IMG-20210625-WA0015

IYANT. TKESAN

Mengingat di masa-masa itu sangat sedih dan terasa memdohi diri.
Menginginkan sesuatu harus mengejar dan mendapatkan apa yang kita impikan, selagi masih ada waktu. Dibalik sekian percobaan itu akan ada makna yang tersirat.

MANDALAPAPUA.COM—-Pada waktu itu diperkirakan tahun 90an, saya dilahirkan oleh kedua orang tua yaitu; ibu bernama Kuldingkon Maqdalena Mopyok dan bapa Seranem Talmomkesan. Kami ada empat bersaudara, dari empat bersaudara adalah kakak perempuan yang tua adalah Yosepha Talmomkesan, Pius Talmomkesan, ada satu lagi kakak saya belum tahu Namanya dan saya sendiri. Dalam aktivitas kehidupan orang tua dari waktu ke waktu, hari melepas hari bahkal tahun selama di dusun yang bernama Wobbin,Talmombin Kuigodakbo tempat lahan/hutan inilah orang tua saya berkebun, berternak, berburu hewan-hawan buas untuk menghidupi kami dan membesarkannya. Bapa saya dikenal oleh masayarakat setempat bahwa beliau adalah orang yang hebat yaitu; soal cinta kasih, jago, berburu, jago bernyanyi lagu tarian adat hingga terkenal di wilayah Selatan Kabupaten pegunungan Bintang Distrik Iwur Kampung walapkubun. Saat itu, saya belum mengenal bapa saya, ibu saya karena saya dilahirkan oleh ibu baru berumur empat bulan. Bapa saya dipanggil oleh yang punya kuasa Sang-pencipta Illahi (TUHAN) dari bumi ini. Setelah saya umur tiga tahu ibu saya menikah lagi sama dengan bapa tiri saya yaitu Ameng Wambolka. Lalu kemudian adiknya ibu kandung saya datang membawa saya secara paksa harus hidup dengan mama ade (Bibi) saya untuk hidup dengannya. Selama saya hidup dengan mama ade (Bibi), saya dididik dengan keras namun saya selau cengeng, nangis terus karena setiap teriakkan atau teguran keras sama mama ade maupun suaminya saya selalu terasa sedih dan sedih selama satu tahun. Saya berumur empat tahun, perkirakan tahun 1995 dari dinas Pendidikan dari Wamena mengirmkan tenaga guru ke setiap wilayah yang ada Gedung sekolah kebetulan kampung saya ada bangunan SD ruangan ada 4 kelas saja. Setelah ada guru akhirnya buat berkelas 6 dengan Skat (dibagi menjadi dua kelas).
Setelah itu, kami dipanggil semua anak-anak yang mendiami di dusun atau hutan, untuk mendata siswa-siswi supaya dapat belajar karena para guru-guru sudah ada dan siap belajar. Akhirnya saya memutuskan tinggalkan (Bibi) untuk menetap di kampung dengan tujuan sekolah, saya kemabli ke bibi di hutan saat sekolahnya diliburkan. Ketika saya di kampung saya jumpai ibu saya, ternyata mama meiliki dua anak putra dan putri. Namun, putra dipanggil Tuhan saat umur 1 tahun, dan adik tiri saya yang putri masih ada hingga sekarang atas nama Ariana Wambolka.

Kris Talmom Kesan Ikut Pelatihan di Yayasan Arilena

Mengenal Pendidikan masa kecil
Saat itu sekitar tahun 1995 antar 1996 para tenaga guru datanglah ke kampung Walapkubun dengan tujuan mendidik anak-anak di kampung itu. Mereka diantaranya adalah bapak guru OSEP YIKWA, MINGGU KIWO, PITER TABUNI, dan ada beberapa guru lainnya yang belum sempat saya ingat, kepala sekolah kami adalah OSEP Yikwa S.Pd. Pada tahun ajaran 1995/1996 saya berumur 5 tahun saya mendaftarkan diri ke kepala sekolah dan kepala sekolah sempat bilang anak kamu masih belum umur sekolah, jadi ikut-ikut saja kalau sudah umur sekolah barulah pak guru daftarkan.
Maka, saya hanya ikutan pulang-pergi sekolah tanpa mengenakan pakaian celana maupun baju, yang penting saya sekolah dan saya mau sekolah, liburan pertama saya Kembali ke dusun kunjunggi bibi saya dengan teman-teman karena tempat mata pencarian kami satu arah sampai di pertengahan kami bagi jalan, ke Malbagon, ada yang ke Wobagon dan Talmombin lalu waktu yang bersamaan pula om atau Paman saya datang dari Ibu kota kecamatan membawa satu potong celana berikan kepada saya. Saat itu sempat terasa sangat senang yang tingkat dewa, terasa ada malaikat yang datang menyelamatkan dari harga diri yang seharusnya dapat menutupi selama ini hanya bebas karena kesulitan mendapatkan pakaian. Masuk semester kedua saya hanya mengenakan celana tok tanpa baju masuk sekolah dan saya mendaftarkan diri sebagai siswa SD INPRES WALAPKUBUN. Lalu masih belum tahu Namanya Pendidikan tapi saya ketahui adalah hanya Sekolah. Usailah ujian akhir semester atau kenaikan kelas, semester habis kami dilibur yang sangat lama 2 bulan, kami kembali lagi ke habitat (dusun/Hutan).
Tibalah libur masuk dan saya tetap masuk Kembali ke kelas I namun ada yang berkata Kris kelasmu di kelas II bukan di sini, terpaksa saya duduk di kelas II, sampai naik kelas III tanpa baju, Rapor, dan paling parahnya saya belum bisa membaca sudah naik kelas III SD. Kelas III inilah saya dapat bersaing dengan teman-teman yanga dalam kelas itu, mulailah belajar keras mengenal abjad, mengafal kata perkata, setiap hari, berangkat sekolah pagi-pagi hanya mandi dengan air embun yang di atas dedaunan, jaraknya kurang lebih 1 kiloan dari rumah menujuh ke sekolah. Sepulang sekolah dalam perjalan menujuh ke rumah kami selalu belomba-lomba mengafal abjad dan perkalian 1 sampai 10 dan terasa Bahagia sekali di masa-masa itu.
Namun, terasa sedihnya di masa-masa itu saya terganggu Kesehatan, seluruh tubuhnya penuh dengan luka, sampai di kepala saya penuh dengan kutu dan luka-luka itu menjadi sarang lalat biru hingga terasa gatal dan saya garuk hingga penuh dengan darah di kepalanya, sempat saya minta tolong pada teman saya untuk mengecek luka di kepalaku, seketika teman saya mengecek lalu bilang tidak ada lalat pada hal teman say aitu tahu bahwa ada lalatbiru yang bersarang dalam luka. Saya memang tidak yakin karena mereka itu sering kerjain nya, saya masih kurang percaya maka saya mencoba ada teman yang bisa berkata jujur, saya tanya lagi kepada teman yang satu ternyata benar ada ulatnya di dalam luka itu. Lalu beritahu kepada semua bahwa luka di kepala saya benar ada ulat (lalat) akghirnya apa yang dilakukan oleh teman-teman dan kakak-kakak saya mereka olok, benci, dipojokkan, diremehkan dan lain sebagaiannya. Karena, mereka tahu bahwa saya tidak memiliki keluarga, ibu dan juga bapak kandung, sementara saya hidup bersama dengan (mereka) teman-teman seperjuangan, lalu saya harus mengadu kepada siapa karena sadari bahwa memang benar saya belum memiliki keluarga, belum merasakan kasih sayang oleh keluarga dekat maupun jauh apalagi keluarga kandung pun tak ada. Setelah saya dengar dan pahami hal itu, sempat saya merasa sakit hati, ditipu merasa taka ada kasih sayang dari teman-teman, kakak-kakak, juga keluarga semua itu membuat saya sedih bercampur air mata tanpa henti-henti dalam perjalanan pulang ke rumah.
Sesampai di ujung Kampung dan Kebetulan di ujung Kampung itu ada rumah ibu kandung di dalam rumah ada seorang bapak atas Nama Lamber Walopka yang akan menjadi orang tua angkat beliau bersama temannya atas Nama Lawotjab orang Merauke yang sempat merantau ke kampung kami, sesampai di situ saya minta tolong kepada mereka bahwa di kepala saya ini ada ulat (lalat) bagaimana bisa keluarkan dari dalam lukanya, pak tolong, tolong, suara yang begitu sedih dan sangat panik adanya, akhirnya saya ditolong oleh beliau berdua dengan cara giling rica dengan garam dijadikan sambal lalu masukkan ke dalam luka dan puji Tuhan lalat-lalat (ulat) dalam luka itu dapat dibasmi oleh sambal rica tersebut. Tidak hanya berhenti di situ, luka-luka di seluruh tubuh ini bekepanjangan hingga sulit disembuhkan. Sehabis ulangan kami libur sekolah, saya berlibur ke dusunku (wilayah Wob dan Talmombin sekitarnya) selama liburan. Namun karena, merasa bosan di satu tempat maka saya bersama kakak sepupu perempuan atas nama Siska Ondelka, berkunjung ke keluarga bapak Lamber Walopka yang pernah mengobati lalat pada luka di kepala itu, disebut saja Tibinibin di atas kepala kali Mal, kami menuju ke sana dalam perjalan dapat menemukan ular yang sering dimakan sebut saja ular patola kami tanggap dan bunuh menuju ke rumah sesampai di sana bapak Lamber barapen kus-kus pohon penuh dengan lemak dan terasa enak telah disajikan siap untuk disantap. Setelah makan bersama, bapak Lamber ambil sabun B29 minta saya ikut dia menuju ke kali lalu suruh saya buka celan lalu toboh ke dalam air lalu memandikan saya dengan sabun B29 hingga luka-luka di permukan tuh dari ujung rambut sampai ujung kaki dapat membersikan dan benar-benar bersih. Bapak Lamber berkat anak kami sekarang berjemurlah supaya luka-lukamu kering bapak yakin kamu akan sembuh dalam satu minggu dan akhirnya setelah satu minggu apa yang terjadi ternyata benar-benar nyata. Saya merasa ada kasih sayang dan pedulinya sangat luar biasa saya inilah bapa. Setelah ini saya lebih memilih untuk ikuti bapak Lamber dibanding ikurt Bibi saya karena ada perbedaan kasih sayang dan cintanya.
Kembali lagi ke masa-masa Pendidikan. Usai sehabis liburan kami berkumpul lagi bersama teman-teman di kampung halama tepatnya Kampung Arimkubun kami mulai beraktivitas belajar seperti biasa masuk semester dua di kelas II, saya tetap tanpa baju, tapi saya tetap memakai celana yang di kasih sama om (paman) Yosep Yamkin itu belum pernah ganti celana, apalagi cuci, celana satu itu di badan hingga 2 setengga tahun lamanya mengenakan satu potong celana. Celana di bagian pantat saya sudah bolong-bolong, rabik-labik tidak layak dipakailah. Namun, di bagian depan masih utuh tapi mau bagaimana lagi ya pasra saja untuk mengikuti proses belajar dengan apa adanya. Memasuki semester kenaikan kelas dan libur Panjang ada yang memilih berlibur ke dusundan saya lebih memilih tinggal di kampung. Ada kakak-kakak kami yang sudah masuk SMP di Kecamatam Oksibil pun berlibur pulang ke Kampung. Pada sore hari saya bermain di sekitar lingkungan dengan pakain yang sobek dan bolong-bolong di bagian belakang, ada seorang pria memanggil saya dan sempat palingkan muka ke arah suara lihat kesana saya merespon ya saya kah? Iya kamu, sini dulu saya pun bergerak menuju ke sana mari ikuti saya, sesampainya di belakang rumah telah sediahkan tempat kamu duduk di situ karena saya masih kecil jadi binggung dan terdiam, beliau masuk dalam rumah bawa gunting, silet, dan pakaian satu stelan/ sepasang. Tak lama lagi langsung eksekuisi gunting ranbut dan sekalian cukur semua rambut dan di suruh mandi, sehabis mandi langsung mengenakan pakaian yang lama di suruh buang saja, ternyata dia adalah OM (paman) saya bernama Paulus Well saat ini beliau menjadi kepala sekolah SD Inpres Walapkubun. Pada tahun 1998 saya duduk di kelas III SD masih berpakain yang di kasih oleh paman. Melainkan, teman-teman semua berpakain seragam SD tapi saya tidak punya, saat itu ada yang jual celana dengan harga 15rbu awalnya saya pengen punya tapi saya tidak punya, pakaian saja tidak ganti apali memiliki uang. Tapi saat itu ada mujisat yang terjadi pada saya, ada seorang kakak sepupu saya bernama Melkianus Yamkin pergi beli seragam SD itu lalu berikan kepada saya. Lalu saya berkat kakak ini seragam kakak beli untuk saya kah? Kakak laki-laki berkata iya, kakak beli untuk kamu, karena teman-teman lain sudah punya seragam tapi kamu yang belum jadi kakak beli biar kalian semua sama. Saya senang yang luar biasa ternyata tuhanm itu maha adil. Saking senangnya saya semangat ke sekolah, semangat belajar mengenal huruf, mengafal abjad belajar membaca, menulis. Di dalam ruang kelas kami lomba-lomba belajar membaca, saya di suruh oleh seorang guru Namanya Piter Tabuni coba kamu membaca huruf yang ada di papan tulis untuk membedahkan huruf P dan B, pak guru berkata coba ucapkan dengan vocal huruf yang benar dalam bahasa Indonesia lalu saya ucapkan p itu B, B pun, saya ucapkan B, jadi saya ketuk menggunakan batang bullpen di testa atau otak depan itu berulang-ulang setiap kali kami belajar, akhirnya saya tahu membaca dan bisa membedahkan mana yang huruf B, dan mana itu huruf P. Namun, saya belum bisa membedahkan huruf yang lain, terus berlatih membaca, menulis, menghitung, menghafal abjad hingga linca menulis, tapi membaca masih kurang.
Pada tahun ajaran 1998/1999 naik kelas IV seluruh guru-guru yang berasal dari Wamena pada Kembali ke Wamena tempat asal mereka. Sempat menjadi pengangguran sekitar 3 bulanan, bertepatan dengan pengangguran di kampung, ada yang Namanya Perusahan Konoko mengebor minyak bumi di daerah kami pada tahun 1997 sudah mulai beroperasi di wilayah kami dan para-pemuda, masyarakat ikut terlibat dalam perusahan itu untuk sorvei tempat untuk mengebor. Suatu hari saya bersama teman-teman dan juga ibu-ibu kami berkunjung ke perusahan dengan membawa sayur-sayuran untuk tukar beras, supermi, sardines dan lainnya. Sesampai di sana kami masuk di sebuah kem karyawan saya jumpai orang rambut lurus atau pendatang asal dari Sanger (Manado) saya dan teman-teman di uji untuk mencba baca tulisan di Sardines kami dites semua dan yang bisa membaca saya jadi saya dikasih hadia Selimut, Handuk dan supermi. Saya senang dan Bahagia karena saya dapat hadia yang tidak ku sangka. Setelah saya balik dari perusahan ada anak kepala desa Namanya Yakobus Walopka mengajak saya dan juga mengajak teman-teman yang lain masing-masing Matius Gerenem Talmomkesan, Markus Wambolka, untuk melanjutkan Pendidikan (sekolah) di kecamatan Iwur. Karena, kemungkinan sekolah kita tidak ada guru-guru yang mau mengajar kita dan otomatis sekolah ini akan ditutup. Jadi bagaimana kalian mau tidak ikut saya kita melanjutkan sekolah di Kecamatan Iwur. Saat itu saya terkejut, saya sempat pikir bahwa inilah jalan dan kesempatan, hati pun berkata Kris kamu harus sekolah, dan itu membuat saya yakin untuk melanjutkan sekolah, melalui sekolah saya menjadi orang yang sukses.
Cerita berlanjut. Sebelum kami memutuskan akan melanjutkan Pendidikan di kecamatan Iwur, orang tua, keluarga sempat membatasi kami dengan keraguan bahwa tidak yakin kalua kami meklanjutkan sekolah di tempat lain karena kami masih anak-anak dan itu masih kecil-kecil paling sampai di jalan belum sampai di tempat tujuan kalian akan balik. Saat itu saya masih kecil pendek dan badannya gemuk sekali. Jadi kekuatiranya tidak mampu berjalan jauh, apalagi mau sekolah itu kami orang tua dan keluarga kami tidak diijinkan. Akan tetapi, saking semangat sekolah, saya tidak padam sampai di situ, saya tetak ngotot untuk tetap berangkat. Akhirnya, saya dan teman-teman kami bersiap-siap besoknya berangkat ke kecamatan Iwur untuk melanjutkan sekolah kelas IV di SD Inpres Iwur.
Saya dan Markus melanjutkan kelas IV, Matius Gerenem mulai dari kelas III, sedangkan Yakobus Walopka melanjutkan kelas VI. Hari pertama belajar saya yang paling kecil dari semua teman-teman, karena teman-teman saya di dalam ruang kelas semua pada besar dan tinggi, mereka bilang kamu masih umur anak kelas I bukan kelas IV. Namun, saya berkata bahwa saya dan teman saya Markus kami dua sudah naik kelas IV ini hasil laporan kami. Dari kelas IV SD saya dan teman saya dari kampung kami selalu unggul dalam keaktifan kelas sampai hasil ulang nilainya cukup memuaskan, saya juara I teman saya Juara II. saat kenaikan kelas teman saya juara I dan saya juara II, sedangkan anak-anak asli Iwur mereka mendapatkan juara III sampai dengan juara harapan untuk kenaikan kelas V. setiap kami berangkat sekolah harus melewati sungai dengan cara renang membawa tas buku dan juga pakaian sergam untuk menyeberang sungai. Pulang sekolah pun lakukan hal yang sama, banjir juga tetap menyeberang dengan membawa barang-barang peralatan sekolah kadang dibantu oleh kakak-kakak tingkat yang sudah berpengalaman dalam hal berenang.
Waktu kami duduk di kelas V dan teman kami bernama Matius G. Talmomkesan dia Sampai di kelas IV dipanggil Tuhan, saya dan Markus Wambolka naik kelas VI kami pulang libur ke Kampung dan ternyata teman saya juga disusul dipanggil oleh mahakuasa (Tuhan), sempat saya merasa kehilangan kedua sahabat. Karena, kami selalu belajar bersama, berkebun, mincing ikan, berburu, itu menjadi masalah buat saya sehingga saya tidak mau lanjut sekolah karena kehilangan kedua sahabat dekat saya. Namun, saya berhenti di situ tapi refleksiakn diri dan menemukan jalan bahwa sudah jauh-jauh datang ke sini untuk sekolah, mengapa harus berhenti, mungkin inilah takdirnya sahabat-sahabatku. Bagaimana pun kendalah atau rintangan harus melanjutkan sekolah dan harus habiskan. Mulai libur masuk saya masuk di kelas VI namun teman-teman kelas VI sudah pada ke Jayapura untuk melanjutkan sekolah di sana dan hanya tersisa saya sendiri. Karena siswa kelas belum ada maka kepala sekolah Willem Oropka putra daerah berkata kamu Kembali ke kelas V dengan teman-teman dari kelas V. karena, untuk ujian Nasional harus kita berjalan kaki dari kecamatan dari Iwur ke Oksibil itu sangat jauh dan butu dua hari kurang lebih KM 18, dan itu saya rasa tidak mampu jalan sendiri sejauh itu, terpaksa saya Kembali bergabung bersama adik-adik kelasnya. Di kelas V ada 8 siswa, dari 8 siswa berasal dari kecamatan Kawor temasuk saya ada 9 siswa, saya Kembali mengikuti materi kelas V. Pada saat itu belum sempat berpikir pentingnya umur akan menambah tapi hanya ikut harus dengan kondisi yang ada. Kami naik kelas VI tanhun pelajaran 2003/2004 kami mengikut ujian Nasional di Oksibil Kab. Pegunungan Bintang.


Kami 9 siswa berangkat dari menujuh ke Oksbil pada siang hari untuk bermalam di jalan, dalam perjalanan kami bunuh ular sampai di pertengahan hari sudah mulai sore diperkirakan pada pukul 17.00 WIT kami kumoul mancari tempat yang cocok untuk buat kem/.pondok kecil untu tidur, kami Gerakan pondoknya jadi, pasang Api,bakar batu Ular butuh waktu dua setengah jam sudah matang lalu angkat diris-iris 9 bagian dan bagi-bagi hingga semua dapat bagian. Sebelumnya kami semua membawa bekal makanan ada 9 bungkus nasi kering. Kumpul keliling berbentuk lingkaran untuk makan bersama setelah itu kami duduk membaca buku pelajaran, tidur sampai pukul 3 subuh kami bergerak melanjutkan perjalan hingga sampai di ibu kota oksibil asrama Iwur pukul 11 pagi. Pada sore hari kami didatang oleh Pastor Paroki dari kecamatan Iwur atas nama Yulianus Motte (kebetulan beliau sudah Meninggal dunia pada tahun 2018 lalu) beliau menyampaikan Informasi kepada kami anak-anak bapa pastor ada sediakan bantuan peralatan piring senduk, beras 1 sak, boneng (Ubi Jalar) 2 karung sayuran 2 karung persiapan selama anak-anak ujian sekolah dalam 1 minggu. Sebelum 3 hari ujian kami sampai di Oksibil hari jumat. Tibalah ujian hari pertama mulai pukul 7 pagi, mulai presensi dari setiap sekolah, dari SD Inpres Iwur terakhir dan saya masih ingat nomor ujian saya urutan 89 siswa.
Jumlah siswa keseluruhan pada tahun 2003 ada 89 siswa yang menempu ujian Nasional. Pada saat ujian berlangsung kami sempat dapat bocoran ujian Nasional, caranya no. urut satu sampai 60 bocor 40 nomor Sedangkan 20 nomor kami kerja sendiri. Dan akhirnya kami lulus 100%. Acara perpisahan pun tiba, setiap siswa wajib sumbangkan ayam 2 ekor, sagu 1 bola, tas noken 2 buah untuk berpesta merayakan kelulusan, setelah itu bapak pastor mengumpulkan kami dan memberi nasihat dan arahkan anak-anak memilih sekolah yang berkualitas maka ilmu pun berkualitas terutama di Yayasan Katholik, dari sisi kemimanan seorang pastor pun sampaikan jangan lupa berdoa di setiap saat di mana kalian beraktivitas rutinitas setiap orang supaya semua rencana akan lancar dan dipermudahkan dalam setiap kesulitan (penguatan dalam keimanan). Dan terakhir berikan pertanyaan siapa saja yang masuk di SMP YPPK Bintang Timur, dan siapa yang masuk di SMP Negeri Oksibil, teman-teman semua angkat tangan dan memilih SMP di mana mereka mau masuk sekolah. Kecuali saya saja yang tidak angkat tangan karena saya harus sekolah di kota di kjota Jayapura. Entahlah, di sana ada keluarga atau tidak yang penting visi saya harus tercapai, pastor bertanya Kris mengapa kamu tidak memilih sekolah di Oksibil? Seblumnya saya minta maaf pastor, bukannya saya tolak penawaran dari pastor melainkan saya memilih sekolah di kota Jayapura, saya ingin beruba diri saya dan juga daerah saya. Jikalu saya sekolah di sini banyak pengaruhnya dan saya akan putus sekolah sementara niat saya harus sekolah samapai selesai mau menadi Polisi.
Lalu pastor berkata bahwa “baik anak saya tidak bisa membatasi tujuan anak, yang mau sekolah di luar Oksibil atau di Oksibil bebas memilih dari anak-anakku sekalian yang penting tujuannya tercapai”ucapnya. Setelah mamutuskan kami berdoa bersama lalu berpisah.

BERSAMBUNG……!!!!!!!!
Masih penasaran dengan ceritanya, tunggu Episode berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *