Hegemoni Politik Praktis Perlambat Kemajuan SDM Pegunungan Bintang

0
IMG-20200811-WA0005

 

OLEH MANAS APINTAMON

Tribunpapua.id—Menghilangnya Nilai Budaya Adat Daerah Ok Dan Religius (Gereja) Karena Pengaruh Politik Sehingga Berdampak Buruk Terhadap Keterlambatan Pembangunan Dan Sumber Daya Manusia.

Dalam artikel kali ini, penulis tergerak hati untuk memberitahukan kepada pemilik negeri Ok-Mek Pegunungan Bintang tentang menghilangnya adat dan agama. Nilai ini semestinya di landasi untuk membangun suatu kebersamaan kokoh tidak saling berkubu-kubu antara parpol A dan B.

Dalam kesempatan ini juga memaparkan secara singkat bagaimana seorang pemimpin negeri Ok salah satu titik faktor terjadinya sikap ego pemerintah dan para elit politik dilakukan saat ini. Dimana pada prinsipnya pemerintahan merupakan dari rakyat untuk rakyat. Pemilu dilakukan guna memilih siapa sosok yang pantas memimpin dan membangun daerah.

Tetapi mengapa masih terus menerapkan dalam benak diri politikus dengan sistem Money politik. Sungguh sangat disayangkan jika kita melihat dari daerah lain dengan kokohnya kebersamaan atau kesatuan, sikap manusiawi yang tinggi, kepedulian serta takut akan Allah sang pencipta membangun daerahnya sendiri. Menghasilkan hasil pribumi hutan dan lainnya.

Saya secara pribadi ketahui secara real bahwa negeri Ok salah satu penyebab tidak membangunnya pembangunan, sumber daya manusia dan belum netral nya kesejahteraan berbagai sektor terutama sektor ekonomi adalah pemerintahan sekarang kurang berdisiplin dalam tugasnya sebagai penegak keadilan.

Mengapa dikatakan tidak adil karena pemerintah dipilih oleh rakyat dengan tujuan untuk rakyat, akan tetapi, setelah dipilih oleh rakyat pemerintah melarikan diri pada bagian yang disebut bisnis dan ambisi untuk tetap tak mau turun dari jabatan. Bisnis ini pun sangat tepat untuk seorang politikus ambil tetapi disayangkan karena tidak membuka diri mengambil hal positif dan contoh-contoh inovasi baru yang belum dilakukan didaerah untuk datang membangun serta membuka lapangan pekerjaan bagi pengangguran. Selain itu tidak bekerja sama dengan daerah lain untuk mengimpor barang jadi atau pun mengambil cara yang bisa menghasilkan makanan dari situ demi kesejahteraan daerah.

Ada tiga bentuk faktor yang menjadi titik untuk melihat lebih clear tentang minimnya sikap nasionalisme dan manusiawi di negeri Ok sehingga menghambat kemajuan negeri Ok.

Pertama adalah tidak melakukan forum diskusi, mengapa hal ini menjadi poin pertama karena fungsi dari forum diskusi antara lain: berbicara, kompak, bersatu, menentukan suatu visi dan misi yang satu, menentukan tujuan, hingga pada akhirnya membangun dengan baik tanpa ada kekecewaan ditengah masyarakat.

kedua tidak peduli pada rakyat secara se utuh nya. Mengapa?  Karena dengan melakukan kepedulian yang tinggi seorang pemimpin bisa bertahan ditengah-tengah masyarakat untuk ikut terlibat diri, lalui suka dan duka penderitaan serta apa yang sepatutnya didapati bersama untuk hidup di muka bumi ini.

Ketiga adalah tidak takut Tuhan.  Apa tugas mulia yang dipanggil, untuk melayani masyarakat bukan dilayani. Pada dasarnya hidup dan kehidupan manusia harus melandasi dengan perkataan Tuhan. Karena seorang pemimpin yang takut Tuhan pasti hasil nya juga memuaskan. Inilah yang menjadi pembelajaran kepada setiap kita anak-anak pemilik negeri Ok. Menyadari, mengevaluasi setiap perkumpulan agar kita sebagai pelajar jangan ikut arus dengan sikap dan perilaku yang dilakukan sistem dan sikap tak manusiawi pada kepemimpinan ngeri Ok pada masa kini.

Saya mengajak kepada teman-teman sekalian dan terutama senior kita yang terus berupaya untuk meluruskan jalan yang baik kepada para politik dan pemerintah terkait di negeri Ok kita patut bangga dan mengambil jalan solusi yang terbaik untuk pembangunan negeri Pegunungan Bintang yang kita cintai.

Mengenai keterlambatan pembangunan di negeri Ok para politik dan semua pemerintah yang terkait sering menganggap sepele pada sorotan-sorotan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung oleh pihak masyarakat maupun para intelektual. Pemerintah daerah sebagai kepada daerah setempat maupun bawaannya harus membuka diri untuk tetap kembali menjunjung tinggi dan menerapkan nilai-nilai kehidupan dalam diri yang sebenarnya untuk bersatu membangun Aplim-Apom.

Kemudian, saya tekankan juga bahwa segala sesuatu akan berkembang dan menuju suatu kemajuan baik ekonomi, Pendidikan, kesehatan, dan keamanan apabila bersatu. Dalam hal ini bersatu yang dimaksud penulis adalah kembali kepada ajaran gereja dan adat dimana dalam kedua kubu tersebut mengajarkan bagaimana menjadi seorang yang peduli pada rakyat dan daerah. Gereja mengajarkan bahwa jangan egois, sombong, kasihilah musuhmu dan sehati, sepikir, sejiwa dan berbuatlah sesuatu untuk kepentingan orang lain karena dari situlah mendapat berkah dari sang pencipta kepada yang selalu taat dan melakukannya.

Sebagai kesimpulan penulis menyarankan untuk seorang pemimpin haruslah menjadi yang terbaik dan memberi contoh yang terbaik untuk meneruskan kemajuan suatu daerah. Rakyat dipilih untuk rakyat bukan dipilih untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Tetap menjaga visi dan misi bagi seorang pemimpin kembali kepada rakyat tanpa memandang bulu. Untuk tetap bersatu bergandeng tangan memajukan daerah. Pemerintah jangan pernah menutup diri apapun masukan atau pun komplain, pemerintah harus membuka diri mengambil dan menjaring data atau pun informasi dari setiap sumber untuk mengambil sisi positif sebagai bahan untuk merancang inovasi-inovasi baru demi kesejahteraan ekonomi dan pembangunan daerah.

Selain itu, seperti judul dari artikel kecil ini bahwa pemerintah daerah sudah dididik dari kecil hidup berdampingan bersikap yang baik serta mengasihi saudara lain. Dengan adanya politik seolah-olah tidak tahu melupakan diri dan jalani kemauan yang pada orientasi nya tidak menguntungkan rakyat kecil. Disamping itu, seorang politik negeri Ok sekarang terbagi-bagi dengan wilayah dan Partai politik untuk ingin siapa yang menang dan memimpin daerahnya. Tetapi hanya semua visi dan misi yang terucapkan hanya di mulut untuk menarik simpatisan. Kepada semua kaum milenium kami sangat harapkan kepada kita semua untuk mengantisipasi bersama agar kelak di suatu waktu nanti jangan menjadi penerus buruknya suatu kepemimpinan radikal tetapi menjadi per ubah dan pencetus pola kehidupan yang baru di daerah kita.

 

Penulis adalah mahasiswa Pegunungan Bintang di Atma Jaya Chatolik university of Indonesia

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *