Hadirnya Barang Subsidi Tekan Harga Sembako di Oksibil Pegunungan Bintang

0
20210715_074508

OKSIBIL, MANDALAPAPUA.COM—Pemerintah Daerah melalui Dinas Perindustrian, Perdangan dan Koperasi dan Dinas Perhubungan Pegunungan Bintang telah melakukan kerja sama dengan kementrian Perhubungan di Jakarta untuk melakukan subsidi Penerbangan dengan tujuan mengangkut barang Sembako di wilayah Pegunungan Bintang.
Hadirnya barang sembako di Oksibil, memudakan warga Pegunungan Bintang jual beli dengan harga barang yang murah meriah. Akibatnya, harga Sembako di Oksibil dan sekitarnya trun drastis. Terkait dengan harga barang yang turun ini, warga masyarakat merspon posifi terhadap pemerintah Pegunungan Bintang dibawah kepemimpinan Spey-Piter.
Seni Kalakmabin, salah satu Distributor Barang Sembako ke distrik distrik kepada media ini, Jumat,8 Juli 2021 mengatakan hadirnya barang subsidi di wilayah Pegunungan Bintang menekan harga sembako yang melambung tinggi di Oksibil dan sekitarnya.
“Hadirnya barang subsidi di Oksibil dan sekitarnya, telah berhasil menekan harga pasaran turun drastis”ujar Seni Kalakmabin. Untuk itu, menurut seni harus ada peningkatan kuantitas dalam bentuk ton dan Plait per minggu.
“Selama tiga bulan barang subsidi kami layani masyarakat, dalam seminggu 4 kali flite penerbangan dengan kapasitas 6 ton per Flite, menggunakan pesawat Trigana Air Service”terangnya.
Menurut Seni, harga relative murah ini sudah menekan harga sembako, harganya turun drastis. Bisa survey ke toko atau kios, harga barang sudah turun drastis, bebernya. Masyarakat merasakan harga sembako karena penada juga menjual sesui harga yang sudah ditetapkan pemerintah daerah Pegunungan Bintang.

Kemudian lebih lanjut ia menjelaskan pendistribusia barang Sembako mencapai 60 persen. Menurutnya, 60 % distrik sudah menerima manfaat dari Sembako. “Tata Cara penjualan di distrik, penada membeli di Gudang untuk jual di distrik distrik yang sudah ditentukan. Dari 34 distrik 60% sudah distribusi ke distrik distrik menggunakan penerbangan perintis, masyarakat sudah merasakan manfaat subsidi”ujar Seni Kalakmabin.
Sementra itu Menurut warga, pemerintah Daerah lakukan Supsidi Penerbangan dari Surabya-Merauke-Oksibil, untuk itu harga yang ditetapkan di oksibil, harga Jawa. “ Harga sembako seharusnya harga jawa, bukan harga Oksibil, karena barangnya gratis dari Surabaya sampai di Oksibil. Kalo untuk distrik2 jauh menggunakan pesawat udara ya, bisa dinaikkan harnya”ujar MK, salah satu warga yang tidak ingin dimediakan namanya kepada media ini di Oksibil pekan lalu.
Supsidi Penerbangan Menekan Harga Sembakao di Oksibil
Penyebab utama tingginya harga Sembilan bahan pokok (Sembakao) di Pegunungan Bintang disebabkan karena harga timbangan pesawat udara di Bandar Udara Sentani Jayapura maupun di Bandar Udara Tanah Merah, Boven Digoel terbilang cukup mahal.
Pegunungan Bintang merupakan satu satunya kabupaten di daerah Pegunungan Papua yang belum tembus Jalan Darat Lintas Kabupaten meliputi wilayah Selatan kabupaten Boven Digoel, Utara kabupaten Keerom, bagian Barat kabupaten Yahukimo dan Yalimo. Walau sudah dikerjakan sampai dengan tahun 2019 ini belum juga terhubung ke Pegunungan Bintang, Oksibil sebagai pusat pemerintahan ataupun pusat perdagangan di wilayah Pegubin.
Daerah ini hanya dilalui melalui transportasi udara, menggunakan pesawat udara Jenis Trigana Air Service ataupun jenis pesawat kecil seperti AMA, Twin Otter, Dimonim Air. Akibatnya harga barang dagangan di Oksibil melambung tinggi. Harga barang melambung tinggi dipengaruhi oleh harga belanja dan harga timbangan di Sentani Jayapura maupun Boven Digeol. Harga timbangan berkisar antara 25.000 sampai dengan 30.000 rupiah.
Harga barang di daerah Pegunungan Papua, di Pegunungan Bintang harganya cukup mahal. Misalnya Bimoli 5 liter di Jayapura seharga 100.000, di Oksibil dijual dengan harga 200 000;. Atau bensin satu liter di Jayapura seharga 6 000; Oksibil seharga 40 000;. Beras 25 Kg dijual dengan harga 800 000;.


Hal ini membuat masyarakat yang hidup di Kota Oksibil dan sekitarnya pupus harapan, lantaran sumber pendapatan warga tidak ada. Hanya berbekal menjual hasil bumi di Pasar Mabilabol, tidak mampu membeli sembakao di Oksibil untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Mama Ema Tapyor, misalnya mengisahkan kepada media ini ketika sambangi pasar Mabilabol mengatakan pembeli sangat kurang, walau sudah datang ke pasar tapi hanya mondar mandir saja baru pulang, katanya.
Kemudian Ia menjelaskan para Aparatur Sipil Negara (ASN) Orang Asli (OAP) sendiri tidak pernah belanja di Pasar. “Mungkin mereka biasa beli makanan jadi di warung makan, sehingga tidak belanja sayur segar maupun hasil bumi di Pasar Mabilabol sini”ucapnya.
Minimnya pembeli di Pasar Mabilabol, penjual sayur dan hasil bumi mengelu lantaran pendapatan turun drastis. Di Oksibil uang seratus ribu tidak cukup untuk belanja kebutuhan hidup, karena hara barang di Oksibil mahal.

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *