Kilas Balik 38 Tahun SMP YPPK Bintang Timur Berkarya di Sibil Bakon
Pemotongan Tumpeng HUT SMP YPPK ke-38 (Foto: Melki/TP)
Fransiskus Kasipmabin
Sekolah Menengah Pertama (SMP) YPPK Bintang Timur Mabilabol Oksibil merayakan hari jadinya yang ke-38 tahun pada Sabtu, 5 Oktober 2019 lalu di Aula SMA YPPK Bintang Oksibil pekan kemarin.
Selama 37 tahun SMP YPPK Bintang Timur Oksibil tidak merakayan Ulang Tahun Sekolah, dokumen dokumen sejarah berdirnya Sekolah Misi Katolik itu disusun oleh Suster Gracia KSFL, kepala sekolah yang ke-6 di sekolah tersebut.
Pada tanggal 5 Oktober 2019 pertama kali merayakan HUT SMP YPPK Bintang Timur Mabilabol, setelah puluhan tahun tidak merayakan ulang tahunnya. Pada umur yang ke 38 tersebut, kepala sekolah yang dikepalai oleh Suster Grace KSFL itu berhasil mengundang sejumlah tamu undangan, para alumni mengikuti Missa Syukur pada kemarin.
Sekolah missi Katolik yang diresmikan pada tahun 1981 silam tersebut berhasil mencerdaskan anak anak dari Bintang Timur menerangi bumi Aplim Apom ini. Missi Memanusiakan Manusia lain merapakan roh pendidikan katolik di wilayah Pegunungan Bintang.
Sekolah Katolik harus berpedoman pada misi memanusiakan manusia lain dan mengikuti gerak saman. SMP YPPK Bintang Timur Oksibil hadir untuk memanusiakan manusia Ngalum, Murop, Kupel, kambom.
Hal itu dikatakan Direktur YPPK Deken Dekenat Pegunungan Bintang, Pastur Carolus Kune Boruk Pr dalam sambutan tunggalnya, Sabtu 5 Oktober 2019 saat usai Acara missa Syukur kemarin.
Sekolah Mengikuti Gerak Zaman
Pastur Carolus mengatakan Sekolah mampu mengikuti gerak saman dan siap mencerdaskan anak anak Pegunungan Bintang demi menjawab tantangan Globalisasi saat ini. Sehingga momentum 38 tahun sekolah katolik hadir ini, mengikuti kurikulum Nasional, tetapi harus ada Otonomi sekolah. Sekolah punya gaya mengajar tersendiri sehingga mampu menyiapkan anak didik mempunyai krakter dan moralnya bagus, ucapnya.
Sementara itu Kepala SMP YPPK Bintang Timur Oksibil, suster. Grachia KSFL menuturkan momen perayaan HUT berdirinya SMP YPPK INI bukan kami buat semata atau dengan keinginan kami ini tetapi berdasarkan surat keputusan yang saya lihat ketika saya merapikan dokumen sekolah kami, dan ternyata pada tanggal 5 oktober merupakan hari yang di tetapkan oleh pemerintah sebagai hari berdirinya sekolah YPPK Bintang Timur Oksibil.
Kepala Sekolah mengatakan “memang sebelum tanggal tersebut di tetapkan SMP YPPK ini sudah berdiri sekitar tahun 60 an tetapi sekolah ini di akui sebagai salah satu sekolah yayasan oleh pemerintah adalah pada tanggal 5 oktober tahun 1981 di jayawijaya”ucapnya.
Kilas Balik SMP YPPK Bintang Timur Di Banal Bakon
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus dipenuhi setiap orang. Asumsi dasarnya adalah hanya dengan pendidikan kita dapat merubah sesuatu, memanusiakan manusia, mencerdaskan manusia, memutus mata rantai kebodohan dan meretas jalan merubah dunia. Majalah Alwem akan mengulas jejak para peletak dasar pendidikan di tanah Aplim Apom ( Kabupaten Pegunungan Bintang).
Hingga saat ini, tidak banyak yang mengetahui dengan benar cikal bakal lahirnya lembaga pendidikan dan institusi yang menjadi pionir bidang pendidikan di tanah Aplim Apom yang kini dikenal dengan nama Pegunungan Bintang.
Banyak pihak yang datang dan pergi dari wilayah Aplim Apombaik pribadi maupun kelompok bahkan institusi. Dari sekian banyak stake holders tersebut masih ada pihak yang memiliki hati untuk membuka mata,pandangan,cakrawala berpikir orang lokal. Salah satu pihak yang memiliki jasa besar dalam karya kemanusiaan di bidang pendidikan tersebut adalah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK)PAPUA (dahulu Irian Jaya). Pada edisi perdana ini,kami ulas cikal bakal gereja Katolik dan karya pendidikan di Tanah Aplim Apom.
Misi Katolik dan Karya Awal
Gereja Katolik dimana pun di dunia, seperti sudah menjadi kodrat bahwa karya kemanusiaan yang utama dan terutama adalah memanusiakan manusia lewat karya kemanusiaan dibidang pendidikan dan kesehatan selain menyebarkan kabar keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.
Sejak gereja katolik masuk di daerah Oksibil sekitar tahun 1958, para Pastor menjadi guru perdana bagi orang lokal. Selain para pastor, diperbantukan juga para katekis (guru agama katolik, petugas awam katolik ) dari daerah Kokonau, Muyu dan Paniai. Melihat makin meningkatnya jumlah siswa dan kebutuhan tenaga pengajar maka pastor memohon bantuan suster untuk membantunya. Suster-suster yang dimintai membantu karya dan tugas pastoral adalah Kongregasi Suster-suster Fransiskanes Santa Lusia ( KSFL ).
Sudah menjadi tradisi gereja katolik dimana pun, selain memberitakan injil Yesus Kristus, kabar keselamatan (spiritualitas katolik) para biarawan biarawati membawa atau menyelipkan karya kemanusiaan lain yang lebih konkret dari pada iman katolik itu sendiri. Pendidikan dan Kesehatan. Dua bidang ini senantiasa menjadi pengejewantahan yang jelas dari karya kemanusiaan katolik. Dalam tulisan ini diambil bidang pendidikan. Selain itu dengan adanya pendidikan itulah karya-karya misi ini berlangsung hingga kini dan akan terus berlangsung.
Suster-suster Ordo KSFL hadir di Oksibil ( tanahAplim Apom) yang pertama adalah suster dari Belanda pada tahun 1970. Lambat laun suster-suster pribumi menggantikan mereka.
Lembaga Pendidikan
Ketika misi pendidikan tersebut diemban, mula-mula dibuka sekolah tingkat SD.SD YPPK Mabilabol ( kini SD Santo Vincensius Mabilabol) merupakan lembaga pendidikan pertama yang dibangun oleh para pastor. SD YPPK Mabilabol dibangun tahun 1959. Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa para suster hadir di Oksibil setelah SD YPPK Mabilabol dibangun. Tenaga Guru yang diserahi tugas atau lebih tepatnya diminta mengajar adalah para lulusan Sekolah Guru Bawah (SGB) zaman Belanda. Mereka berasal dari daerah Muyu, Kokonau dan Paniai.
Beberapa tahun kemudian barulah suster dari Konggregasi KSFL hadir. Seiring berjalannya waktu kebutuhan akan pendidikan makin meningkat dan murid pun bertambah. Melihat kondisi tersebut, terbersitlah ide bahwa pelayanan pendidikan mesti menjangkau setiap orang. Ditambah dengan jangkauan pelayanan yang sulit karena jarak dan kondisi geografis yang susah,maka dibuka lagi sekolah tingkat SD di beberapa basis.
Setelah SD YPPK Mabilabol, dibuka lagi SD YPPK Abmisibil dan SD YPPK Okbetel di kecamatan Okbibab tahun 1960. Di daerah Oksibil sendiri dibuka lagi SD YPPK Kukding pada tahun 1962 dan SD YPPK Yapimakot tahun 1974. Kebutuhan akan sekolah lanjutan bernafaskan iman Katolik tak dapat dibendung lagi.
Melihat kemampuan ekonomi orang tua yang memprihatinkan jika anak sekolah ke luar ranah Aplim Apom, maka para suster KSFL membuka sekolah menengah di Oksibil dengan nama SMP YPPK Bintang Timur Mabilabol pada tahun 1981. Ternyata sekolah tersebut merupakan sekolah menengah perdana di wilayah ini sebab pemerintah belum membuka SMP di tiga wilayah distrik saat itu.SMPN I Oksibil didirikan beberapa tahun kemudian. Wujud kepedulian gereja katolik lewat ordo KSFL tidak hanya berhenti sampai ditingkat itu.
Disela-sela kesibukannya mengelola dan mengemban kedua jenjang diatas, masih dibuka lagi pendidikan tingkat TK di Oksibil dengan nama TK Sta. Lusia pada tahun 1992. Tidak ketinggalan juga dibuka TK Bintang Timur Abmisibil pada tahun yang sama.Ini menjadi salah satu bukti bagaimana lembaga keagamaan lebih peka dan prihatin atas manusia lainnya meski dari sisi finansial kecil jika dibandingkan keprihatinan pemerintah atau negara terhadap rakyatnya padahal didukung dana besar.
Setelah 53 tahun lebih berkarya di tanah Aplim Apom, tahun 2012 ini, misi kemanusiaan gereja Katolik melalui karya kasih KSFL kembali melakukan gebrakan dimana membuka jenjang menengah atas dengan nama SMA YPPK Bintang Timur Mabilabol.
SMA YPPK BT Mabilabol yang digabung dalam satu komplek dengan SMP YPPK BT itu telah dipersiapkan lama.
”karya-karya pendidikan yang diemban oleh ordo KSFL bertujuan untuk mendidik orang Aplim Apom menjadi orang yang berguna, berwawasan global, membentuk jiwa serta karakter yang positif ”, ucap Sr. Rosalina Saklil,KSFl pada tahun pertengahan tahun 2009 ketika media Alwem mewawancarainya.
Menurut Suster Rosalina, kami tidak hanya menuntut anak mendapatkan nilai bagus tetapi kepribadian anaknya kami bentuk bernafaskan iman Katolik” ucarnya dikutip dari Majalah Alwem.
Tenaga Pengajar
Dibukanya sebuah lembaga pendidikan apa pun jenjangnya, maka tenaga pengajar amat dibutuhkan. Beda masa beda tantangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah-sekolah yang dibuka membutuhkan guru. Tidak dapat dibayangkan sama sekali, kota di pedalaman Papua seperti Oksibil dan Abmisibil dapat menyelenggarakan pendidikan dengan tenaga pengajar yang amat terbatas.
Tenaga itu pun hanya tamatan Sekolah Guru Bawah ( SGB). Guru yang diminta bantuannya bagi tingkat SLTP pun masih guru-guru tamatan Sekolah Guru Atas ( SGA) atau setara SMA. Lambat laun tenaga pengajar digantikan oleh guru tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) bagi tingkat SD. Pada tahun 1990-an tenaga pengajar SLTP masih mengharapkan tamatan Diploma III dan hanya beberapa dari tingkat sarjana penuh. Sampai dengan tahun 2019, 28 guru mengajar di SMP YPPK Bintang Timur Oksibil.
Referensi: Majalah Alwem, 2009,
Penulis Adalah Penggiat Literasi di Oksibil
