yang mereka gunakan ialah mengadudombakan orang gunug (pedalaman) dengan pantai (pesisir) dengan propaganda “Orang pedalaman dinilai sebagai orang yang belum maju dan dianggap manusia kelas dua dari OAP yang berada di pesisir pantai”(Yoman Sofyan, Socratez 2017:Hal 181).
Beranjak dari pembahasan tersebut di atas, penulis berasumsi bahwa kapitalis melakukan program ekspor kapital dan konflik-konflik ke daerah koloni dalam hal ini West Papua. Mengenai ekspor kapital dan konflik-konflik ke daerah koloni, Lenin pernah mengatakan bahwa “penanaman modal kapitalis membutuhkan sebuah kondisi politik yang stabil, sedangkan kekuasaan itu dipegang oleh raja-raja dan pemimpin lokal. Kaum kapitalis harus bisa mengambil alih kekuasaan dari mereka, atau minimal mengambil hati mereka, sehingga mereka mau dan sanggup menjamin stabilitas politik, karena stabilitas politik adalah salah satu syarakat penting keberlangsungan penanaman dan peraturan modal di daerah jajahan”(Krsena, Arya 2018: Hal 90).
Dengan cara ekspor kapital dan konflik inilah yang membuat para pemimpin lokal berubah dari sekedar pemimpin lokal menjadi boneka para kapitalis lalu melakukan penindasan terhadap rakyatnya karena tuntutan kepentingan para kapitalis.
Penimbunan Uang Di Atas Penderitaan OAP Oleh Kapitalis
Berbicara mengenai penimbunan uang, Karl Marx pernah eksplanasikan bahwa” dengan perkembangan terdiri dari sirkulasi barang-barang dagangan telah berkembang kebutuhan, dan hasrat penuh nafsu untuk mempertahankan produk dari C-M, uang. Dari sekedar suatu agen perubahan materi, perubahan ini menjadi suatu tujuan menjadi tujuan itu sendiri. Uang membatu menjadi suatu penimbunan, penjual barang-barang dagangan menjadi penimbun uang” (Frederick engels dalam edicahyono, 2007: hal 64).
Kapitalis dalam melakukan sirkulasi barang dagangan, mereka tidak pernah memikirkan nilai pakai (kulaitas) barang dagangan, yang mereka pedulikan ialah nilai lebih (modal). Untuk menghasilkan nilai lebih (modal), mereka akan menjadikan uang sebagai tujuan daripada sirkulasi barang dagangan yang mereka lakukan. Dengan begitu, kapitalis akan mengalih fungsikan uang yang tadinya hanya sebagai perantara untuk mendapatkan sutau barang menjadi tujuan dari pada perdagangan tersebut. Oleh karena metode perdagangan inilah yang membuat para pedagang menimbun uang yang telah mereka hasilkan lewat perdagangan.
Dalam sirkulasi barang dagangan, yang menghasilkan nilai lebih bukanlah barang dagangan namun yang menghasilkan nilai lebih adalah para buruh/tenaga kerja. Nilai lebih yang para buruh hasilkan ialah hasil daripada kerja lebih. Hari kerja buruh ada dua yaitu hari kerja perlu dan hari kerja lebih, kerja perlu ialah kerja yang dilakukan untuk mengganti gaji yang dibayarkan lewat tenaga kerjanya. Sedangkan kerja lebih ialah kerja yang dilakukan untuk menghasilkan nilai lebih atau bahasa sederhananya bunga (uang bersih) untuk para kapitalis. Jadi, yang menghasilkan modal ialah para buruh bukan perkakas kerja yang hanya menghasilkan modal nilai constan tetapi buruhlah yang menghasilkan nilai variabel (modal).
Untuk konteks West Papua, kapitalis menimbun uang di atas penderitaan OAP yang semakin hari semakin berada di bawah garis kemiskinan yang paling bawah. Bayangkan saja, orang yang punya hotel-hotel dan mall-mall bahkan warung makan yang bertebaran di West Papua kebanyakan milik orang luar (kapitalis), sedangkan milik OAP bisa dihitung dengan jari, itupun mereka hanya menanam modal sedangkan pemiliknya para kapitalis. Yang menjadi pertanyaanya ialah ketika OAP mengalami kesusahan ataupun mengalami bencana, apakah mereka pernah melakukan aksi solidaritas antar para kapitalis (pemilik, Toko, mall, warung makan dll) untuk menyumbang finansial ataupun material untuk OAP menggunakan uang yang mereka timbun?.
Penulis mengatakan tidak, kalaupun ada itu bukan atas nama saham ataupun perusahaan mereka dalam bentuk akumulasi namun perorangan. Sistem kapitalisme tidak pernah pedulikan panjangnya kehidupan OAP yang mereka pedulikan ialah perkembangan modal mereka.
Penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk kembali mengingat peristiwa tragis yang dialami oleh masyarakat Ndugama pada 2 tahun silam. Pada saat pengungsi kelaparan, apakah para kapitalis bersimpati untk membantu menyelamatkan mereka dari busung lapar? Apakah mereka pernah menyodorkan sumbangan untk membangun sekolah ataupun rumah sakit bahkan tempat tinggal buat para pengungsi? Tidak, karena mereka anti kemanusiaan dan merekalah aktor pembuat konflik tersebut demi perluasan wilayah pasar dan lahan pengambilan bahan baku/mentah mereka (kapitalis).
Kapitalis ialah orang yang hidup dari hasil curian dan kerja orang lain, maka jangan pernah mau menjual tanah di mereka ataupun kepada negara karena negara ini (Indonesia) bertopeng kapitalis.
REFERENSI:
Kresna, Arya 2018. Revolusi: Marxisme Ortodox Vs Komunisme.Lintas Nalar, Yogyakarta
Yoman, Socratez Sofyan 2007. Pemusnahan Etnis Melanesia.Cendrawasih Press, Jayapura/Numbai, Papua Barat.
Edy Cahyono, 2007 Tentang Das Capital, Webmaster
www.Kompasiana.Com. Diakses Sab (18/06/2020)
Penulis : Ningdana O, Aktivis Kemanusiaan dan Anggota Aplim-Apom Research Group (AARG)
