Refrendum West Papua dalam Bayang Bayang Kapitalisme Global
Massa Aksi Menuntut Referndum (Ist)
Bahwa Indonesia tidak menginginkan orang Papua, Indonesia hanya menginginkan Tanah dan Sumber Daya Alam yang terdapat di dalam Pulau Papua. Jika, Orang Papua ingin merdeka silahkan cari pulau lain di Pasifik untuk merdeka. Atau meminta Orang Amerika sediakan tempat di Bulan untuk Orang-orang Papua menempati di sana.” Pernyataan Ali Murtopo pada Tahun 1966.
Tanah West Papua tidak pernah luput dari cengkeraman Kapitalisme. Kapitalisme itu, mengakar dan menjalar dalam sendi sendi kehidupan manusia West Papua. Dimana ada pemodal di sana membangun kekuatan militerisme, membangun sistem kapitalisme. Dengan demikian, kelas kelas social muncul di tengah kehidupan manusia.
Tanah West Papua diincar Oleh berbagai Negara di Dunia. Negara Negara kapitalis merebut Tanah West Papua. Negara terkuat dunia yang akan menguasai Papua. Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan Cina yang akan merebut Bumi West Papua. Bahkan kelima Negara ini akan membagi kekuasaan wilayah sesuai dengan kebutuhan koorporasi.
Kelima Negara ini, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan Cina merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dan mereka ini mempunyai kepentingan Investasi di Papua Barat. Untuk itu, tidak ada jalan keselamatan bersama Negara Negara Ini. Indonesia sebagai alat penjaga korporasi korporasi tersebut.
Diplomasi luar Negeri Indonesia bebas aktif di Lima Negara ini kuat dan meningkat. Hubungan kerja sama yang sangat Baik. Kerja sama investasi, perdagangan bebas, militer maupun kerja sama pendidikan, dan teknologi Informasi yang luar biasa. Jaminan Indonesia ke Negara Negara Kapitalis Global hanya Tanah West Papua.
Tanah West Papua digadai demi kepentingan Kapitalisme Global. Berikut ulasan singkat Negara Negara Hak Veto Dewan Keamanan PBB dan juga membangun Investasi korporasinya di Bumi West Papua. Para Investor Asing dari lima Negara membangun Koorporasi Korporasi di Wilayah Teritorial West Papua.
Amerika Serikat
Negara Amerika Serikat mempunyai perusahaan raksasa di West Papua, Freeport McMoran. Puluhan tahun menggeruk hasil bumi Papua Barat. Salah satu perusahaan yang berafiliasi dengan Perusahaan ini adalah PT Freeport Indonesia. PT Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.
PT Freeport Indonesia menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia. Freeport Indonesia memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga, emas dan perak ke seluruh penjuru dunia.
1936 – Jacques Dozy menemukan cadangan ‘Ertsberg’. 1960 – Ekspedisi Forbes Wilson untuk menemukan kembali ‘Ertsberg’. Pada tahun 1967 – Kontrak Karya I (Freeport Indonesia Inc.) berlaku selama 30 tahun sejak mulai beroperasi tahun 1973. Kemudian pada tahun 1988 – Freeport menemukan cadangan Grasberg. Investasi yang besar dan risiko tinggi, sehingga memerlukan jaminan investasi jangka panjang. Setelah itu, tahun 1991 – Kontrak Karya II (PT Freeport Indonesia) berlaku 30 tahun dengan periode produksi akan berakhir pada tahun 2021, serta kemungkinan perpanjangan 2×10 tahun (sampai tahun 2041).
Negara Inggirs
Negara Inggris mempunyai Koorporasi British Petroleum yang berkantor di London. Koorporasi ini mulai beroperasi pada tahun 2009. Sedangkan lading ini ditemukan pada tahun 1990-an. Ladang gas Tangguh (2°26′14″S 133°8′10″E) merupakan sebuah ladang gas alam yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, Indonesia. Ladang gas ini mengandung lebih dari 500 miliar m³ (17 Tcf) cadangan gas alam terbukti, dengan taksiran cadangan potensial mencapai lebih dari 800 miliar m³ (28 Tcf). Ladang ini terbentuk pada zaman Jura.
Ladang gas Tangguh dikembangkan oleh sebuah konsorsium beberapa perusahaan internasional, yang dipimpin oleh British Petroleum (37% saham), CNOOC (17%), dan Mitsubishi Corporation (16,3%). Mitra-mitra yang lebih kecil adalah perusahaan-perusahaan Jepang, yaitu Nippon Energy, Kanematsu, Sumitomo, dan Nissho Iwai.
Cina, Tiongok
Negara Cina Merupakan salah satu Negara Hak Veto Dewan Keamanan PBB. Jika West Papua menolak investasi kapitalisme bidang kelapa Sawit maka, menolak dukungan PBB dari Negara Cina. Kelapa Sawit yang dibangun di Papua maupun Papua Barat merupakan dukungan dana dari cina, yang bermarkas di Tiongkok.
Negara Rusia
Negara Rusia merupakan salah satu dari lima Negara Hak Veto. Rusia mempunyai kepentingan Investasi di bumi West Papua Bidang Peluncuran Satelit di Biak Papua. Program Satelit ini tentunya didukung oleh Pemerintah Indonesia, dan mempertahankan West Papua Bagian dari Indonesia demi kepentingan Rusia di wilayah Pasifik.
Negara Prancis
Negara Prancis merupakan salah satu dari lima Negara Hak Veto Dewan Keamanan PBB dan juga tidak mempunyai kepentingan Investasi di tanah West Papua. Negara ini perluh dijajaki Oleh Diplomat Diplomat Luar Negeri West Papua untuk menentukan Nasib Bangsa West Papua. Bisa juga merundingkan kepentingan Nasional West Papua dengan Negara Ini.
Negera Negara Lain mempunyai Investasi di Bumi West Papua
Koorporasi yang sudah beroperasi selain LNG Di Bintuni, Freeport, Kelapa Sawit, Satelit. Ada beberapa perusahaan yang sedang ekspoloitasi hasil bumi, seperti Hillgrove Resources dari Australia, penghasil Emas di Kepala Burung Peninsula, Papua dan telah eksploitasi. Killara Resources dari Australia, penghasil Batu Bara di Kepala Burung Peninsula, Papua dan Perusahaan ini baru diberitahukan.
KG dari Jepang, penghasil LNG di Teluk Bintuni: Tangguh Unit, Papua dan masih beroperasi. Painai Gold dari Australia, penghasil Emas di Sungai Degeuwo, Papua dan masih beroperasi. PT. Akram Resources dari Indonesia, penghasil Emas di Kepala Burung Peninsula, Papua dan telah eksploitasi.
PT. Anugerah Surya Indontama dari Indonesia, penghasil Nikel dan Kobalt di Raja Ampat: Kawe Island, Papua dan masih beroperasi. PT. Anugerah Surya Pratuma, penghasil Nikel dan Kobalt di Raja Ampat: Kawe Island, Papua dan masih beroperasi. PT. Kawe Sejahtera dari Indonesia, penghasil Nikel dan Kobalt di Raja Ampat: Kawe Island, Papua dan masih beroperasi.
Perusahaan MI Berau dari Jepang, penghasil LNG di Teluk Bintuni: Tangguh Unit, Papua dan masih beroperasi. Nippon Oil dari Jepang, penghasil LNG di Teluk Bintuni: Tangguh Unit, Papua dan masih beroperasi. Queensland Nickel dari Australia, penghasil Nikel dan Kobalt di Raja Ampat, Papua dan masih mengimpor-impor Nikel.
Rio Tinto dari Australia, penghasil Emas dan Tembaga di Timika: Grasberg Mine, Papua dan masih beroperasi. Santos dari Australia, penghasil Oli di Kau, Cross Catalina, Papua dan sudah mengeksploitasi. Talisman Energy dari Canada, penghasil LNG di Teluk Bintuni, North Semai, Papua dan masih beroperasi. West Wits Mining Ltd dari Afrika Selatan, penghasil Emas, LNG di Sungai Degeuwo,Paniai-Papua dan masih beroperasi (daftar perusahaan asing, nonton BloombergTV).
Perang Dagang di Asia Pasifik
Cina dan Amerika Serikat sedang perang dagang. Amerika Melarang Indonesia untuk membeli pesawat tempur dari Rusia. Tiongkok membanjiri pasar Indonesia. Rusia dan Cina, Tiongkok semakin akrap. Negara Negara kapitalis Barat Amerika dan Inggris menjadi sekutu abadi. Posisi Indonesia saat ini sedang bangun komunikasi efektif dengan Cina dan Rusia.
Bagaimana Posisi West Papua dengan Negera Negara Hak Veto?
Amerika Serikat, Inggris, Rusia dan Cina mempunyai Kepentingan Koorporasi di West Papua. Mereka akan membangun Kerja sama dengan Indonesia untuk menguasasi West Papua. Untuk itu, Posisi West Papua saat ini harus bangun komunikasi dengan Negara Prancis, membangun kerja sama bidang Investasi demi peluang soal West Papua di Meja PBB. Penulis berpendapat bahwa peluang kerja sama para diplomat West Papua dengan Pemerintah Negara Prancis masi terbuka.
