REPANADA: Kondisi Pendidikan Di Daerah Terpencil Antara Kenyataan dan Harapan

0
IMG-20200723-WA0008

Ancelina Kaladana, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id

OLEH ANCELINA KALADANA

TRIBUNPAPUA.DI—REPANADA, salah satu konsep pengembangan revolusi pendidikan anak daerah di tanah air Indonesia. Kita ketahui bahwa pendidikan adalah salah satu hal yang mutlak bagi warga negara Indonesia saat ini. Pendidikan disebut juga adalah jalan yang terbaik untuk  meningkatkan  taraf kehidupan sebuah generasi  tak terkecuali di dunia terlebih khsusus Indonesia. Dimana Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki  kemajemukan dalam berbagai dimensi  kehidupan, baik strata sosio-kultur, politik,  ekonimi, juga kondisi geografis dan topografi alamnya. Perbedaan yang di miliki masyarakat  Indonesia  itu di suatu pihak menjadi kebanggaan, tetapi di lain pihak menjadi penghambat dalam menjalankan roda pembangunan bangsa khususnya pembangunan di dunia pendidikan .

Dengan melihat realita pendidikan kita saat ini, boleh dikatakan Pendidikan di Indonesia belum merata. Kesenjangan  kualitas pendidikan antara di kota dengan di daerah terpencil masih tinggi. Masih banyak sekolah- sekolah di daerah terpencil yang masih belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah  Indonesia. Bangun sekolah yang megah di perkotaan dan fasilitas sarana dan prasarana belajar mengajar yang begitu  lengkap menjadi hal wajib. Akan tetapi semua itu menjadi hal yang langka ketika kita membandingkan dengan kondisi sekolah-sekolah  di daerah terpencil. Berbagai masalah yang menghambat proses pendidikan  di suatu daerah terpencil  masih sering muncul.

Hal tersebut bisa kita lihat dari sejumlah masalah realita daerah seperti masih kurangnya sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana ini meliputi gedung sekolah beserta  isinya. Peralatan sekolah yang menunjung  proses belajar mengajar di suatu sekolah  atau lembaga tempat belajar  dan kualitas  tenaga didik atau para guru. Selain itu terdapat beberapa konflik lain yaitu:  distribusi tidak seimbang, insentif rendah, kualifikasi di bawah standar, guru -guru yang tidak kompeten,  serta ketidaksesuaian  antara kualifikasi pendidikan dengan bidang  yang di tempuh dan penerapan kurikulum di sekolah belum sesuai dengan proses yang standarkan.

Permasalahan lainya  adalah angka putus sekolah  juga masih relatif tinggi dikarenakan minimnya perhatian pemerintah. Serta pola pembelajaran  anak yang masih konvensional  sebagai guru hanya menerangkan secara ceramah  tanpa inovasi atau modifikasi sistem atau tentang pelajaran. Sehingga  tidak ada fasilitas yang cukup memadai untuk kemajuan proses belajar mengajar yang  mereka lakukan.  Dan juga tenaga didik yang mengajar dengan ilmu yang seadanya. Sejumlah problematika dan realita ini bisa kita temukan di sejumlah daerah terutama di Provinsi Papua dan Papua Barat hingga menjalar di sejumlah Kabupaten-Kabupaten.

Salah satu contohnya ialah Kabupaten Pegunungan Bintang yang celaka bernasib malang atau celaka karena tidak dapat memperoleh pendidikan yang bermutu. Tidak ada dukungan berupa moril dan materil dari pihak Pemerintah Daerah sebagai promotor utama menciptakan Sumber Daya Manusia yang andal, berkualitas dan berdayaguna untuk bersaing dengan daerah dan Kabupaten lain kian miris.

Penulis sebagai pelajar turut merasakan realita ini. Dimana semua kondisi dan masalah yang ada realita yang di daerah terpencil menjadi masalah bersama menggugah rasa nasionalisme kita untuk mengatasinya perspektif ini rasa nasionalisme yang kita bangun terbentuk melalui kesadaran universal dari seluruh komponen atau bagian bangsa untuk memberi prioritas bagi percepatan pelayanan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan di daerah terpencil tersebut.

Penulis hendak memberitahu bahwa, saat ini kita tidak lagi memikul senjata untuk menentang segala bentuk kolonialisme, industrialisasi, kapitalis dan teknologi dunia yang kian kencang. Salah satu senjata utama ialah pendidikan. Jika pendidikan diabaikan, maka musnahlah seluruh sumber daya alam beserta manusianya. Kekuatan kita hanyalah pendidikan.

Untuk itu merasakan dan mengambil sikap nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi masa depan adalah penting dan mendesak. Terutama adik-adik bangsa yang terhimpit  dan terlantar di balik daratan  bukit dan lembah  di  provinsi Papua  serta Kabupaten  Pegunungan  Bintang dibalik awan.

Kapan kami menanti sampai melihat cahaya Bintang?

 

Penulis: Ancelina Kaladana,  Pelajar asal Pegunungan Bintang study di SMA YPPK Asisi Sentani

Editor: Erick Bitdana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *