Usaha Sembako Dengan Modal 500.000;
Yanuarius K. Opki (Foto: Dok Yuventus Opki/TP)
OKPOL, TRIBUN PAPUA—Jumat (20/09/19), Kios kecil di pinggir jalan raya kutdol, adalah milik Pa Yanuarius K. Opki. Nama kios tersebut adalah Kios Nesel Tiber.
Menurut Yanuarus bahwa, “saya bangun kios ini di lingkungan kampung Kutdol. Pada tahun 2012 sudah mulai buka kios dan sudah dijalankan dua tahun. Namun, saya dapat tantangan yang luar biasa. Tantangan itu berasal dari masyarakat setempat, sehingga saya berhenti tapi kembali bergumul selama tiga tahun. Setelah tiga tahun kemudian, pada 2017 kembali buka sampai sekarang 2019” ucapnya.
Lanjut Yan bahwa ‘’saya buka usaha sembako karena, saya lihat kita orang asli sering belanja di kios-kios orang pendatang. Padahal, kalau ada kesulitan, atau butuh sesuatu, itu tidak mungkin kita pergi minta di mereka (orang pendatang). Tapi pasti akan kembali pada orang kita sendiri”.
Selain itu, ia juga berpendapat “saya bisa ambil langkah ini karena mengingat kebutuhan keluarga yang terbatas kalau hanya mengharapkan pada gaji toh, tidak cukup. Maka saya lakukan ini juga untuk membantu kebutuhan keluarga saya. Dan ini memang sulit, tapi karena punya niat. Karena niat itulah saya bisa lakukan usaha sembako saat ini”, ujarnya.
Di kampung Kutdol sendiri, ada 5 buah kios orang pendatang. Dan 2 bua kios pedagang local. Sebenarnya ada tiga, tetapi salah satunya BUMDES milik kampung Kutdol dan sempat ditutup. Pa Yanuarius sendiri, awalnya mendapatkan modal dari Bank Papua dan Bank BRI. Bantuan dari pihak Bank, modalnya sudah dikembalikan. Bahan impor dibantu oleh Pa Bas Uropmabin, sedangkan sembako saya tanggung sendiri” katanya.
Dalam usaha mikro tersebut, Pa Yan sapaanya menuturkan bahwa “saya cukup banyak mengalami hambatan atau kesulitan diantaranya berasal dari masyarakat setempat dengan tingkat ambisiusnya yang tinggi di beberapa tahun yang lalu.
Tidak hanya itu, menurutnya mengalami kendala atau kesulitan itu ketika teman-teman datang ingin melakukan jual beli sembako, yaitu bon atau utang. Karena ada yang saya percaya karena cepat membayar utang bon dan sering ada yang utang bonnya lama. Sehingga kalian ini saya tidak bisa layani kecuali yang sudah ada mitra dengan kios saya baru bisa saya layani, ucapnya.
Kios yang sempat berhenti lalu dibuka kembali pada 2017 dengan umur 3 tahun itu, Pa Yan mengemukakan bahwa saat ini, saya ingin hindari dari bon, pinjam. Karena usaha kios ini ada istilah yang saya pernah baca salah satu buku, andai kata bisnis itu seperti computer, kalau computer itu terkana virus, otomatis computer itu akan hancur.
Demikian pula, usaha juga kalau banyak melakukan pinjam bon, pasti usaha itu juga bangkrut. Sehingga saat ini saya mencoba untuk tidak melayani utang bon dan pinjam. Dan saya lakukan usaha kios ini bukan karena saya termotifasi karena situasi atau modal yang banyak tetapi karena punya semangat dan keinginan sendiri inilah membuat saya buka kios dengan modal awal Rp. 500 000. Dari modal Rp. 500 000, saya manfaatkan sebaik mungkin dan bisa buka kios sendiri” tutupnya.
Kepada media ini, Pa Yanuarius K. Opki selaku Ketua Stasi Okpol, mengatakan, saya memberikan pesan kepada teman-teman orang asli, mari kita belajar usaha sembako. Jangan kita pikir harus ada modal yang besar”ucapnya.
Menurutnya, kalau ada punya niat, kita mulai dari modal yang kecil. Sebab saya mulai buka kios ini dengan satu slop rokok surya. Saya harap kita orang asli sadar dan kita sendiri jadi pelaku bisnis bukan orang pendatang yang menjadi pelaku bisnis di kita punya negeri.
Menurut Opki Kita sadar dan kita mulai kendali ekonomi, maka orang pendatang sendirinya dia akan pulang. Ya, kita harus berusaha menjadi Tuan di Negeri Sendiri, tutupnya dengan rasa bangga kepada tim reportase Tribun Papua.id ini.
Reporter: Via, Klara, Gary
Penulis: W. Yuventus Opki
