Sekolah Internasional Bisa Cetak Generasi Muda Berwawsan Global
Melkior Sitokdana, Dosen Tetap UKSW Salatiga, Jawa Tengah
Oksibil, TRIBUN PAPUA.ID— Bupati Pegunungan Bintang, Costan Oktemka, S.IP telah meresmikan Sekolah Internasional (SI) pada tanggal 19 September 2019 silam di Kampung Seramkatop distrik Serambakon. Warga net mulai menanggapi pro dan kontra atas peresmian sekolah Internasional tersebut.
Ada yang menyebut, SI diresmikan pada akhir tahun, pada saat masa jabatannya mau berakhir. Ada yang menyebut, Bupati Costan resmikan saat momen politik berlangsung dan banyak komentar yang pro dan kontra.
Menanggapi hal tersebut, salah satu Intelektual muda, Asli Pegunungan Bintang Papua yang kini menjadi Dosen tetap di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Melkior N. Sitokdana, S.T., M.t kepada media ini mengatakan program bidang pendidikan ini sangat baik demi mencetak SDM yang berwawasan Global sehingga semua pihak mendukung atas program ini.
Dalam rilisnya yang dikim ke media Tribun Papua.id, Rabu 24 September 2019 mengatakan “kehadiran sekolah internasional di Pegunungan Bintang adalah kebijakan yang sangat positif sehingga perlu di dukung oleh semua pihak”ucapnya.
Namun dengan catatan semua pihak jangan mempolitisir kebijakan ini, baik oleh pihak yang berkuasa saat ini maupun yang kontra terhadap kebijakan tersebut karena sudah memasuki masa politik.
Dosen tetap UKSW tersebut mengatakan setiap kebijakan pengembangan SDM diletakan sebagai upaya yang tulus dari hati untuk membangun peradaban bangsa, bukan semata-mata untuk kepentingan politik praktis.
Untuk itu, Sebagai wujud dukungan dirinya terhadap kebijakan ini adalah mendorong kerja sama internasional dengan Pemerintah Papua New Guinea di Sandaun Province dan Western Provinsi agar mendatangkan anak-anak bangsa Aplim Apom (bangsa Ok) yang dari Telefomin, Oksapmin, Uropmin, Faiwol, Tabubil, Tifalmin, Mianmin dan sebagainya.
Melkior mengatakan “mereka adalah bagian dari suku bangsa Ok atau Aplim Apom yang tidak bisa dipisahkan hanya karena berbeda kewarganegaraan. Sebab jauh sebelum terbentuknya negara, mereka bersatu sebagai komunitas suku bangsa Aplim Apom atau menurut para ahli linguistik disebut Ok Family” terangnya.
Dengan demikian, kehadiran sekolah tersebut tidak semata-mata karena penggunaan bahasa dan sistem pengajarannya, namun juga adanya siswa/i internasional dari Papua New Guinea.
Menurut pria kelahiran Apmisibil tersebut mengatakan “Untuk mendukung program ini Pemerintah Daerah bisa juga bekerja sama dengan perusahaan Oktedi Mining di Papua New Guinea karena perusahaan tersebut beroperasi di otoritas wilayah adat masyarakat Aplim Apom, baik hak ulayat masyarakat yang di Papua New Guinea maupun juga di Indonesia.
Untuk itu ia berharap Peluang ini mestinya dimanfaatkan oleh Pemerintah Pegunungan Bintang untuk mencetak generasi muda yang berwawasan global yang siap menghadapi segala perubahan saman.
Reporter : Fransiskus Kasipmabin
Penulis : Fransiskus Kasipma
