Dinas Pendidikan Fungsikan Sekolah Dasar Di Pegunungan Bintang

0
20210321_213243

OKSIBIL,TRIBUNPAPUA.ID— Akselerasi visi Pegunungan Bintang sehat, cerdas, mandiri ekonomi berbasis budaya dan tata ruang itu terjadi ketika program dan strategi pendidikan bisa berjalan sesuai fungsi. Salah satu dinas kunci dalam menerjemahkan visi tersebut sehingga akselerasi itu terjadi adalah dinas pendidikan. Dinas pendidikan memiliki peran kunci.
Pada prinsipnya masyarakat Pegunungan Bintang bisa sehat, cerdas, mandiri ekonomi, dan mampu mempertahankan budayanya sebagai identitas, sudah pasti melalui proses pendidikan yang baik dan benar. Oleh sebab itu, dinas pendidikan diharapkan mampu melihat realitas pendidikan di daerah dengan komprehenship & tuntas. Dengan demikian program dan strategi pendidikan bisa tepat sasaran atau sesuai target.
Tantangan terbesar pendidikan di Pegunungan Bintang adalah kekurangan guru. Bukan kekurangan lagi, tetapi terjadi kekosongan guru yang menahun di distrik-distrik dan kampung. Ratusan anak sedang dilantarkan di seluruh Pegunungan Bintang. Ini berat, tetapi harus mencari solusi supaya fungsi pendidikan itu bisa berjalan.
Paling tidak ada 3 pokok masalah mendasar dalam dunia pendidikan di Pegunungan Bintang yang segara diperhatikan: 1) Kekuarangan Guru, 2) kesejahtraan, dan 3) ruang belajar yang layak. Banyak sekali sekolah yang tidak berfungsi karena gurunya tidak ada, contohnya di SMP Negeri Bime. Sudah kurang lebih 2 tahun KBM tidak berjalan, bagimana nasib 200-an anak SMP di Bime yang masih menunggu guru sampai hari ini? Contoh berikut, SD inpres Yumakot di distrik Ok aom. Di sana hanya 1 ruang kelas, dan 2 Guru TU. Bagimana Proses pendidikan bisa berjalan, kalau kondisinya demikian? Banyak sekolah dasar yang sangat memperihatinkan dari sisi kondisi fisiknya sangat tidak layak digunakan untuk mendidik anak-anak memilik kerajaan surge ini. Anak –anak itu yang empunyai kerajaan surga, ini kata Yesus.
Dinas pendidikan selama ini tidak menjalankan fungsi monev (monitoring & evaluasi). Bahkan ketika melihat realitas di daerah, program pendidikanpun sangat miskin. Ini bahaya! Kehancuran eksistensi manusia, alam, dan budaya Pegunungan Bintang ini sudah ada di depan mata. Sebagai bukti rill bahwa dari sekitar 600 anak kelas 11 & 12 asal Pegunungan Bintang di Pegunungan Bintang dan Jayapura, ketika di tes matematika dan Bahasa Indonesia, rata-rata 30-40. Kondisi ini bukan statis lagi, tetapi terjadi kemunduran yang luar bisa. Bagimana mau mencapai visi besar tersebut kalau kondisi sekolah dasar sangat memprihatinkan? Dinas pendidikan harus kerja extra untuk mengisi ketertinggalan pembangunan SDM yang terjadi di berberapa tahun yang lalu.
Usul kongkrit kami, jika memungkinkan bisa menjadi program 100 hari dinas pendidikan Pegunungan Bintang dalam mendukung visi misi Bupati dan wakil Bupati Pegunungan Bintang:
1. Melakukan pemetaan (turun langsung) melihat kondisi real tentang pendidikan di Pegunungan Bintang dari sisi kondisi fisik bangunan, jumlah sekolah, Guru, Siswa, jangkauan, fasilitas (internet, air bersih, listrik), guru yang selalu hadir itu ada berapa? Jangan lihat dari kuantitas di dabodik. Karena seringkali orangnya tidak ada tetapi nama tetap tercatat dalam dabodik. Ini yang seringkali membingungkan di dinas.
2. Ketika data kondisi real itu ada, pastikan 6 Guru di satu sekolah ada ditempat. Supaya proses pendidikan dapat berlangsung sesegera mungkin di sekolah-sekolah yang sampai dari ini belum melakukan aktivitas di kelas karena kurangnya guru dan fasilitas tidak mendukung. Prioritas utama menurut kami adalah guru. Misalkan ada 98 sekolah Dasar, artinya sebanyak 588 guru dipastikan sudah menjagar. Dinas harus berpikir bagimana caranya supaya 588 guru itu ada. Itu dulu dipastikan, kemudian sistem dan management bisa dipikirkan dari belakang. Misalkan pihak ketika bergerak di 6 titik, dinas bisa langsung endel yang belum bisa dijangkau dengan cepat oleh pihak kerja sama. Hal ini dilakukan agar tidak ada kesan diskrimiasi atas pelayanan pendidikan dasar. Pendidikan juga menjadi alternatif mengurangi pengangguran yang ada di Pegunungan Bintang. Pegunungan Bintang ada sekitar 1.700 lebih pencaker, ini bagian dari pekerjaan rumah Para SKPD di Pegunungan Bintang.

 

Penulis: Salmon Kasipmabin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *