Pegunungan Bintang Mulai Terapkan Pendidikan Kontekstual

0
IMG-20210731-WA0023-2

MANDALAPAPUA.COM—-Program 7 Sentra Pembangunan yang digagas bupati Spey dan wakilnya Piter Kalakmabin kini mulai nyata. Dari 7 Sentra Pembangunan khususnya di bidang Pendidikan sudah mulai terapkan pendidikan berbasis kontekstual atau berbasis budaya.
Penerapan Pendidikan Kontekstual ini atas inisiasi Pemerintah daerah Pegunungan Bintang dengan Yayasan Alerena guna mengembangkan imajinasi anak, krakter, pengembangan ilmu pengetahuan anak dari tingkat dasar.
Menurut Kepada Dinas Pendidikan, Drs. Ananias Kalakmabin, M,SI kepada media ini usai kunjungan 100 hari kerja ke SMP Negeri Ok Aom mengatakan pemberlakukan pendidikan kontekstual atau budaya di 7 sentra pendidikan, namun saat ini ada empat sentra Pendidikan yang mulai terapkan tahun ajaran 2021 diantaranya SMP Iwur, SD Inpres Dabolding, SMP Negeri Oksibil dan SMP OkAom.
Kepala Dinas mengatakan “Sekolah sekolah ini terapkan Pendidikan Kontekstual, dan tidak mengurangi kurikulum nasional atau KBM seperti biasa, hanya metode pendidikan kontekstual atau berbasis budaya yang menjadi pedoman dalam belajar mengajar materinya”kata Ananias Kalakmabin.
Menurutnya lebih banyak peraktek berbahan lokal, semua potensi yang ada digunakan sebagai media belajar, termasuk hasil bumi, air, alam, angina dan lainnya.
Selain itu, Kepala Bidang pendidikan Dasar, Hengki Bidana, S.Sos mengatakan 4 sentra pendidikan ini menerapkan pendidikan berbasis budaya atau pendidikan kontekstual yang mampu merangsang anak anak untuk menyentuh langsung dengan media belajar yang ada.
Hengki Bidana mengatakan “Pemerintah Canangkan Ada 7 pusat pendidikan, namun tahun ini 4 sekolah yang akan mulai KBM dengan metode pendidikan kontekstual, sedangkan 3 lain dimulai tahun depan”tegasnya.
Untuk itu, menurut Hengki penerapan metode tersebut membuat tidak senang antara Guru lokal dengan guru hebat dan Guru Arilena. Bukan begitu. Kehadiran mereka membantu menerapkan pendidikan kontekstual tersebut, ujarnya.
Menurutnya, pemerintah daerah dalam hal ini dinas pendidikan dan Yayasan Arilena akan buat modul atau buku ajar tentang metode pendidikan kontekstual tersebut. Guru Yayasan Arilena yang didatangkan sebanyak 18 orang tersebut akan mendampingi guru guru yang ada sampai guru mampu menerapkan pendidikan kontekstual tersebut.
Sementara, Kepala BAPPEDA mengatakan beberapa sekolah menerapkan metode kontekstual atau berbasis budaya karena melihat tingkat partisipasi murid dalam kenaikan atau kelulusan siswa di sebuah jenjang pendidikan. “Misalnya 1000 anak mengikuti ujian Nasional tingkat SD, masuk SMP hanya 600 anak, masuk SMA hanya 200 anak, hingga Perguruan tinggi hanya 50 anak. Untuk itu, metode praktis ini digunakan guna memahami cepat disegala ilmu, agar bisa memenuhi target yang disiapkan oleh dinas atau pemerintah”ujarnya.

Fransiskus Kasipmabin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *