Supsidi Penerbangan Menekan Harga Sembako di Oksibil
Direktur PT Kargo Papua, Yohanes Yakyarmabin (Kanan) memberikan Keterangan Terkait Harga Sembako di Oksibil (Frans/TP)
Penyebab utama tingginya harga Sembilan bahan pokok (Sembako) di Pegunungan Bintang disebabkan karena harga timbangan pesawat udara di Bandar Udara Sentani Jayapura maupun di Bandar Udara Tanah Merah, Boven Digoel terbilang cukup mahal.
OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Pegunungan Bintang merupakan satu satunya kabupaten di daerah Pegunungan Papua yang belum tembus Jalan Darat Lintas Kabupaten meliputi wilayah Selatan kabupaten Boven Digoel, Utara kabupaten Keerom, bagian Barat kabupaten Yahukimo dan Yalimo. Walau sudah dikerjakan sampai dengan tahun 2019 ini belum juga terhubung ke Pegunungan Bintang, Oksibil sebagai pusat pemerintahan ataupun pusat perdagangan di wilayah Pegubin.
Daerah ini hanya dilalui melalui transportasi udara, menggunakan pesawat udara Jenis Trigana Air Service ataupun jenis pesawat kecil seperti AMA, Twin Otter, Dimonim Air. Akibatnya harga barang dagangan di Oksibil melambung tinggi. Harga barang melambung tinggi dipengaruhi oleh harga belanja dan harga timbangan di Sentani Jayapura maupun Boven Digeol. Harga timbangan berkisar antara 25.000 sampai dengan 30.000 rupiah.
Harga barang di daerah Pegunungan Papua, di Pegunungan Bintang harganya cukup mahal. Misalnya Bimoli 5 liter di Jayapura seharga 100.000, di Oksibil dijual dengan harga 200 000;. Atau bensin satu liter di Jayapura seharga 6 000; Oksibil seharga 40 000;. Beras 25 Kg dijual dengan harga 800 000;.
Hal ini membuat masyarakat yang hidup di Kota Oksibil dan sekitarnya pupus harapan, lantaran sumber pendapatan warga tidak ada. Hanya berbekal menjual hasil bumi di Pasar Mabilabol, tidak mampu membeli sembakao di Oksibil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mama Ema Tapyor, misalnya mengisahkan kepada media ini ketika sambangi pasar Mabilabol mengatakan pembeli sangat kurang, walau sudah datang ke pasar tapi hanya mondar mandir saja baru pulang, katanya.
Kemudian Ia menjelaskan para Aparatur Sipil Negara (ASN) Orang Asli (OAP) sendiri tidak pernah belanja di Pasar. “Mungkin mereka biasa beli makanan jadi di warung makan, sehingga tidak belanja sayur segar maupun hasil bumi di Pasar Mabilabol sini”ucapnya.
Minimnya pembeli di Pasar Mabilabol, penjual sayur dan hasil bumi mengelu lantaran pendapatan turun drastis. Di Oksibil uang seratus ribu tidak cukup untuk belanja kebutuhan hidup, karena hara barang di Oksibil mahal.
Untuk menekan harga Sembakao di Oksibil, Pegunungan Bintang, pemerintah daerah Pegubin dan PT. BCL Kargo Papua menjajaki kerja sama dengan Kementrian Perhubungan di Jakarta bikin MOU terkait supsidi penerbangan tujuan Boven Digoel Oksibil.
Direktur PT BCL Kargo Papua, Yohanes Kakyarmabin kepada media ini, ketika menemuinya di Kantor pekan kemarin mengatakan kami sudah MOU dengan pihak kementrian dan penerbangan tentang subsidi penerbangan untuk mengangkut Sembakao dari Merauke dan Boven Digoel.
“Supsidi Pesawat, supaya barang dagangan terutama bahan pokok diangkut ke Oksibil. Harga sembakao murah”ucap Yohanes. Untuk menekan harga sembakao di Oksibil, kita kerja sama dengan pihak kementrian perhubungan untuk Supsidi Pesawat, bukan barangnya, kata Yohanes Kakyarmabin yang kini menjabat sebagai direktur semenjak 6 bulan yang lalu.
Menurutnya kami sudah menyediakan barang supsidi semenjak bulan Mei 2019 lalu, sampai dengan bulan Desember 2019 penyediaan bahan pokok tetap lancar, walau beberapa bulan terkendala akibat Armada Cuma 1, pesawat Dimonim Air. Satu hari hanya satu kali penerbangan, ditambah lagi mengangkut para penumpang, ucapnya.
Namun menurutnya, kini mulai normal, sehari 4-5 kali penerbangan. “Kami suda tetapkan harga Sembakao, sehingga para pengecer tidak main harga”kata Yohanes. Para pengecer yang sudah terdaftar dan menyediakan barang supsidi tidak main harga. Harga yang ditetapkan itu yang harus jual di pengecer.
“Jika ada temuan ada main harga segera menghubungi kami di kantor yang beralamat di Bandara, agar pengecer yang bersangkutan bisa dihentikan”katanya. Harga Sembakao yang sudah disupsidi dijual stengah dari harga normal yang ada di Oksibil. Misalnya beras 25 Kg kita jual di Gudang Supsidi seharga Rp 450.000; sedangkan pengecer menjual dengan harga 500.000; ucap Yoka sapaanya.
Para pengecer diutamakan untuk orang Asli Pegunungan Bintang, khususnya berada di Distrik Oksibil, Serambakon, Kalomdol dan Ok Aom. Hal ini memudahkan masyarakat setempat bisa membeli sembakao dengan harga murah. Distrik Oksibil sendiri ada 7 pengecer yang menyediakan barang supsidi.
Kedepan pengecer kita kembangkan di semua distrik yang ada di Pegunungan Bintang, pusatkan di 34 distrik agar masyarakat yang ada di distrik distrik langsung membeli di sana. “Kita menyediakan barang supsidi di Distrik Distrik agar warga mudah belanja di distrik dan kampung”ucapnya.
Ia berharap semua komponen masyarakat harus mendukung supaya kita menyediakan barang supsidi supaya masyarakat lokal yang kategori tidak mampu juga bisa membeli. Selain memberikan kemudahan bagi masyarakat, juga kita menekan harga yang melambung tinggi, katanya kepada media ini ketika menemuinya di kantor.
Penulis: Fransiskus Kasipmabin
