HUT Pegunungan Bintang Ke-18: Pemda Rencanakan Seminar Nasional di Oksibil
OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Pegunungan Bintang ke-18 yang akan jatuh pada tanggal 12 April mendatang, Pemerintah Daerah berencana mengadakan Seminar Nasional bertempat di Oksibil. Seminar Nasional ini bertemakan “Pegunungan Bintang Dulu, Sekarang dan Akan Datang”.
Rilis yang diterima Media ini 3 April 2021, Ketua panitia HUT Pegunungan Bintang yang ke-18, Agustinus Urpon, SE menjelaskan terkait mengapa harus mengadakan seminar Nasional yang akan diadakan di Oksibil, tujuan seminar dan para pemateri yang akan hadir dalam seminar Nasional tersebut.
Menurut Ketua Panitia, Pegunungan Bintang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Papua New Gunea. Pegunungan Bintang masih diliputi persoalan kemiskinan, kebodohan, keterisolasian, ketertinggalan, keterbelakangan, ketidakadilan dan kematian. Persoalan pembangunan tersebut tercermin dari angka indeks pembangunan manusia Pegunungan Bintang yang masih jauh dari standar nasional.
Agustinus Urpon mengatakan “menurut data BPS tahun 2020, Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Pegunungan Bintang masih di bawah rata-rata nasional, yaitu 45,44 IPM dengan rincian sebagai berikut: Angka Harapan Hidup (AHH) 64,44, Rata-rata Lama Sekolah (RLS) 2,81 Tahun, Harapan Lama Sekolah (HLS) 6,25 Tahun dan Pengeluaran perKapita Disesuaikan (Rupiah/Orang/Tahun) Rp 5.409.000” ucapnya.
Menurutnya, data IPM tersebut menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat Pegunungan Bintang masih sangat rendah sehingga dibutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi rakyat dan infrastruktur. Sejak kabupaten Pegunungan Bintang dibentuk berdasarkan Undangundang nomor 26 Tahun 2002 bersama 13 kabupaten lainnya di Provinsi Papua yang disahkan pada tanggal 12 April 2003 Pemerintah Daerah terus berupaya dengan berbagai strategi dan kebijakan pembangunan. Namun selama ini strategi dan kebijakan yang diterapkan belum sepenuhnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat Pegunungan Bintang menjadi cerdas, sehat dan sejahtera.
Oleh karena itu, pada awal masa kepemimpinan Bupati Pegunungan Bintang Spey. Yan Birdana, ST.,M.Si, dan Wakil Bupati Piter Kalakmabin, A,Md (SEPTE) mengusung Visi “Pembangunan Pegunungan Bintang Sehat, Cerdas, Mandiri Ekonomi Berbasis Budaya dan Tata Ruang” terus membangun sinergitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak dari tingkat pusat hingga daerah untuk mempercepat pembangunan Pegunungan Bintang.
Bupati dan Wakil Bupati terpilih menyadari bahwa tanpa adanya dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak tidak akan mewujudkan visi dan misinya. Oleh karena itu, sebagai tahap awal dalam momen Hari Ulang Tahun Kabupaten Pegunungan Bintang yang ke 18 yang jatuh pada tanggal 12 April 2021 ini akan menyelenggarakan Seminar Nasional selama tiga hari, mulai dari tanggal 7-9 April 2021 dengan mengundang narasumber dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Papua, DPRP, MRP, Pemerintah Daerah, Akademisi, Tokoh Gereja, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda agar memberikan saran dan rekomendasi untuk percepatan pembangunan Pegunungan Bintang selama 5 tahun mendatang.
Ia menjelaskan seminar hari pertama tanggal 7 April 2021 membahas tentang strategi pembangunan Pegunungan Bintang berbasis budaya. Topik ini sesuai dengan Visi SEPTE, yaitu “Pembangunan Pegunungan Bintang Sehat, Cerdas, Mandiri Ekonomi Berbasis Budaya dan Tata Ruang”. Topik tentang budaya sangat penting dibahas dalam seminar tersebut karena budaya merupakan jiwanya manusia Papua. Budaya itulah yang menghidupi mereka dengan nilai-nilai yang dimilikinya. Nilai-nilai itu telah hidup, menghidupi dan mengarahkan kehidupan mereka menjadi aman, damai dan sejahtera.
Namun, salah satu persoalan yang muncul saat ini adalah adanya gejala-gejala krisis jati diri dan karakter suku bangsa, rendahnya pengetahuan mengenai kebudayaan, dan minimnya pelestarian kebudayaan yang terjadi dalam masyarakat Pegunungan Bintang belakangan ini. Padahal budaya sebagai rohnya masyarakat Pegunungan Bintang yang senantiasa memberikan kekuatan untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, pelestarian nilai-nilai budaya mutlak dilakukan secara holistik dan komprehensip dengan cara meneliti, dokumentasi, menyebarkan dan mendayagunakan untuk kepentingan multi dimensi pembangunan.
Dengan adanya seminar tersebut diharapkan nilainilai budaya Pegunungan Bintang yang dimiliki suku Ngalum, Ketengban, Murop, Kimki, Lepki, Arimtap, Yetfa, dsb dapat diinteralisasikan dan integrasikan dalam pembangunan daerah agar harkat dan martabat manusia Pegunungan Bintang tetap terjaga di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Kemudian, seminar hari kedua tanggal 8 April 2021 membahas tentang Sejarah Peradaban Masyarakat Pegunungan Bintang mulai dari pertama kali kontak dengan orang luar, yaitu kedatangan tim peneliti dari Eropa tahun 1938-1939 dan tim ekspedisi dari Kerajaan Belanda tahun 1957, yang diakhiri dengan pengibaran bendera Belanda di Puncak Juliana(Puncak Mandala) pada tahun 1959. Kemudian pada tahun 1959, misionaris Gereja Katolik dan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) menginjakkan kakinya di Lembah Sibil, disusul Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) pada tahun 1973 ke Tanah Aplim Apom, Pegunungan Bintang, menjadi tonggak sejarah dimulainya peradaban modern bagi kehidupan suku-suku bangsa asli setempat. Sejarah pertama kali kontak dengan dunia luar dan perkembangannya sampai saat ini akan dibahas oleh para akademisi, tokoh gereja dan masyarakat Pegunungan Bintang.
Dengan adanya seminar tersebut diharapkan menjadi momentum untuk menghargai jasa para tokoh-tokoh pendahulu sebagai perintis peradaban masyarakat Pegunungan Bintang pada umumnya. Tokoh-tokoh pendahulu patut dihargai dan karya-karyanya perlu dijadikan sebagai referensi utama dalam pembangunan daerah, terutama untuk mendorong penulisan buku sejarah lokal sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah agar generasi masa kini tidak lupa akan sejarah masa lalu.
Seminar hari ketiga tanggal 9 April 2021 akan membahas tentang refleksi 18 tahun hadirnya Kabupaten Pegunungan Bintang dan Strategi Pembangunan Pegunungan Bintang selama 5 tahun ke depan pada masa Pemerintahan SEPTE. Usia Kabupaten yang sudah mencapai 18 tahun ini terdapat banyak capaian pembangunan yang akan dijadikan sebagai modal dasar keberlanjutan pembangunan dan masih banyak juga kekurangan yang menjadi pekerjaan rumah bagi SEPTE untuk membangun Pegunungan Bintang selama 5 tahun kedepan.
Untuk itu, dalam seminar ini akan menghadirkan Unsur Pemerintah Pusat, Pimpinan Daerah, DPRD, Akademisi, Tokoh Gereja, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Pemuda untuk merefleksikan capaian dan kekurangan pembangunan Pegunungan Bintang selama 18 tahun belakangan ini dan bagaimana strategi yang tepat untuk membangun masyarakat Pegunungan Bintang menjadi Sehat, Cerdas dan Mandiri. Saran dan rekomendasi dari para pemateri dan peserta dalam seminar ini diharapkan menjadi acuan atau dasar pengambilan kebijakan dan strategi pembangunan Pegunungan Bintang selama 5 tahun mendatang.
Dengan adanya seminar tersebut dapat meningkatkan sinergitas dan kolaborasi antara semua pihak dari tingkat pusat hingga di daerah dalam rangka mewujudkan visi “Pembangunan Pegunungan Bintang Sehat, Cerdas, Mandiri Ekonomi Berbasis Budaya dan Tata Ruang”.
Agustinus Urpon yang juga menjelaskan terkait tujuan dari seminar Nasional ini, yang direncanakan kegiatannya selenggarakan dalam tiga hari tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, Terwujudnya singkronisasi kebijakan pembangunan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah sehingga dapat mempercepat pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang. Kedua, Seminar dilaksanakan untuk menggali nilai-nilai budaya lokal suku bangsa di Pegunungan Bintang untuk dijadikan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan strategi pembangunan daerah. Dengan demikian terwujud peningkatan harkat dan martabat manusia Pegunungan Bintang di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi.
Kemudian, Ketiga, Dengan seminar tersebut diharapkan dapat menggali nilai-nilai historis peradaban masyarakat Pegunungan Bintang untuk dijadikan sebagai referensi utama dalam pembangunan sosial, ekonomi dan politik di masa kini dan masa mendatang. Keempat, Seminar tersebut sebagai momentum untuk membangun kesadaran akan penghargaan dan penghormatan terhadap jasa para perintis atau tokoh-tokoh peradaban suku-bangsa di Pegunungan Bintang.
Kelima, Seminar ini sebagai awal kebangkitan masyarakat Pegunungan Bintang untuk memperkuat sikap saling menghormati, menghargai, bekerja sama dan saling bergandeng tangan membangun Pegunungan Bintang menjadi lebih maju, adil, makmur dan sejahtera. Keenam, Seminar tersebut dilakukan untuk mendorong penelitian, diseminasi, publikasi dan pengambilan kebijakan pembangunan daerah berbasis budaya dan historis.
Menurutnya, peserta dari seminar tiga hari ini akan menghadirkan menghadirkan narasumber, penanggap dan peserta dari unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, DPRP, MRP, DPRD, Akademisi, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Gereja, Tokoh Perempuan, Tokoh Pemuda dan masyarakat umum di Pegunungan Bintang.
Redaksi
