Kemungkinan Semua Bakal Calon Kepala Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang Periode 2020-2025 Akan Antri Wilayah Ketengban

0
IMG-20200509-WA0011

Ole Panuel Salawala, SE*

Kabupaten Pegunungan Bintang terbagi dalam beberapa wilayah dengan jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Salah satu wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak dan tingkat kebutuhan yang berbeda adalah wilayah ketengban. Batas wilayah ketengban terdiri dari: bagian Barat perbatasan dengan distrik Diruemna, Kabupaten Yahukimo, bagian Selatan perbatasan dengan distrik Langda, Kabupaten Yahukimo, bagian Utara berbatasan dengan Kabupaten Keerom dan bagian Timur perbatasan dengan distrik Okbi dan Okhika Kabupaten Pegunungan Bintang.

Wilayah suku Mek/Ketengban merupakan jumlah penduduk terbesar di Kabupaten Pegunungan Bintang, yakni dengan jumlah penduduk 70 ribuan lebih jiwa. Dari jumlah pendudukan yang terdata, sekirat 75% adalah tergolong belum berpendidikan, baik di tingkat Paud-Perguruan Tinggi (PT). Tingkat persentase jumlah penduduk dengan standar pendidikan yang teridentifikasi tersebut adalah wajar-wajar saja karena sejak expedisi pertama pada tahun 1959 di Pegunungan Bintang hanya dilakukan di wilayah Oksibil dan sekitarnya sehingga proses peradaban luar di wilayah suku Mek/Ketengban dan wilayah lainnya masih tergolong sebagai daerah yang tertinggal. Expedisi kedua pada tahun 1969 barulah wilayah ini mendapat sentuhan peradaban luar dengan dibukanya akses transportasi dan pendidikan. Pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD) pertama di buka pada tahun 1990-an. Setelah ekspedisi kedua pada tahun 1990an dan setelah di bukanya sekolah dasar pertanda bahwa wilayah suku besar ini mulai maju secara perlahan seperti daerah lain pada umumnya.

Dalam perkembagannya wilayah suku Mek/Ketengban semakin maju dalam berbagai aspek yang tentu prosesnya berjalan lambat. Pada aspek pendidikan anak-anak dari wilayah ini bisa mengenyam pendidikan ke wilayah lain, tetapi prosesnya tentu lambat sehingga sampai dengan saat ini perkembangan di bidang pendidikan menjadi keperihatinan masyarakat dan perlu mendapatkan perhatian penuh Pemerintah Daerah. Bidang vital selain pendidikan yang juga menjadi keperihatinan masyarakat untuk diperhatikan adalah bidang kesehatan dan ekonomi. Beberapa bidang vital ini perlu mendapatkan perhatian penuh dari Pemerintah Daerah sebagai perpanjangan tangan rakyat di daerah. Pada konteks keperihatinan bidang-bidang vital seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi menjadi aspirasi rakyat yang masih aktual. Bertepatan dengan momen pemilihan kepala daerah aspirasi rakyat ini menjadi harga tawar untuk dipertimbagkan oleh semua bakal calon pemimpin daerah yang diperifikasi untuk maju pilkada 2020-2025 mendatang.

Pada momen demokrasi pilkada serentak 2020-2025 aspirasi rakyat dari wilayah suku Mek/Ketengban maupun wilayah lainnya menjadi harga tawar bagi para bakal calon kepala daerah di Pegunungan Bintang. Sebenarnya bila mengikuti perkembagan zaman aspirasi rakyat ini bukan baru muncul ke permukaan. Karena bertepatan dengan pilkada serentak maka setiap bakal calon yang akan ke wilayah ini dengan tujuan berkampanye perlu melihat aspirasi rakyat ini sebagai modal dan janji kampanyenya. Berikut adalah aspirasi masyarakat yang disampaikan oleh Andi Lepki sebagai kepala suku besar dari wilayah ini. Menurutnya “Kami meminta kepada Cabup & Wacabup 2020-2025 ini benar-benar menyampaikan janji di depan masyarakat bahwa kami akan bantu di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat dan di bidang lainnya. Itu baru kami akan mengambil bagian dalam pesta demokrasi pemilihan kepada daerah Kabupaten Pegunungan Bintang tahun 2020-2025”. Hal ini merupakan tantangan besar bagi Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati periode 2020-2025. Menurut Andi “Saya memiliki jumlah penduduk yang sangat besar oleh karena itu saya tidak pernah buang suara begitu saja, tetapi saya akan lihat fakta implementasi kebijakan pembangunan selama tujuh belas tahun di Kabupaten Pegunungan Bintang. Apakah pembangunannya sudah berjalan sesuai dengan keinginan masyarkat atau tidak?”.

Sesuai dengan pengamatan kami selama ini perlu dilihat bahawa wilayah suku Mek/Ketengban bukan wilayah lahan politik untuk kepentingan para kandidat. Jangan jadikan wilayah kami sebagai wilayah lahan politik untuk perorangan atau kelompok, baik Legislatif maupun Eksekutif karena pengalaman tujuh belas tahun (17) yang kita lalui bersama ini kami mengamati bahwa sepertinya kami orang Mek/Ketengban tidak ada artinya. Oleh karena itu kami masyarakat suku Mek/Ketengban mengkritik dan memberi masukan yang bersifat membangun ini agar kita merenungkan dan lupakan hal buruk yang kita sudah lalui dan kemudian kedepan membuka lembaran baru untuk membangun “Pegunungan Bintang Baru” dengan menciptakan suasana aman, damai dan konduktif.

 

Penulis: Panuel Salawala,Intelektual Muda Suku Ketengban

Editor: Ap Gerald B Kahipdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *