Pergerakan Ekonomi Mama-Mama Di Oksibil Dalam Pembangunan Pegunungan Bintang Papua

0
index

Mama Mama Sedang Menjual Hasil Bumi dan Beberapa Pemuda sedang Bikin Tenda, Dok. Fransiskus Kasipmabin, Terbitkan di Suarapapua.com

Oleh Peipkon Ningmabin)*

Berbicara mengenai ekonomi tidak lain adalah usaha sadar dari setiap individu manusia di dalam mengerjakan segala sesuatu yang dapat menghasilkan uang sebagai alat tukar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dimana setiap kegiatan manusia selalu berujung pada bagaimana menghadirkan kehidupan sesungguhnya dari dalam diri sendiri, keluarga, dan sesama secara berantai dan berkelanjutan. Untuk itu saya mau lihat secara sederhana saja tentang pergerakan ekonomi mama-mama di Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang yang terus menopang kehidupan keluarga selama ini. Sejauhmana mereka berjuang untuk menghidupi keluarganya maupun menggerakan aktivitas ekonomi bagi orang lain selama ini? Apakah Pemda sudah melihat perjuangan mereka sebagai pelaku ekonomi utama di Oksibil sebagai pusat kota untuk sekarang dan kedepan? Karena bagaimanapun juga kenyataan hidup keluarga orang asli Pegunungan Bintang dari sejak dahulu seorang mama/ibu berperan penting mengendalikan ekonomi keluarga. Seorang mama yang bisa memastikan dapur itu tetap ada asap. Sementara itu seorang Bapak bisa mengendalikan pekerjaan-pekerjan berat yang tidak dikerjakan seorang Mama/Ibu. Saya rasa bagian ini penting sekali sehingga saya mengajak kita semua sebagai generasi penerus Pegunungan Bintang dapa memahami dengan baik peran seorang mama bagi kita.

Orang asli Pegunungan Bintang siapapun tidak bisa membantah kenyataan ini bahwa mama/ibu selalu duduk di dapur untuk menghidupkan api. Artinya dengan segala cara menghadirkan makan dan minum bagi anggota keluarga yang dicintainya. Tidak hanya makan dan minum saja tetap banyak makna yang terkandung dalam “asap di dapur itu”. Sekarang mari kita lihat siapa sebenarnya mama-mama yang selalu duduk di pinggir jalan beralaskan bungkusan barang toko dari kota di atas tanah yang becek untuk menjual hasil ladang garapannya demi sepeser uang agar di dapur itu tetap ada asap. Mereka adalah mama-mama asli Papua dari tanah leluhur ini, Pegunungan Bintang. Mereka ini sangat perlu diberdayakan secara terhormat dan bermartabat di atas tanah ini. Tidak mesti mereka datang duduk di lantai berlumpur sekaligus tadah panas terik, hujan dan bahkan tahan lapar berjam-jam.

Perjuangan mereka ini patut kita pahami benar bahwa mereka sudah menunjukan kesetiaannya dalam memperjuangkan hidup dengan menjual hasil bumi dari kebun, ladang berupa sayur-mayur, petatas, ubi jalar dan bahkan ternak. Walaupun demikian sampai dengan sekarang belum ada perubahan positif yang dialami mama-mama Papua yang ada di Oksibil. Belum ada pembenahan pasar lama Oksibil maupun pengaturan los pasar baru secara baik sehingga rakyat kesulitan pasarkan hasil buminya. Satu hal yang mempersulit mereka yaitu rakyat tinggal di kampung-kampung yang jauh dari kota sehingga tidak mudah menjual hasil buminya ke pasar. Di perparah lagi dengan tidak ada kendaraan bersubsidi pemerintah di Oksibil ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang. Mereka hanya bisa tumpangi ojek dengan biaya cukup mahal. Bahkan menghabiskan hasil jualan di ojek saja tanpa belanjakan kebutuhan keluarga. Benar-benar sangat memprihatinkan.

Keadaan ekonomi mama-mama di Oksibil sangat terpuruk. Saya pahami betul, dalam diri mereka sedang rasakan kepedihan yang mendalam tetapi mereka tidak bisa berani ungkapkan kepada pejabat siapapun sekarang ini. Cukup dimengerti oleh alam dan sedikit orang yang pahami dari raut wajah mereka. Lembaga buatan pemerintah seperti Kamar Adat Pengusaha Papua dan lain-lain sedang kerjakan apa untuk mama-mama Papua di Oksibil? Penjual barang kota di pasar Oksibil 90% milik saudara pendatang. Secara tersirat para pedagang asli Papua tidak bisa diharapkan kedepan akan berani bersaing dengan sahabat kita dari luar Papua. Tanpa kita sadari ekonomi masa depan orang asli Pegunungan Bintang dan Papua umumnya sudah tidak kuat bersaing. Kalau sudah sampai pada analisa demikian ini, apa solusi yang harus dibuat pemerintah untuk ekono orang asli Papua?

Kita semua mesti tahu apa yang dihadapi mama-mama di Oksibil merupakan penyakit sosial sebuah kota yang harus diatasi oleh pemerintah setempat. Sebab sudah terjadi penguasaan ekonomi rakyat oleh pihak luar. Karena itu sebagai penyeimbang mama-mama di pasar Oksibil perlu dipersiapkan sebagai pengendali ekonomi keluarga sekaligus penggerak ekonomi berkelanjutan. Keberadaan mama-mama di pasar Oksibil tidak bisa anggap sepele lagi. Ingat selalu perempuan adalah simbol adanya manusia di bumi Aplim Apom yang mesti mendapat tempat utama dalam pembangunan sekarang ini. Wanita/perempuan sebagai simbol dari tanah yang memberikan kehidupan bagi banyak orang. Perempuan/Mama itu ibarat tanah pusaka leluhur suku-suku Pegunungan Bintang. Mama itu juga ibarat noken yang menyimpan semuanya, termasuk rahasia seorang laki-laki hebat apapun. Jikalau mama sudah makan dan sehat, maka segala sesuatu termasuk kemajuan daerah itu sudah ada di depan mata.

Keadaan yang ditampilkan mama-mama asli Papua di pasar Oksibil adalah representasi dari setiap mama Papua yang siap sedia untuk menghidupkan api di dapur bagi orang-orang hebat siapapun yang ada sekarang. Mereka bergerak dari sejak subuh ke kebun/ladang dan lanjut ke pasar, yang lainnya pekerja sosial dan juga sebagain adalah sebagai Pegawai Negeri Sipil, yang kesemuanya menopang keluarga dari dan melalui dapur. Sebab itu perlu Pemda Kabupaten/Kota dan Provinsi perhatikan para mama Papua dengan menyediakan sarana yang memadai tetapi yang paling terpenting adalah membina mereka. Mereka membutuhkan pembinaan dan pendampingan secara benar untuk bisa bertahan hidup di era yang sangat kompetitif sekarang dan yang akan datang.

Saya sebagai mahasiswi yang sedang menggeluti bidang ekonomi sudah mengamati sejak lama bahwa Pemda belum memberikan perhatian pada pergerakan ekonomi mama-mama Papua yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, pedagang pasar lokal maupun sebagai PNS. Diharapkan kedepan mama/ibu sebagai pelaksana teknis perputaran ekonomi keluarga tetap menjadi jaminan keberlangsungan hidup keluarga. Mereka harus diberdayakan supaya benar-benar menjadi pengendali keuangan keluarga dan sekaligus pelaku ekonomi masyarakat karena sekarang pelung sangat terbuka bagi perempuan. Di era sekarang setiap wanita/mama/ibu dituntut mampu mengatur keuangan keluarga supaya tidak banyak masalah dikemudian hari. Sebab dimana-mana sering terjadi kekacauan hidup dalam rumah tangga hanya karena tidak mengatur keuangan keluarga secara baik dan benar, entah oleh mama/ibu maupun suaminya. Ini perkerjaan rumah yang gampang-gampang sulit bagi siapa saja.

Pada satu sisi, Pemda belum terlambat untuk menciptakan sebuah program penguatan ekonomi rakyat lokal di waktu sekarang maupun jangka waktu panjang. Pemda mesti terjemahkan kondisi ini secara baik bagi rakyat setempat agar sudah siap diri sejak dini dan kemudian dapat bersaing secara sehat di era sangat kompetitif yang sedang digenjot semua pihak. Kedepan perlu persiapkan sumber daya manusia yang bisa mengelola potensi sumber daya alam yang dapat mendorong pemenuhan kebutuhan keluarga. Hal itu dapat saja dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal sesuai dengan potensi daerah. Yang sedang mengenyam pendidikan formal didorong belajar dengan tekun, melakukan penelitian bersama dosennya dan bahkan mampu teliti potensi lokal yang kemudian bisa digunakan untuk kepentingan pengembangan ekenomi rakyat. Sementara melalui pendidikan non formal bisa persiapkan tamatan sarjana maupun para pemuda potensial yang kemudian mampu mengelola hasil hutan yang akan bermanfaat bagi kehidupan keluarga atau orang banyak, misalnya melalui industri rotan menghasilkan kursi-kursi yang bisa dikonsumsi masyarakat. Adalah merupakan salah satu cara memberdayakan orang setempat dapat menghidupi diri, keluarga dan orang lain.

Berdasarkan kenyataan yang dihadapi mama-mama di Oksibil dan Pegunungan Bintang, maka saya berpesan kepada Bupati dan Wakil Bupati periode 2020-2025 mendatang perlu penting memperbaiki pergerakan ekonomi mama-mama asli sebagai penopang hidup keluarga. Mereka sebagai penopang keluarga tetapi mereka sudah dilupakan selama belasan tahun pembangunan Pegunungan Bintang. Padahal pelaku ekonomi keluarga di kota Oksibil dan Pegunungan Bintang adalah mama/ibu. Mengenai ini perlu dibuat PERDA yang mengikat dan mendukung pergerakan ekonomi mama-mama di pasar maupun pengembangan usaha dalam bentuk kios, toko dan bahkan memiliki perusahaan khusus yang mengelola pangan lokal. Selain itu secara luas lagi mengangkat para pelaku ekonomi lokal yang kemudian dapat berasing secara sehat secara lokal, regional, nasional dan Internasional. Perlu ada program prioritas mulai dari pemberdayaan mama-mama sebagai pedagang lokal maupun para pengusaha lokal yang akan bersaing keluar secara profesional. Dengan begitu luka-luka batin dari mama-mama dan pengusaha lokal yang selalu di bawah setiap saat dapat terobati. Jangan pernah lupa, mama-mama hebat itu akan mendokan pada anaknya yang berbuat baik padanya. Semoga bermanfaat!

 

Penulis: Peipkon Ningmabin, Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur.

 Editor : Ap Gerald B Kahipdana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *