Sekolah Pembebasan, Model Pendidikan Alternatif di West Papua

0
69877233_122532915787997_2450639443527204864_n

Anak anak SD YPPK BT Apmi Sibil

 

Setelah ratusan mahasiswa Papua eksodus ke Provinsi Papua maupun Papua Barat, patut dipertanyakan tempat tinggal dan kampus studi mereka, baik tempat nginap maupun aktifitas mereka di sana. Soal Rasisme sering dialami oleh mahasiswa; intimidasi, persekusi, baik di asrama Papua, penginapan kos-kosan, kontrakan. Bahkan dari tahun ke tahun mahasiswa mengalami kekerasan fisik maupun verbal di seluruh Indonesia, Sabang sampai Ambonia.

Bahkan berbagai lembaga kemanusiaan mengadvokasi tentang fenomena eksodus mahasiswa Papua di Kota Studi mereka.

Di Tanah West Papua, gelombang massa Rakyat Anti Rasisme turun jalan hamper seluruh kabupaten kota di Provinsi Papua maupun Papua Barat. Ini akibat dari akumulai sekian persoalan yang terpendam semenjak Orang West Papua dipaksa bergabung menjadi bagian dari Indonesia.

Kondisi ini patut dipertanyakan, ada apa dengan Indonesia di West Papua? West Papua Darurat Militer. Baru saja, kemarin di Waena dibolade alat alat perang Indonesia. Warga panic, bahkan trauma mengingat kembali peristiwa Operasi Militer di Bumi Cenderawasih.

Bagaimana kerja kerja pendidikan colonial di West Papua? Puluhan tahun membangun sistem pendidikan kolonial di tanah west Papua. Sistem Kolonial Indonesia memaksakan pelajar Orang West Papua belajar mentaati, mengakui atas sejarah Indonesia, belajar tentang peta Indonesia, fauna dan flora Indonesia, belajar tentang sejarah Perebutan Irian Barat (Hoaxs).

Pendidikan sentralistik, Bangun Sistem Penjajahan

Sebagian besar warga Melayu, Indonesia belum tau tentang Manusia Malanesia di West Papua. Bahkan mereka bertanya kepada Mahasiswa Papua, Pulau Papua itu di mana, apakah di Afrika? Apakah Anda Orang Afrika atau Brazil? Amerika Latin mungkin. Apakah Papua itu sebuah Negara? Apakah datang ke Indonesia menggunakan pesawat terbang ataukah Kapal Laut? Atau lewat jalan darat, Mobil/Kreta Api?

Pertanyaan pertanyaan konyol seperti ini selalu ada, ketika Orang West Papua yang kulit Hitam, Rambut keriting menginjakan kakinya di Wilayah Melayu, seperti Jawa.

Bukti kegagalan pendidikan mendidik warga melayu, tentang ke-Indonesiaan. Gagalnya pendidikan Gografi, Nusantara. Sistem pendidikan Indonesia menginginkan untuk setiap anak didik, menguasai materi, teori, sedangkan tidak mendidikan tentang wawasan kebangsaan, Pancasila dan Bineka Tunggal Ika.

Sistem pendidikan diatur Jakarta. Membangun Jawa Sentris, Kebudayaan Jawa ditulis menjadikan mata pelajaran untuk diajarkan di seluruh  sekolah, dari Aceh sampai di Papua Barat maupun sekolah di Papua.

Gaya penulisan dalam buku mata pelajaran, contoh Kasus maupun pusat pusat kebudayaan, alat musik, bahasa daerah pun ditulis dari Daerah Jawa menjadi contoh bagi daerah daerah lain. Mata pelajaran Sejarah, misalnya sejarah perjuang kemerdekaan dari Maluku, Ambonia belum pernah tercacat dalam buku mata pelajaran sejarah.

Model pendidikan inilah kemudian, menjadi persoalan mendasar bagi Orang Melayu untuk menggenal suku bangsa Nusantara ini. Negara gagal mendidik warga Negara tentang kebudayaan Nusantara, sejarah Nusantara, bahasa Nusantara, suku bangsa yang mendiami di Nusantara ini.

Sistem pendidikan mewajibkan seluruh anak anak di sekolah wajib belajar tentang Sejarah Jawa, Kebudayaan Melayu, Bahasa Melayu, suku bangsa yang ada di Jawa. Model model pendidikan menciptakan manusia otak kerdil, watak watak penjajahan, membangun hegemoni budaya. Mengabaikan harta kekayaan daerah lain.

Kondisi Pendidikan Papua Saat Ini

Paket Paket pendidikan Jawa sentris yang dituangkan dalam sistem pendidikan Nasional, mewajibkan seluruh daerah taat pada kebijakan pendidikan Nasional. Semenjak Papua Dianeksasi dalam Bingkai NKRI melalui PEPERA 1969, Jakarta mulai mendesain model pendidikan colonial untuk menjajah Orang West Papua.

Program pembangunan Nasional seperti Mengirim Migran di Merauke, Nabire, Jayapura. Pengiriman guru guru untuk mendidik Orang West Papua. Mereka dikrim untuk misi mendidik Orang West Papua untuk mengenal budaya Jawa, Bahasa Jawa, mendidik Nasionalisme Indonesia, bahasa Melayu.

Sampai saat ini hadirnya pendidikan di West Papua belum juga bebas dari peraktek penindasan, guru memaksa anak didik untuk harus hafal ini dan itu. Pendidikan gaya kolonial masi tetap diberlakukan di sekolah.

Memaksakan anak didik untuk belajar sejarah Kolonial, menghafal pancasila, menghafal UUD 1945, setiap hari Senin Upacar Bendera, wajib menghormati para pejuang kemerdekaan RI dan berbagai gaya lain yang dilakukan oleh guru Melayu di Tanah West Papua.

Walau pendidikan Konsep Gaya Bank diterapkan di Bumi West Papua, anak anak Papua sudah mulai muak dengan system dan gaya pendidikan Nasional ini. Mereka jenuh dengan kondisi sekolah hari ini, karena teori dengan kenyataan sangat bedah jauh. Misalnya Polisi Pengayom Dan Pelindung Masyarakat, namun fakta berkata lain. Mereka malah mengintimidasi, persekusi, menembak, menganiaya Rakyat West Papua.

Kondisi hari ini, sekolah sekolah di west Papua, Pendidik masi menguasai ruang kelas, anak didik tidak tau apa apa. Guru tau segala- galanya, sedangkan anak murid tidak tau segala galanya. Guru mengajar, anak didik menerima hasil. Bahkan guru sebagai raja di sekolah.

Pendidik sering melakukan kekerasan terhadap anak didik dengan alasan yang tidak jelas. Bahkan pendidik menyuruh anak didik mengerjakan pekerjaan guru di dalam sekolah maupun diluar sekolah. Dengan berbekal “gelar” guru, pendidik melakukan peraktek penindasan terhadap anak didik.

Budaya penindasan pendidikan ini masi sering terjadi di West Papua, terutama wilayah pedalaman Pegunungan Papua .

Gagasan Sekolah Pembebasan di West Papua  

Gagasan sekolah pembebasan sebagai pendidikan alternative di West Papua adalah melihat manusia west Papua saat ini dihadapkan pada realitas kehidupan yang tidak manusiawi. Humanisasinya tidak ada di Tanah dan Bangsa west Papua. Tidak ada kehidupan yang layak, sekolah juga dijadikan sarang militerisme, intel, Brimob, KOPASUS, BAIS, Ormas Nusantara Buatan Kolonial menyisir kedupan manusia West Papua, Tokoh buatan Kolonial menguasai panggung Politik Nasional, memanfaatkan momentum gejolak Politik untuk mencari kepentingan piribadi.

Pendidikan juga tidak bebas, masi harus diawasi ketika proses belajar berlangsung. Bahkan Militer menjadi pengajar di sekolah, mendidik Nasionalisme Indonesia. Ketika realitas berbeda dengan gaung nasionalisme diajarkan oleh Oknum oknum tertentu, anak didik menjadi bimbang, tidak mmepunyai harapan masa depan. Massa depan hanya mereka yang mendapatakan pendidikan melalui proses yang bebas, tidak mendapatkan intimidasi.

Disaat Orang Papua tidak mempunyai harapan hidup, sekolah pembebasan hadir untuk merangkai keidupan, rakit kembali harapan hidup, menyongsong massa depan Orangg West  Papua.

Sekolah menyususn sistem pendidikan Pembebasan, mendesain pendidikan gaya Orang Papua. Mendidik Orang Papua tentang Sejarah Perjuangan Kemerdekaan West Papua, mendidik Nasionalsme Bangsa West Papua, mendidik budaya Malaenesia di West Papua, Bahasa West Papua, memperkenalkan suku bangsa yang mendiami di Bumi west Papua.

Menyususn sistem Pendidikan di Sekolah Pembebasan. Menyusun Buku  mata pelajaran, silabus, RPP, maupun bahan ajar lain yang relefan. Menyususn buku buku Nasionalisme West Papua, mulai dari Sejarah Kemerdekaan West Papua, Undang Undang Dasar, Bendera, Lambang, lagu kebangsaan, mata uang dan simbol – simbol Negara kepada anak didik.

Anak didik bebas belajar, menyususn proyek advokasi persoalan mendasar, mengadakan riset, pelaporan dan publikasi hasil penelitian, menerapkan hasil penelitian. Menyusun materi dasar sebagai awal masuk sekolah pembebasan.

Sekolah membangun pendidikan kritis, siswa bebas berpikir kritis, menyusun konsep dan dapat mengaplikasikannya. Karena hidup ini harus bebas, bebas memilih sesuatu,  tidak harus memaksanakan kehendak orang lain.

Karena pendidikan menjadi aspek penting bagi pembentukan karakter individu karena melalui pola pemikiran yang kritis akan lahir generasi harapan bangsa. Sedangkan permasalahan pendidikan di Indonesia memang bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk diselesaikan.

Sekolah didominasi dengan sistem pendidikan konvensional, di mana transfer pengetahun terjadi secara sepihak. Tidak ada komunikasi yang dialogis antara guru dan anak didik. Mereka terbiasa menerima, mendengarkan dan menghafalkan pengetahuan yang dibentuk oleh guru.

Hal teresebut dapat melanggengkan budaya bisu yang hingga saat ini masih membelenggu masyarakat Indonesia. Butuh proses yang cukup panjang untuk menyamai kualitas pendidikan negara maju seperti Finlandia ataupun Jepang.

Metode pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah penonjolan pada tingkat hafalan, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman atau pengertian yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupan (Muslich, 2007). Guru sekedar diposisikan sebagai penyampai ilmu pengetahuan sedangkan murid sebagai penerima yang telah terikat dengan sistem tanpa dibiasakan mengembangkan ilmu  pengetahuan secara mandiri.

Pendidikan kontekstual, mendidik anak anak mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan rumah, social kemasyarakat. Ajari mereka apa yang mereka lihat dan rasakan, diskusi tentenag apa yang dilihat dan mersakan. Melakukan riset bersama, guru sebagai pelatih dan tim riset, menyusun hasil riset dan melaksanakan hasil penelitian sesuai kebutuhan. Model model pendidikan ini yang harus dibangun, diwacanakan, menerapkan sekolah sekolah rintisan pembebasan demi meraih kedaulatan rakyat West Papua.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *