Produksi Komoditi Unggul Daerah Mendorong Capaian Visi Sehat Cerdas

0
20210322_115859

OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Visi sehat cerdas merupakan dua visi besar yang diusung oleh Bupati Spey Bidana, ST., M.Si dan Wakil bupati Pegunungan Bintang, Piter Kalakmabin, Amd untuk kesejahteraan masyarakat yang hidup di Morop, Kambom, Ngalum, Kimki, Lepki, Kupel dan berbagai sub suku yang mendiami di Pegunungan Bintang. Selain dua visi tersebut juga mandiri ekonomi berbasis budaya dan tata ruang menjadi visi besar yang dikerjakan oleh SKPD terkait 5 tahun ke depan.
Pada pembahasan tulisan ini, penulis menulis Produksi Komoditi Unggul Daerah yang merupakan turunan dari visi mandiri ekonomi. Apakah kemandirian ekonomi (mendiri dengan mengelola komoditas unggul) berdampak terhadap sehat dan serdas?

Mandiri Ekonomi: Grap Komoditi Unggul Daerah

Komoditi unggul daerah (Baca: Umbian, sayuran, hewan,perkebunan dll) yang Tuhan Ciptakan dan sediakan di bumi Pegunungan Bintang ini diperuntukan untuk manusia Pegunungan Bintang, kelola secara baik untuk menghidupi diri, keluarga, marga-kampung, komunitas masyarakat adat dan wujudkan persembahannya kepada Atangki (Allah) sebagai pusat kehidupan manusia.
Hasil kekayaan alam Pegunungan Bintang dan Papua secara umum sangat berlimpah. Kekayaan alam ini tergantung bagaimana mengelola dengan baik secara tradisional maupun modern, agar nilai kegunaanya bisa dinikmati atau bisa menghidupi masyarakat Papua.
Komoditi unggul daerah di bidang umbi- umbian: Boneng (petatas), Om mutop/om kanari (keladi), ketela, singkong dan lainnya. Umbian ini diklarifikasi bentuk dan jenisnya, mana yang kategori baik untuk diproduksi secara modern. Boneng bisa disulap menjadi tepung, kerupuk, gas dan lainnya.
Bidang perkebunan: kebun kopi, tebu, kebun thee. Bidang ini bisa diproduksi secara modern, seperti Pabrik Kopi, Pabrik Gula maupun thee. Jenis komoditi sayur-sayuran. Misalnya sayur Yamen bikin pentolan Yamen, Sup Yamen. Kemudian, segala macam hewan; untuk protein hewani.


Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian, Dinas Peternakan Perikanan dan perkebunan Pegunungan Bintang memfasilitasi dan mendorong para petani untuk memproduksi hasil bumi demi ketahanan pangan daerah. Masyarakat hidup dari hasil usaha mereka sendiri.
“Kami bekerja untuk menghidupkan seluruh komponen masyarakat baik sebagai ASN, Pengusaha, pekerja Swasta, politikus, dan semua orang yang ada di daerah ini” kata Nikolaus Bukega, Plt. Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan perkebunan kabupaten Pegunungan Bintang kepada media ini saat kunjungan ke pusat peternakan di belakang pasar baru Mimalkatop belum lama ini.
Menurutnya, dinas Peternakan Perikanan dan perkebunan ini merupakan dinas yang berhubungan langsung dengan para petani maupun masyarakat di kampung kampung. Dinas ini akan mengawal visi mandiri ekonomi dan program Pembangunan di Bidang ekonomi kerakyatan.
“Visi mandiri Ekonomi yang digagas bupati dan wakil bupati Pegunungan Bintang kami yang akan terjemahkan. Untuk itu, mohon dukungan penuh dari pemda maupun masyarakat yang menjadi objek Pembangunan”ujar Niko Bukega.
Dinas akan mendampingi para petani dan masyarakat produksi pangan lokal berdikari secara ekonomi, menghidupi dirinya sendiri, keluarga dan komunitas masyarakat adat. Sehingga terwujudnya visi mandiri ekonomi masyarakat Pegunungan Bintang.
Masyarakat mengelola komoditi unggul di Pegunungan Bintang. Potensi yang ada dikelola secara baik dengan standar standar produksi. Hasil bumi kemudian suplai ke sentra sentra pendidikan dasar dan kesehatan dasar. Kepemimpinan Spey-Piter akan bangun 6 sentra pembangunan, meliputi Bime-Borme, Okbi-Okbab, Kiwirok-Okyip-Okyop dan Oksamol, Batom-Bias-Aboy, iwur-Kawor-Aboy dan sentra ke enam melibupti wilayah Ibu Kota dan sekitarnya.
“Enam titik ini menjadi pailot Projek Pembangunan daerah guna mendekatkan pelayanan public langsung tersentuh kepada masyarakat”kata Bupati Pegunungan Bintang saat apel perdana bersama ASN di kantor Bupati, kukding Okpol pekan lalu.
Enam sentra ini menjadi pionir pembangunan daerah. Mendekatkan pelayanan pemerintah daerah agar masyarakat bisa rasakan pelayanan pemerintah.
Masyarakat dari distrik distrik suplai hasil bumi ke sentra sentra pembangunan. Sayur, boneng, Om, kang, Kopi dan lainnya suplai ke asrama asrama yang dibangun, kerja sama dengan rumah sakit atau puskesmas yang disediakan. Perputaran ekonomi terjadi di sentra pembangunan. Masyarakat di distrik distrik bisa merasakan uang dari hasil bumi yang dikerjakan.
Dengan model pengembangan ekonomi rakyat seperti ini, bisa menumbuhkan para petani atau masyarakat untuk giat bekerja, menjual hasil bumi dan bisa bertahan hidup. Dengan mengkonsumsi pangan yang ada, anak anak sekolah bisa cerdas dan kesehatan bisa terjamin.

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *