Logika Berpikir Perempuan Pegunungan Bintang Terhimpit Dalam Perasaan

0
20210803_074607

OLEH DESIANA KALAKMABIN

Mengawali tulisan ini, saya (Selanjutnya disebut penulis) menceritrakan sedikit pengalaman yang bagi penulis adalah sebuah gebrakan sekaligus menjadi alasan utama dalam tulisan ini. Beberapa hari yang lalu penulis dan beberapa rekan-rekan penggerak organisasi tingkat lokal lainnya bercengkrama mengenai kepemimpinan seorang Perempuan. Awalnya kami bergurau agar organisasi-organisasi yang akan mengadakan musyarah besar memilih ketua umum seorang perempuan. Lalu saya berpikir, lebih baik ketua organisasi adalah laki-laki, dibanding dipimpin oleh seorang perempuan karena seorang laki – laki egonya lebih tinggi. Kalimat ini membuat penulis merenung sejenak kemudian dalam berjalanya waktu penulis menyadari ada satu hal utama yang selalu ganjal yaitu “Perasaan”. Dan perasaan inilah yang menjadi dominan dalam setiap perempuan Pegunungan Bintang yang mungkin bagi penulis adalah sebuah halangan, hambatan atau logika berpikir yang terbalik. Karena itu penulis jadikan kalimat tersebut sebagai pembuka dari tulisan ini karena kata-kata tersebut pula yang membuat saya tertarik mengupas mengenai kepemimpinan seorang perempuan.
Terlebih dahulu penulis mengatakan sewaktu belajar mengenai kordinator dari salah satu komunitas interen perempuan di tingkat mahasiswi “Kuminitas Perempuan Oksopsebang (HIMAPOKBA)” saya pernah berkata “kunci menjadi seorang pemimpin adalah berusaha untuk mempengaruhi orang lain”. Kemampuan untuk mempengaruhi pengikutnya adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu Efektivitas. Seorang pemimpin mempengaruhi dan mengarahkan anggotanya, Selain itu pemimpin memainkan peranan penting dalam sebuah permainan yang dinamakan kepemimpinan Seorang pemimpin harus memiliki kecakapan untuk mempengaruhi semangat anggota dan gairah semangat belajar dan juga kualitas berorganisasi, Pada Intinya kepemimpinan adalah suatu proses yang dapat mempengaruhi tindakan orang lain agar mau mengikuti kemauan kita untuk mempengaruhi perilaku atau tindakan orang lain. Kemudian berbicara mengenai kepemimpinan seorang perempuan dan kepemimpinan seorang laki-laki adalah topik yang selalu diperdebatkan setiap hari. Saat ini di daerah mana pun baik di tingkat mahasiswa maupun tingkatan lain khususnya di daerah Pegunungan Bintang. Hal ini Nampak dalam seluruh bidang hidup kepemimpinan pada beberapa periode yang didominasi oleh kaum laki-laki baik pemerintahan maupun swasta.
Melihat realita tersebut, banyak kali beberapa pihak pernah menanyakan baik lewat media secara lisan maupun tertulis terkait hal ini “Kenapa setiap pemimpin memilih pemimpin seorang laki-laki saja? Dimana tempat perempuan untuk berkarir? Kapan perempuan dan laki-laki Pegunungan Bintang duduk di kursi yang sama tinggi dan sama rendah? Jawabannya adalah laki-laki menggunakan logika, sedang perempuan menggunakan perasaan, Bukankah ketika kita memahami konsep kepemimpinan sebagai sebuah sikap untuk mempengaruhi orang lain maka perasaan akan dinomorsatukan agar seseorang mampu terpengaruh lalu mengikuti perintah seorang pemimpin, Atau pertanyaan lain, ketika kepemimpinan sebagai hal diatas maka seberapa hebat perempuan yang katanya logikanya terhimpit oleh perasaan dalam memimpin?

Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak saya dan saya greget untuk segera menulisakan pendapat saya dalam tulisan ini. Penulis mengatakan bahwa keutamaan seorang perempuan sebagai pemimpin adalah kemampuan untuk memelihara hubungan “Relasi”. Kaum perempuan memiliki kemampuan alami untuk menciptakan, memelihara serta mendorong pertumbuhan organisasi demi dan bersama orang lain. Selayaknya mama melahirkan anak lalu mendidik dan membesarkanya dalam kasih sayang penuh “Perasaan”. Seorang perempuan dapat belajar ketika mendapatkan penolakan dan berada pada posisi sulit. Pemimpin seorang perempuan mampu melibatkan seluruh tim dalam pekerjaan dan seorang perempuan yang katanya “logikanya terhimpit perasaan” akan mengesampingkan logika dan berani mengambil resiko untuk keputusan besar ketimbang kaum pria.

Dari beberapa penjabaran literatur yang saya baca, seorang perempuan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi seseorang lebih dari pada kemampuan seorang laki-laki, Namun laki-laki mampu mengemukakan pendapat secara lantang didepan publik sehingga beliau bisa menguasai banyak masa. Disini penulis mengatakan bawah Seorang laki-laki memiliki kehatian-kehatian dalam mengambil keputusan karena cenderung menggunakan logika, sementara seorang perempuan lebih berani menentang logika dan mengambil resiko dalam membuat keputusan. Disini penulis mengambil kesimpulan bahwa perasaan tanggungjawab seorang perempuan mengalahkan logika kehati-hatian kaum pria. Artinya bahwa kepemimpinan kaum wanita sama derajatnya dengan kaum pria yang sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan yang tentunya membutuhkan keseimbangan. Karena itu seorang pemimpin penting untuk melihat keserasian antara kaum pria dan wanita dalam setiap tugas dan perempuan sebaiknya mengolah dominasi perasaan takut, malu, minder, merasa tidak bisa, tidak mampu dan lainya yang saat ini menjadi penghalang utama.

Dalam artikel ini penulis mengharapkan khusus untuk perempuan Pegunungan Bintang agar kedepan kita kaum wanita juga mampu memimpin orang lain. Penulis berpikir sebaiknya kita budayakan keberanian dalam mengambil keputusan karena sampai sejahu ini kita perempuan Pegunungan Bintang mempunyai kemampuan yang bagus melebihi kaum laki-laki tetapi karena ke egoisan mereka dalam berlogika, serinng menutup ruang gerak kita perempuan untuk belajar mengambil langkah lebih baik menjadi seorang pemimpin.

Penulis juga mengharapkan agar untuk semua perempuan Pegunungan Bintang supaya kita saling memotivasi, belajar mengenal diri, belajar berbagai hal dalam dengan berbagai cara supaya beberapa tahun yang akan datang kelak menjadi pemimpin di daerah kita, ditingkat provinsi bahkan bisa menjadi pemimpin di tingkat nasional.
Memang pada dasarnya tugas menjadi seorang pemimpin adalah baik laki-laki maupun perempuan siapa saja menjadi pemimpin tugas kita bersama adalah saling mendukung karena seketika seorang laki-laki dan seorang perempuan bekerja sama dalam sebuah kepemimpinan, penulis yakin komunitas tersebut dapat berjalan lancar dan membuahkan hasil yang lebih baik. Jika tidak maka persoalan gender dalam setiap bidang hidup akan tinggal slogan “Kaum Pria lebih baik dari kaum wanita” atay sebaliknya.

Penulis menyadari kepemimpinan bukanlah mempersoalkan pada jenis biologis tetapi mengenai kerja sama dalam tim antara laki-laki dan perempuan tentang kesetaraan. Siapapun pemimpinnya keberhasilan dari anggotanya dilihat dari kerja sama yang baik dalam keseimbangan antar perempuan dan laki-laki. Tetapi di sini penulis lebih mengharapkan kepada kaum perempuan bawah kita harus menyadari akan hal “ saya pasti bisa, kenapa laki-laki menjadi pemimpun lalu saya tidak” dengan berlandaskan motivasi itu penulis sangatlah mengharapkan khusus untuk perempuan Pegunungan Bintang supaya mengutamakan dalam berpendidikan dan berorganisasi agar kemampuan menjadi seorang pemimpin dibentuk agar di kemudian hari kelak menjadi pribadi yang bernilai di daerah kita berasal. Lihatlah banyak perempuan hebat dari Papua lain yang mendomnasi di tingkat local, regional dan nasional menjadi pemimpin hebat, dipujih karena kinerja yang baik dan berkualitas. Penulis sebagai seorang mahasiswi yang memiliki merasa banyak keterbatasan, merasa tidak mampu bersaing dengan mahasiswi daerah lain yang punya kecerdasan yang lebih tinggi dibanding saya tetapi saya berharap waktu akan berputar dan suatu saat perempuan Pegunungan Bintang akan menjadi Bintang di ufuk Timur Nusantara-Papua.

Penulis Adalah Mahasiswi Papua Asal Pegunungan Bintang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *