Nasihat Orang Tua Dalam Ap Iwol Dan Ap Sukam, Landasan Berkomunikasi Dalam Media Sosial
Ferdinandus Bamulki, Dok. Pribadi Untuk Tribunpapua.id
Oleh Ferdinandus Bamulki, S.IP)*
Ada sebuah ajaran nilai hidup orang Pegunungan Bintang yang dulu mampu menopang kehidupan manusia Aplim Apom di dalam Ap Iwol. Ajaran yang penulis maksudkan adalah ajaran tentang kesucian dan kesakralan nilai sebuah nasehat hidup (masop). Nasehat dan ajaran (masop) tentang nilai/norma hidup tidak pernah diwariskan secara tertulis. Oleh karena itu, para orang tua dan sesepuh saat memberikan nasehat atau mentransferkan ilmu tentang nilai-nilai kehidupan di dalam Ap Iwol itu sangat hati-hati. Para orang tua dan sesepuh selalu memberikan ilmu/pengetahuan (masop) dan didikan berdasarkan perkembangan, pertumbuhan dan kondisi anak saat diresmikan sebagai anak adat di Ap Iwol. Ada tahapan-tahapan dan masa-masa tertentu yang tepat untuk disuguhi nasehat/ilmu (masop). Tidak semua nasehat/ilmu akan diturunkan kepada anak adat yang baru diresmikan karena orang tua dan sesepuh sangat jelih dan bertanggungjawab menjaga kesucian dan kesakralan nasehat/ilmu yang mereka miliki. Terkadang anak adat baru yang mau disuguhi ilmu/pengetahuan (masop) harus menyediakan korban bakaran tertentu sesuai permintaan orang tua atau sesepuh yang punya masop. Hal ini sebagai sebuah bentuk imbalan atas upaya mentransfer masop (informasi dan pengetahuan) kepada si anak adat. Sedangkan ada juga anak adat yang disuguhi untuk kepentingan kelanjutan peradaban tanpa adanya pengorbanan bahan bakaran.
Nasehat dan pengetahuan yang disuguhi kepada anak adat yang baru diresmikan di Ap Iwol biasanya disuguhi juga informasi -informasi penting yang berhubungan dengan cerita sejarah bangsa manusia Aplim Apom (history), Cerita tentang cara berburu, bercocok tanam (berkebun), pengolaan air minum, cara berperang, cara mengadakan pesta, cara menari, cara merias dan segala macam informasi yang memperkaya pengetahuan tentang nilai-nilai kehidupan mereka. Semua ilmu dan pengetahuan yang diajarkan sangat dianjurkan oleh orang tua dan sesepuh agar tetap digunakan untuk menata hidup di masyarakat dengan baik, saling menolong, saling menyelamatkan, saling melindungi dan saling menjaga dari ancaman kepunaan. Ajaran nilai-nilai hidup ini tidak terbatas pada manusianya tetapi bersifat umum. Sehingga manusia-manusia Aplim Apom yang hidup saat itu mendayagunakan sumber daya pengetahuan, ketrampilan, bekal informasi, ajaran dan nasehat itu untuk menjaga, melindungi, mengelola dan memanfaatkan semua kekayaan alam yang ada di bumi Aplim Apom untuk kesejahteraan bersama.
Melalui tulisan ini penulis ingin sandingkan dengan kondisi saat ini adalah tentang tata cara transfer informasi /ilmu dan masop orang Pegunungan Bintang zaman dulu dan zaman sekarang. Akses informasi dan ilmu bagi kaum laki-laki Aplim Apom tentang nilai-nilai kehidupan pada waktu dulu diperoleh melalui proses inisiasi adat dan hanya bisa dapat di bokam dan Ap Iwol . Sedangkan kaum perempuan Aplim Apom akan dibina, didik, dan disuguhi takterhingga nasehat di Ap Sukam. Di dalam Sukam perempuan Aplim Apom disuguhi informasi, nasehat dan ilmu tentang nilai-nilai kehidupan. Dari tingkat esensinya nilai dan norma hidup yang disuguhi kepada perempuan di Ap Sukam dan Laki-laki adalah setara. Hanya saja antara laki-laki dan perempuan tidak dibina, dinasehati dan disuguhi ilmu secara bersama-sama. Hal ini dilakukan agar anak perempuan dan anak laki-laki menjaga kesucian jiwa dan raga mereka sehingga tidak merusak tata nilai dan norma hidup yang lestari saat itu. Jadi kemurnian dan kesucian yang dijaga/terpelihara tidak terbatas hanya untuk membangun nalar dan hati tetapi juga jiwa dan raga. Dengan model peradaban seperti itu jaman dahulu hidupnya cukup baik. Tidak ada kecemburuan dalam memperebutkan kekuasaan atau jabatan karena jabatan dan kekuasaan dalam struktur sosial sangat terikat dengan tugas dan tanggungjawab sosialnya di Ap Iwol, Ap Sukam dan di masyarakat.
Dalam konteks kekinian, masyarakat Papua pada umumnya dan khususnya Pegunungan Bintang dapat mengakses informasi dan ilmu secara terbuka dan di mana saja. Keterbukaan dan kemudaan mengakses informasi membuat setiap orang dengan mengatualisasikan dirinya melalui segala bentuk karya. Pengaktualisasian informasi dan ilmu yang diperoleh terkadang berguna bagi banyak orang dan juga tidak sedikit juga yang hasilnya merugikan banyak orang. Transaksi informasi dan transfer ilmu sudah tidak bisa terbendung untuk saat ini. Kemudiaan akses informasi, ilmu dan pengetahuan mengurangi kesempatan orang tua dan sesepuh memberikan nasehat, didikan dan binaan. Nasehat dan didikan orang tua maupun sesepuh dianggap sesuatu yang kuno dan tidak bernilai. Sementara informasi yang diubdate dari media sosial seperti melalui fb,WA, mesenger, group WA, line, instagram, dan lain-lain meracuni nalar dan mengontrol jiwa manusianya. Setiap hari manusia-manusia saat ini hanya berasumsi dan berpendapat atas dasar informasi yang diterima dan atau dikonsumsi melalui medsos. Hanya sebagian orang yang bisa mencerna informsi, ilmu dan pengetahuan hanya karena sering membaca beberap buku, selalu disuguhi nasehat oleh orang tua dan sesepuh, merawat hati dengan memperbanyak aktivitas amal dan kerohanian, bersama praktisi, akademisi dan aktivis dalam menyikapi masalah-masalah real life.
Akses informasi, pengetahuan dan ilmu yang terbuka luas saat ini memudahkan semua orang dapat mengatualisasikan diri di muka umum. Memang hak mengemukakan pendapat secara terbuka, tertulis maupun lisan di muka umum sudah dilindung oleh undang-undang. Namun demikian penyampaian pendapat yang dilakukan per-individu dalam bentuk candaan, hinaan, hujatan, kritikan, dan tanggapan terhadap suatu peristiwa yang melibatkan orang per orang atau institusi dan atau sekelompok orang biasanya tidak mempertimbangkan norma/nilai kemanusiaan. Jadi undang-undang memberikan jaminan kebebasan bukan untuk menghujat orang lain, menghina orang lain, menjelekan nama baik orang lain, membongkar aib orang lain, dan lain-lainnya yang bersifat melanggar hak-hak dasar kemanusiaan orang lain. Kebebasan berpendapat yang dijamin undang-undang adalah kebebasan menyampaikan pendapat, buah pikiran, suasana hati baik secara tertulis maupun lisan di muka umum secara tertib tanpa melanggar ketertiban umum dan stabilitas keamanan serta hak-hak dasar orang lain.
Banyak dari kita yang saat ini menggunakan media sosial dan media komunikasi lain dengan memberikan sejumlah pendapat, saran, kritik, sanggahan atau komentar kepada seseorang/individu, institusi dan kelompok tertentu dengan dalil/data yang kurang kuat. Keterbatasan informasi, pengetahuan dan ilmu bisa menyebabkan kita mengaktualisasikan diri kita dengan mrnyampaikan informasi yang kurang sepadan. Informasi nya bisa memicu banyak perdebatan dan menhhasilkan polemik di masyarakat.
Jika kita kembali pelajari sejarah orang Pegunungan Bintang menjaga kesucian dan kesakralan sebuah informasi penting baik itu bersifat ilmu, nasehat atau pengetahuan tentang sesuatu, orang tua dan sesepuh di Ap Iwol sangat menjaganya. Anak adat yang baru diresmikan pun tidak serta merta akan disuguhi informasi, pengetahuan dan ilmu tentang rahasia-rahasia penting itu. Kebijaksanaan orang tua dan sesepuh dalam menjaga dan merawat pola penyerapan maupun pola penyaluran informasi, pengetahuan dan ilmu itu mampu membangun sistem regenerasi manusia Aplim Apom yang mandiri, bijak, taat, dan bertanggungjawab. Dalam bahasa daerah suku Ngalum orang tua dan sesepuh seringkali mengungkapkan ungkapan-ungkapan seperti ini; “Weng son masop alutkia kaka abol birkison, wanang tala sona nup mit baromonek doye”. “Weng pea ara batol nek bisarkoso wan e kalomo nek, weng pea alut e”. dan masih banyak nasehat-nasehat orang Pegunungan Bintang yang seringkali dipergunakan untuk menjaga kesucian dan kerahasiaan informasi, pengetahuan dan ilmu tentang kehidupan bagi generasi lanjutan.
Dalam konteks saat ini, kelompok manusia yang masuk dalam kategori abol birki itu bukan mereka yang tergolong generasi muda yang belum inisiasi adat tetapi setiap kelompok manusia abol birki itu adalah orang yang sudah tumbuh dewasa, bertindak, berbicara, berkarya, dan berekspresi tanpa bekal ilmu yang memadai, pengetahuan yang mumpuni, pengalaman kerja yang terbatas, dan kondisi rohani yang gersang. Sejak dulu orang tua dan sesepuh sangat tidak ingin menurunkan ilmu, pengetahuan dan informasi kepada manusia model-model seperti ini. Hal ini karena orang tua dan sesepuh sangat ragu akan informasi, pengetahuan dan ilmu yang akan disampaikan bisa saja tidak berguna untuk kepentingan banyak orang. Sama halnya dengan mutiara yang dibuang ke kandang babi. Yang jelas mutiara tersebut diinjak-injak oleh babi dan teroyak bersatu menjadi lumpur.
Banyak intelektual Pegunungan Bintang yang sudah selesai studi di tingkat Perguruan Tinggi ternama di Indonesia. Dari sejumlah mahasiswa yang selesai studi tersebut dapat ditakar berdasarkan takaran kualitas lulusan dan kapasitas manusianya. Berdasarkan kualitas lulusan kita bisa berbangga karena ada sejumlah intelektual yang lulus dari jurusan langka dengan memperoleh IPK tertinggi atau di atas batas minimum kelulusan, ada pula intelektual lulusan jurusan umum atau spesialis dengan perolehan IPK tertinggi atau di atas batas minimum kelulusan, ada pula intelektual yang lulus tepat waktu dan ada juga yang lulus dengan perolehan IPK pas-pasan. Terkadang kita terjebak pada penilaian kualitas sumber daya manusia dari takaran kualitas lulusan dan takaran jenis jurusan. Sedangkan penilaian kita tidak pernah melihat dari kapasitas manusianya.Jika kita menakar tentang kapasitas manusiannya jelaslah kita melihat para intelektual kita selama mereka berproses. Apakah mereka sudah berproses sejatihnya sebagai seorang manusia yang diproses menjadi manusia utuh?
Jika saya kembali mengaca pada pengalaman masa studi saya. Hal ini penting karena informasi, pengetahuan dan ilmu yang diserap oleh intelektual akan dimanifestasikan sebagai modal pengetahuannya dalam mengaktualisasikan sesuatu di masyarakat umum. Jika seorang intelektual tidak memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni maka pada tataran implementasi akan meninggalkan kesan-kesan negatif di masyarakat. Apa pula yang sampai pada tingkat kegagalan.Untuk itu penulis berharap supaya intelektual untuk harus membaca informasi baik-baik, menganalisa baik-baik, lalu mengeneralisir informasi yang diterima dengan baik supaya tidak mengurangi isi atau maknanya, lalu pertimbangkan dampak yang terjadi atau mungkin akan terlajdi setelah sampaikan. Setelah itulah kita bisa melakukan sesuatu dengan tujuan untuk kepentingan umum. Penulis sudah uraikan panjang lebar di awal tulisan bahwa dulu orang tua dan sesepuh kita membina, mendidik dan menasehati anak-anaknya agar bisa dewasa membagi informasi atau mengamalkan ilmu di Ap Iwol. Saat ini generasi milenial tidak mungkin masuk Ap Iwol dan melakukan hal yang sama. Saat ini tugas kita adalah membaca sebanyak mungkin informasi, ilmu, dan pengetahuan melalui buku, jurnal, majalah atau sumber informasi terpercaya lainnya. Agar mempertajam kemampuan nalar kita supaya dengan mudah kita memahami persoalan, mengeneralisir masalah/informasi publik lalu melakukan langkah-langkah kongkrit penyelesaian persoalan di masyarakat.
Untuk memperkuat gagasan, ide dan buah pikir yang kita rumuskan perlu kita diskuskan kepada sesama kita agar kita mendapat dukungan perbaikan atau nasehat dari sesepuh agar memudahkan kita melakukan sesuatu di masyarakat. Sudah saatnya intelektual yang sepaham dan sepadan bersatu memproteksi semua reruntuan sumber daya manusia yang tercipta akibat konflik politik yang berkepanjangan di daerah. Media sosial menjadi sarana komunikasi alut bagi budak politik praktis. Kita sudah tidak pernah sadari bahwa kita sudah menjadi budak dari alur komunikasi medsos yang secara tidak sadar kita rancang. Bahkan secara sadar kita semburkan benih-benih baru tumbuh subur menjadi budak politik praktis. Contoh konkrit pengguna medsos di beberapa wall medsos saling mendukung pernyataan-pernyataan skeptis dan konyol seakan-akan paham maksud dan alur pembicaraannya. Seringkali kita jumpai banyak yang menanggapi pernyataan, pemberitaan, dan informasi secara tidak logis. Misanya orang lain membagikan informasi tentang sumber daya manusia sementara kolom komentar berlanjut tapi melenceng jauh menjadi masalah sosial, politik dan kesehatan.
Kondisi ini menjadi tontonan dan bahan candaan orang Non Pegunungan Bintang yang terkoneksi di akun medsos yang ada. Oleh karena itu, kita sudah harus menuntun sesama kita untuk selalu membudayakan membaca buku (bukan baca status Fb, WA, Ig orang lain), mendiskusikan semua informasi, pengetahuan dan ilmu yang diperoleh dari hasil membaca, dan mengambil langkah-langkah konkrit dengan aksi nyata (bukan demonstrasi massa, jika diperlukan demonstrasi dimungkinkan tetapi kita perlu mempertimbangkan psikologi sosial maayarakat). Aksi nyata yang dilakukan harus bertujuan untuk memenuhi kebutuhan umum yang menyangkut kepentingan orang banyak.
Penulis Ferdinandus Bamulki, Ketua Yayasan Bina Bintang Cahaya Kasih
