Meningkatkan Daya Saing Bangsa, Bupati Pegunungan Bintang Meminta Masyarakat Produktif
Bupati Spey Bidana mengatakan Pegunungan Bintang sebagai contoh Greend Desain Pembangunan Papua, yang akan menjadi Sentra Pembangunan Papua. Karena Pegunungan Bintang juga merupakan pros tengah Pulau Papua, baik Papua Barat maupun Papua New Gunea. Untuk itu, Projek pembangunan dari kementrian Pusat diarahkan membuka dan membangun keterisolasian wilayah Pegunungan Bintang, Papua.
OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Sebagai seorang Perancang Pembangunan, dan juga pernah menjabat sebagai kepala BAPPEDA kabupaten Pegunungan Bintang, Spey Yan Bidana, ST., M.Si mempunyai wawasan luas bagaimana menggunakan Anggaran yang tersedia untuk masyarakat bisa berdaya saing di semua segi. Kepemimpinan SEPTE ini masyarakat diarahkan bisa bekerja mandiri menghidupi keluarganya sendiri. Pemerintah hanya bisa menyertakan modal awal kepada para pengusaha di bidang apapun agar mandiri ekonomi yang digagas SEPTE itu bisa terwujud.
Bupati Pegunungan Bintang memberikan ceramah umum terkait Visi dan Misi Pembangunan Pegunungan Bintang lima tahun ke depan sekaligus membuka acara seminar Nasional memperingati HUT Pegunungan Bintang ke 18 Tahun yang diselenggarakan pada tanggal 7 April 2021 di aula kantor bupati, Kukding Okpol.

Kegiatan yang dihelat selama 3 hari tersebut menghadirkan nara sumber dari pusat, provinsi dan sejumlah tokoh di daerah dengan materinya memberikan evaluasi pembangunan, pokok pokok pikiran mendukung Visi dan Misi dan memberikan rekomendasi kepada bupati dan wakil bupati periode 2020-2025.
Dalam sambutannya Bupati Spey Bidana menandaskan untuk merayakan ulang tahun kabupaten pada tahun ini tidak seperti tahun tahun sebelumnya. Tahun tahun sebelumnya hanya merayakan secara seremonial, bakar batu, acara hiburan dan bentuk kegiatan lainnya. Tetapi tahun ini harus ada nuansa baru yaitu kegiatan Seminar Nasional, harus ada kajian akademik untuk mendokumentasikan Pegunungan Bintang dulu, sekarang dan Masa depan seperti apa.
Spey mengatakan “ulang tahun kabupaten Pegunungan Bintang tahun ini ada nuansa baru. Tidak seperti yang tahun tahun yang lalu yang kita pesta, tapi kali ini harus ada proses kajian akademik menjadi refrensi pengetahuan dan pikiran untuk menambah pengetahuan untuk rancang program lima tahun ke depan. Melibatkan akademisi, tokoh intelektual, yang akan mendorong pembangunan Universitas Okmin Papua”ucapnya.
Menurutnya, kita harus memulai dari diri kita sendiri. Memperbaiki pendidikan dasar melibatkan satuan satuan pendidikan, bermitra dengan pihak ketiga yang bisa mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Pegunungan Bintang.
“Pendidikan dasar dan menengah harus ditingkatkan baik kualitas maupun kuantitas pelayanan Pendidikan. Sehingga anak anak selesai pendidikan melanjutkan ke Perguruan tinggi yang kita siapkan yaitu Universitas Okmin Papua”ujar Bupati Spey yang juga Alumni Magister UGM Yogyakarta ini.
Menurutnya selain menyiapkan SDM Pegunungan Bintang, Infrastruk pendukung harus digerakkan guna mengejar ketertinggalan Pembangunan daerah. Sarana Prasaran Penunjang Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur lain seperti listrik, Jalan, Jembatan, Perumahan bagi warga masyarakat agar rakyat itu bisa merasakan sentuhan pembangunan dari Pemerintah.
“Percepatan pembangunan jalan Darat Oksibil-Boven Digoel dan Oksibil Jayapura itu harus terrealisasi. Karena jalan itu merupakan Jalan trans Nasional dari Presiden Jokowi periode pertama. Untuk itu, Jokowi periode ke dua ini harus terhubung” ujar Spey, mantan kepala Bappeda tersebut.
Pegunungan BIntang ini wajah dan beradan Negara karena berbatasan langsung dengan Negara PNG. Kabupaten di Papua yang berbatasan langsung dengan PNG itu Jayapura, Keerom, Pegunungan Bintang, Boven Digeol dan Merauke.
Kemudian Bupati menjelaskan selain infrastruktur yang bisa menunjang Peningkatan kesejahteraan rakyat, tentu kemandirian ekonomi menjadi hal penting dalam kesejahteraan rakyat. Masyarakat harus berdaya saing di bidang ekonomi produktif. Kelola hasil bumi yang ada, produksi dan memasarkan hasil bumi.
Otsus sudah 20 tahun gucurkan dana tetapi belum memicu pertumbuhan ekonomi orang Papua. Karena bagaimana proteksi untuk pemberdayaan rakyat itu bisa hidup mandiri itu belum ada. “Kita masi orientasi proyek, sedangkan kita tidak berpikir bagimana berdayakan masyarakat melalui produksi kekayaan alam Papua itu belum ada”ujarnya.
Untuk itu, menurutnya kita coba mau memulai dari sini, Pegunungan Bintang. Kita dorong supaya keberpihakan terhadap masyarakat adat. Proteksi, Keberpihakan, pemberdayaan dan perlindungan yang dijamin dalam UU Otsu itu. Negara sudah akui itu. Namun sampai hari ini, para pimpinan di Papua belum memihak bagaimana supaya, orang Papua asli ini mandiri menghidupkan dirinya sendiri belum. Sehingga sampai hari ini kita minta minta.
“Saya sering bilang, manerepse-manerepse, itu yang membuat orang Papua tidak berdaya. Teman teman dari luar sudah tau, sudah siap dia seperti apa. Dia datang dan akan hidup, kembangkan kemampuannya” tegas bupati.
Kalo kita bicara 20 tahun untuk bangun ekonomi yang berpihak itu belum. Semua orang Papua diarahkan untuk berbicara di bidang ekonomi, kalo ekonominya kuat akan berpengaruh ke bidang bidang yang lain. Kalo ekonomi kuat, tidak perluh urus pendidikan, menganggarkan untuk biaya pendidikan banyak.
Oleh karena itu, dana kita siapkan untuk pengembangan SDM Pegunungan Bintang. Potensi pendapatan Orang asli tidak ada, akhirnya kita anggarkan bantuan untuk Pendidikan, supaya bisa mendapatkan akses pendidikan selayaknya. Kita pastikan APBD untuk pendidikan supaya generasi hari ini, prospek pendidikan dasar supaya prospek pendidikan mendatang bisa menghasilkan manusia yang cerdas.
Menurut Bupati Spey, akibat Corona APBD Pegunungan Bintang pangkas 100 Miliar. Makanya kita harus menggerakan potensi potensi daerah ini harus digrap untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat. Tujuan dari pemekaran kabupaten, provinsi itu berjuan untuk menghidupi dirinya sendiri. Bisa biayai pembangunan daerah melalui PAD.
Tapi sampai dengan hari ini 99 persen Kabupaten Kota di Papua itu berhadap dan bersumber dari APBN. Kepala kepala dinas harus produktif, bangun Inovasi tidak konfensional seperti periode kemarin, orientasi proyek itu tidak ada. Berfikir bagiaman merancang daerah ini harus maju, berfikir inovasi dan kreasi.
Pembangunan Berbasis Ap Iwol

Pembangunan di Pegunungan Bintang selama kepemimpinan Spey-Piter akan diarahkan kepada masyarakat adat. Sasaran pembangunan berdasarkan Ap iwol, sehingga pemerataan pembangunan dapat terwujud. Termasuk Ap Iwol sebagai pusat atau basis Pembangunan, juga sebagai marga, tanah, kekayaan Alam.
Menurutnya, Hasil dari kegiatan ini bisa buat pemetaan ap iwol yang ada di OkMekmin dan buat perda, supaya tanah itu menjadi milik komunal, kita juga bisa dorong reformasi di bidang agaria, bagaiaman mengangkat dan mengakui kepemilikan tanah di Papua maupun di Pegunungan Bintang.
“Kepemilikan tanah untuk person tidak ada tetapi ini marga, kita dorong supaya ke depan itu sertifikat tanah komunal, supaya generasi ke depan tidak disinggirkan tetapi bisa mengakui kepemilikan tanah. Sampai dengan pengelolaan tambang rakyat, kita dorong supaya seluruh izin izin WPR dari itu harus diserahkan kepada masyarakat adat, supaya bisa kelola dan rakyat bisa makmur”beber Spey.
Kemudian, SKPD mengajak ASN dan masyarakat supaya kota ini harus bersih. Kita canangkan jumat bersih. Karena Pegunungan Bintang merupakan Sentra Papua, sungai sungai terpanjang di Papua mulai dari Pegunungan Bintang, pusat Hirogi Papua, pusat Konservasi Papua, sehingga seluruh kampung dan distrik harus bersih, jaga lingkungan dengan baik sehingga memberikan Oksigen yang baik, memberikan humus kepada daerah daerah dibawa untuk menghidupi rakyatnya, terangnya.
Penulis: Fransiskus Kasipmabin
