Belasan Tahun SD Inpres Alemsom Beroperasi, Hanya 2 RKB dan Berkelas Empat
Kris B. Uropmabin bersama Guru pembantu (TP)
ALEMSOM, TRIBUN PAPUA.ID— Wajah Pendidikan Alemsom kian memburuk, tidak terarah dan terurus yang menyebabkan anak anak negeri Bumi Alemsom ini tidak mendapatkan pendidikan yang layak seperti anak anak lain di Pegunungan Bintang dan Papua. Bangunan yang sebagain pelafonnya, tidak teratur karena rusak itu, kini menjadi hiasan berhari hari selama belasan tahun.
Ketika Rombongan Anggota DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang, Kris Bakweng Uropmabin ST melakukan reses dalam rangkah menjaring aspirasi ke daerah pemilihannya, distrik Alemsom belum lama ini menemukan sejumlah persoalan mendasar. Salah satunya adalah carut marutnya penyelenggaraan pendidikan dasar; SD Inpres Alemsom Pegunungan Bintang.

Soal tenaga kependidikan di SD ini menurut laporan yang diterima ketika melakukan reses, kris bakweng menjelaskan “saya dapat laporan dari masyarakat bahwa guru guru di SD ini tidak berada di tempat tugas untuk mendidik anak anak Alemsom. Guru ASN memang ada, namun mereka tidak di tempat tugas, tidak mengajar”bebernya.
Menurutnya Guru ASN hanya 1 Orang dan ia merupakan kepala Sekolah di SD Tersebut. Sedangkan guru ASN lainnya ada yang mengajar di sekolah yayasan Kristen di Langda, kabupaten Yahukimo”ucap Kris B. Uropmabin.
Menurut anggota Dewan tersebut, Guru Honor Daerah (HONDA) memang ada, tetapi kepentingan kepala distrik guru Honda tersebut ditempatkan di Langda atau Bomela di wilayah Kabupaten Yahukimo dan satu orang guru Honda ditempatkan di distrik Okbape Pegunungan Bintang.
“Sebenarnya Guru HONDA ini direkrut dari kabupaten mana dan dibiayai oleh dana APBD Kabupaten Yahukimo atau Pegubin. Coba Pemda melakukan pengawasan yang ketat”ucap Kris Uropmabin dan juga anggota komisi C ini.
Ketika melakukan kunjungan ke SD Inpres Alemsom, Kris Bakweng temukan bangunan SD itu sudah mulai lapuk dimakan rahap, baik di pelafon maupun dinding. Ia mengatakan SD itu hanya dua Ruang Kegiatan Belajar Mengajar alias RKB, kemudian anak anak Alemsom menampung empat Kelas. SD Inpres ini berkelas empat, sedangkan kelas 5 dan kelas 6 melanjutkan pendidikan di SD Inpres Okbape, ucapnya.

“Satu RKB menampung kelas 1 dan kelas 2, satunya menampung kelas 3 dan kelas 4. Ruangan tersebut tidak ada pembatas, hanya terbuka hanya deretan kursi dan meja yang membatasi dua kelas tersebut”ucap Kris. Soal mata pelajaran, jika satu kelas belajar maka kelas lainnya tidak belajar.
Untuk itu, ia mendesak kepada dinas pendidikan dan kebudayaan untuk segera membangun sarana prasarana di SD tersebut. ”Menambahkan RKB, kelas 5 dan kelas 6, agar anak anak Alemsom bisa bersekolah di sana. Selama ini kelas 5 dan kelas 6 sekolah di SD Inpres Okbape”ucapnya. Anak anak Alemsom banyak yang tidak sekolah, mereka menghabiskan waktu dengan bermain, berburu dan bekerja kebun bersama orang tuannya di kebun. Umur sekolah menghabiskan bersama orang tua di kebun.
“Selama ini para pengawas juga tidak mengawasi dengan baik, sehingga para guru, honorer juga tidak mengajar dengan baik. Hanya makan gaji buta, kepala sekolah juga menghabiskan dana BOS dan oprasional lainnya digunakan sendiri”, ucapnya. Pengawas tidak mengawas sampai distrik distrik, ucap kris B. Uropmabin.
Fransiskus Kasipmabin
