TERKIKISNYA NILAI-NILAI ADAT ORANG OKSOP PEGUNUNGAN BINTANG
Tarian Adat Pegunungan Bintang, Papua, Dok. Tribunpapua.id
Oleh Amokdakanki Mepianus Tapyor
Kehidupan dan perkembangan zaman terus kita hadapi. Tindakan dahulu akanmenentukan hidup kita saat ini dan tindakan saat ini menentukan masa depan. Apa yang penulis gumuli ini adalah bagian dari tindakan masa lalu yang disebut sejarah. Sejarah menjadi guru terbaik yang mengajarkan sekaligus mengarahkan hidup kita yang berdasar pada inspirasi Sang Pencipta dalam diri Leluhur Suku, Klen dan Marga. Hal inilah yang menjadi keprihatinan besar yang disayangkan karena terkikis zaman yang terdapat dalam judul tulisan ini. Penulis mencoba mengekspresikan nilai hidup dengan Oksop sebagai contoh dan latar belakang penulis sebagai putra Oksop. Hal ini dilihat dari sejarah kedatangan, kehidupan saat ini dan harapan kedepan sebagai solutif penulis. Dilihat secara umum dalam pembagian wilayah dan pembentukan pemerintahan kampung yang berbasisi distrik. Kabupaten Pegunungan Bintang terdiri atas 34 distrik dan 277 kampung. Distrik oksop adalah salah satu distrik yang terletak di bagian utara dari ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Distrik Oksop terbagi atas lima Kampung yaitu desa Mimin, desa Oksop, desa Atenar, desa Alutbakon,dan desa Oktumi. Kelima kampung ini bukanlah penduduk asli setempat melainkan pendatang. Berikut sejarah Oksop sebelum Agama dan pemerintah Distrik masuk diwilayah ini.
Sejarah Singkat Kampung Mimin/Oksop
Awal mula datangnya masyarakat dari Silpeding samapai Apurop ini berasal dari lima Ap Iwol yaitu: Betaabip, Yepengbon, Sepsepsiki, Asekabip dan Om Pom. masyarakat dari kelima apiwol ini masuk di wilayah oksop dan membuka kebun lewat berburu,tikus pohon dan juga hewan buruan lainnya di daerah ini, pertamakali melakukan transmigrasi pada tahun 1942 dari setiap daerah atau Ap Iwol masing-masing masuk membuka isolasi baru di daerah Oksop dengan tujuan berburu. Namun dalam perjalanan berburu, mereka bikin pondok dan dekat pondok mereka menanam tanaman seperti petatas, keladi ,rokok sayur mayur dan tumbuhanya begitu subur dan hasil pun sangat memuaskan bagi mereka sehingga satu dua keluarga mereka masuk dan membuka lahan atau dusun dan mereka menetap di situ. Akhirnya lama kelamaan jadilah sebuah kampung dan akhir hingga mereka menetap di sana sepanjang Sungai Oksop (Digul). Mereka yang datang dan menetap ini adalah pendatang di pandang dari keberadaan masyarakat ini karena para orang tua ini mereka lahir di tempat lain dan datang tinggal di sana dan beranak cucu di sana seperti yang diceritakan.
Dengan menetap maka anak cucu semakin bertambah dan berkembang menjadi orang setempat menurut wilayah. Inilah awal orang asli di daerah ini yaitu mereka yang datang dari kelima Ap Iwol. Dari kelima Ap I Wol ini memiliki berbagai macam marga dan klen, antara lain: Marga Kaladana, Kakyarmabin, Kasipmabin, Uropmabin atembipki. Marga ini bersal dari Iwol Yepengbon. Sementara marga Tapyor, Uropmabin, Kakyarmabin bamulki, dari Iwol Betaabip. Dan Marga Sasaka dari I Wol Sepsepsiki. Serta marga Apintamon, dan Kalakmabin dari Iwol Asekabip. Marga Lepki datang dari I Wol Om Pom (Pusat).
Dari beberapa marga yang di sebutakn di atas dari segi apiwol sendiri, terdapat hubungan kekeluargaan yang biasa masyarakat Ngalum secara khsus dan pada umumnya Pegunungan Bintang. Hubungan kekerabatan dalam marga, biasanya memiliki keunikan tersendiri dalam menyembutkan sesama marga yaitu
Kaka Misol sebagai panggilan akrabnya. Kaka Misol dalam bahasa Ngalum yang artinya idung ini punya maksud tersendiri. juga sebutan yang lain seperti Ne kakaya (saya punya orang/Orang saya), Ne Ominga yang artinya Tete (Kakek), Nanong (Nenek) dan beragama sebutan yang lain yang sangat sarat dengan arti dan makna. Sehingga kehidupan masyarakat Aplim-Apom pada umumnya, mempererat tali persaudaraan antar marga dan klen sesuai I Wol sebagai pusat hidup persebaran manusia yang sangat kuat. Kekuatan ini juga, dipererat dan di ingatkan kembali oleh orang tua dalam bentuk mitos suci dan cerita dongeng. Karena dalam mitos yang di ceritakan leluhur dari setiap Ap Iwol atau ini kepada tetua adat sehingga ini terus menerus dipertahankan sampai saat ini. Dengan demikian dalam menjalankan norma-norma adat ada norma/aturan yang sangat melarang seperti, di bagian perkawinan dan juga pembunuhan.
Norma yang mengatur pembunuhan ini misalnya; seorang yang disebut oming atau tete ini tidak biasa anak cuccunya untuk membunuh Oming atau merencanakan untuk niat jahat pun sangat tidak boleh (Alut). Begitu juga dalam perkawinan. Sudah ada norma yang mengatur jalanya perkawinan. Misalnya, anak perempuan tidak diperbolehkan untuk mengawini Mapolki atau Om-ayahnya dan lain sebagainya. Semua ini adalah aturan-aturan (norma) yang di turunkan oleh Allah (Atangki) lewat leluhur dan nenek-moyang melalui Ap Iwol hingga klen dan marga yang dijaga dan dipertahankan secara turun-temurun hingga saat ini.
Kehidupan Dahulu Masyarakat Oksop
Dalam kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Oksop dan Pegunungan Bintang umumnya, Norma-norma ini sedang diabaikan, dilupakan bahkan akan ditelan zaman globalisasi. Akhirnya saat ini kehidupan sedang dalam ancaman kepunaan dengan beragam pandangan dan nilai baru oleh penerus masa depan Aplim-Apom. Contoh nyatanya bisa kita lihat realita sosial kita, dimana ada sepasang kekasih yang berhubungan badan bahkan mengawininya karena tidak tahu seluk –beluk sejarah mitos, klen dan marga. Beragam akibat sangat fatal dari karena tidak menjalankan norma-norma yang di atur oleh leluhur lewat mitos setiap apiwol atau klen itu sendiri. Dan juga akibat ini berlanjut sampai saat ini generasi yang sedang menuntut ilmu di beberapa kota di Indonesia. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari di dalam lingkungan rumah dan keluarga juga dalam pola hidup sendiri sudah tidak menahati dan mengatur norma-norma/aturan tersendiri seperti dalam rumah (Abip). Pada hal Abip sendiri memiliki norma dengan adanya batasan-batasan khusus yang diatur sedemikian rupa, sudah di tentukan dan dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Bentuk rumah pun berbeda dengan beragam symbol yang memiliki nilai-nilai tersendiri. Seperti bentuk rumah yang bulat dan bagian atap bulant lonjong di dalam rumah ini ada beberapa symbol sebagai pembatas dan juga tempat-tempat khusus seperti pintu. Pintu juga terbagi menjadi dua bagian; depan itu pintu umu dan bagian belakang itu pintu khusus untuk para pria/ laki-laki. Ada pun didalam rumah dilengkapi dengan tempat penyimpanan (Bingin) untuk menyimpan bahan makanan dikhususkan dan tempat untuk menyimpan segala macam barang yang lain. Bingin atau lemari sebagai tempat penyimpanan bahan makanan. Sementara di tempat perapian, ada empat buah kayu menjadi penyongkong yang tanam di dekat tungku api yang masyarakat Ngalum di sebut apeng.
Apeng inilah sebagai pembatas dalam rumah antara laki-laki dan perempuan. Antara Apeng bagian depan sering disimbolkan untuk para wanita, sementara di belakang itu untukcpara pria. Di perempat perapian, Apeng ini juga ada tempat yang di persiapkan dengan rajutan tali dan kayu untuk menjemur kayu bakar, menyimpan daging buruan dan lain-lain yang di sebut basin dalam bahasa Ngalum. Dilantai juga sudah ada batas symbolnya ada di Apil. Simbol-simbol dalam rumah ini pun memiliki makna tersendiri, sehingga di saat tertentu seorang wanita dan seorang pria menerapkan symbol ini untuk menjaga hal-hal yang berbahaya antara pria dan wanita itu sendiri. Pola hidup dalam rumah ini, diterapakan norma-norma ini supaya kehidupan secara baik entah itu perempuan maupun laki-laki karena menurut mitos mereka dari larangan-larangan atau norma yang paling penting dan sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup. Hal ini menjadi tata norma kehidupan sosial maupun keluarga agar tidak mengalami damfak buruk diantara sesama baik pria maupun wanita.
Menurut orang tetua adat, inti timbulnya dampak buruk ada di seorang wanita. Seorang wanita dalam norma hidupnya sangat diberi perhatian besar karena awal dan akhir dari pada prosesi adat menurut mitos ada di seorang wanita. Sehingga itu seorang wanita dilarang untuk tidak boleh sembarangan dalam menjalin hubungan dengan seorang pria karena melanggar aturan nenek moyang (Onkor) sangat berbahayabagi kehidupan setiap kita. Dari beberapa marga diatas bisa memberikan contoh seperti yang telah disebtkan, ada marga Kaladana, Uropmabin, Tapyor, Kakyarmabin menurut cerita dari orang tua, mereka ini oming damil onongkulol atau tete dan neneknya marga Kasipmabin wayap dari Iwol Yepengbon, sehingga marga Kasipmabin wayap ini orang terpenting dalam kehidupan beberapa marga contonh diatas. Kalau di disrtik Oksop, Mereka yang tete dan nenenya dari marga Kasipmabin wayap sudah berdomisilih di wilayah Bumbakon sampai di Bilumabol/Biluming.
Masuknya Pengaruh Luar
Tulisan ini bertujuan mengingatkan kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada generasi saat ini. Dengan melihat dan mengalami realita kehidupan masyarakat Pegunungan Bintang pada umumnya dan Kehidupan secara khususnya dikalangan para pemuda penerus negeri. Dalam realita ini, penulis mengambil daerah Oksop sebagai contoh terkikisnya nilai dan normahidup tanpa mengambil. Dimana masyarakat Oksop dahulu dan kehidupan masyarakat Oksop saat ini semakin menjauh nilai hidup ini. Dengan hadirnya pengaruh luar (budaya luar). Kehidupan masyarakat Oksop saat ini terjadi perubahan yang sangat siqnifikan, perubahan hidup secara intern rumah maupun ekstren dalam rumah dan keluarha maupun secara umum. Dengan melihat perubahan-perubahan ini dilihat dari beberapa sisi antara lain sisi negatife zaman dahulu dan sisi positif zaman dahulu.
Dilihat dari sisi negatif zaman dahulu kehidupan masyarakat saat itu masih kuat dengan kepercayaan mereka yaitu kepercayaannya kepada mitos dan di dalam kepercayaan ini mereka juga terapkan nilai negative nya yaitu ketika ada masalah di antara masyarakat sendiri harus terjadi perang (Ara bilon) antara marga dengan marga atau Ap I Wol dengan Ap I Wol lain sehingga rasa dendam pun semakin dipertahankan secara turun-temurun dalam balas dendam. Dilihat sisi positif dari kehidupan masyarakat Ok Sop zaman dahulu mereka hidupnya rama terhadap sesama, alam dan Atangki dengan menegahkan norma-norma hidup Akan budaya mereka dan menerapakan nilai-nilai sacral yang diwariskan menjadi pegangangaan hidup kepada mereka lewat mitos yang di ceritakan dari Ap I Wol masing-masing dari kelima apiwol yang mereka miliki.
Kehidupan masyarakat Oksop saat ini juga melihat dari dua sisi yang sama degan dua sisi zaman dahulu yaitu dari sisi positif saat ini yaitu ketika agama Kristen. Ketika peradaban dengan hadirnya misi, maka beberapa nilai yang sifatnya buruk seperti perang sangat menurun dengan Cinta Kasih sebagai tumbalnya. Nilai cinta kasih menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat di wilayah ini, kebiasan buruk yang mereka terapkan seperti perang antar masyarakat sudah tidak ada dan masyarakat saat ini mempercayai agama sebagai jalan keselamatan bagi seluruh umat dengan iman akan Yesus Kristus. Walaupun nilai cinta kasih menjadi dominasi tetapi kebiasaan itu tidak terlepas dari realita sosial. Dimana seperti kebiasaan buruk seperti iri hati/ambisi dan lain-lain sedang merajalelah di tenga-tenga kehidupan masyarakat saat ini. Hal ini semua terjadi dengan pengaruh pemerintah dalam hal politik daerah dan juga kepentingan seseorang dalam menduduki jabatan politik maupun jabatan lain di dunia birokrasi pemerintahan. Realita ini terjadi karena para intelektual dan juga pejabat/tokoh dari daerah ini belum bersatu dan belum ada keterbukaan antara mereka sehingga terjadi masalah di atas masalah kehidupan masyarakat saat ini tidak tenang. Realita demikian adalah salah satu sisi negative dari pada kehidupan masyarakat saat ini yang sangat dominan dan mengawatirkan kedepanakan sepertiapa.
Dengan melihat semua hal yang terterah di atas perlu ketahui bersama bahwa sebelum injil masuk masyarakat Ngalum, Kupel, Murop, Kambom, Lepkki dan lainya menyembah tempat- tempat ada kaitannya dengan mitos itu sendiri. Orang Pegunungan Bintang saat ini menyebutnya bahwa kedua Gunung yang di namakan gunung Aplim dan Apom sebagai Gunung sacral dan diyakini pusat penciptaan Orang Aplim dan Apom. Sehingga dalam realitas hidup, ritual-ritual, inisiasi adat sangat dipisahkan. Bahkan dilarang keras dalam setiap upacara adat kecuali marga-marga tertentu yang berperan sebagai pengantara.
Dalam kehidupan masyarakat ini juga biasa mereka menyebut acara ritual adat ini dalam beberapa nama seperti Basen dan Tukon kedua nama ini juga berasal dari mitos yang menceritakan untuk orang Basenki itu sendiri dan juga orang Tukon ini sehingga dalam penyembahan dan acara ritual ini juga berbeda dan tidak bersamaan. Dalam mitos yang para tetua menceritakan menyangkut kehidupan manusia yang berasal dari basenki dan Tukonki. Dimana marga Basenki mereka menyebut berasal dari Gunung Aplim itu seorang laki-laki dan Gunung Apom itu seorang perempuan. Dengan perbedaanya ini sehingga aturan-aturannya juga berbeda sehingga acara ritual untuk memuja dewa dewi dari kedua kubu tadi juga sangat berbeda-beda.dalam pelaksanaan ritual ini juga memakan waktu yang panjang contohnya inisiasi anak laki-laki (Tena kamil) ini menurut para tetua adat cerita itu biasa makan waktu 1 bulan dan dalam acara ini sama-sama di namakan inisiasi adat untuk anak laki-laki (Tenakamil ngeron). Keuda namabesar yang menunjukan Tukon dan Basen ini sama menggunkan nama inisiasi anak.tetapi perbedaannya itu ada di penyebutan doa-doa mereka (masop) kepada anak laki-laki dari kedua keturunan. Perbedaan mereka ini juga ikuti mitos mereka masing-masing dalam ritual adat ini berlangsung ada peraturan-peraturan sendiri yang mengatur dan mengikat sehingga para tetua adat mereka terapkan saat ritual adat ini berlansung. Dan dalam acara ini berlangsung anggota dalam acara ini tidak boleh melawan larangan-larangan yang di larang oleh orang tua saat inisiasi berlangsung, melawan maka akan kena damfak buruk (Kutuk) bagi pelanggar itu sendiri.
Saran
Penulis melihat sejumlah hal ini memperediksikan akan terjadi kepunahan budaya dan nilai-nilai yang kita miliki segera akan punah dan kita yang hidup di daerah menjadi pendatang di mata orang-orang luar, karena realita saat ini membuktikan. Saran penulis kepada Pemerintah kampung di wilayah Distrik oksop secara khusus bahkan ke 277 kampung diwilayah Pegunungan Bintang sebaiknya memperhatikan norma-norma hidup dalam wadah legailtas hukum.
Pertama, Dengan melihat dinamika yang terjadi saat ini penulis sarankan kepada pemerintah distrik Oksop dan juga kelima kepala kampung supayah segerah bentuk suatu peraturan kampung yang isinya bersifat norma hidup di masing-masing kampung, agar bisa mengarahkan masyarakat untuk mengatur pola hidup yang berkearifan local (Nilai Budaya) dan menanamkan nilai sacral yang sudah degradasi saat ini. Kedua, kepada pemerintah daerah Kabupaten Pegunungan Bintang lebih khusus kepada dinas BPMPK Kabupaten Pegunungan Bintang supayah segerah tetapkan sebuah RAP khusus yang mengatur dan mengikat tentang pengelolahan alat- alat buadaya,dan pola hidup secara adat di masing-masing kampung. Kedua tawaran ini guna meningkatkan pengetahuan penerus sejak usia dini. Agar dalam tahap perkembangan dan study, mereka mampu membedakan marga, keturunan, I Wol dan asal-usul lainya. Supaya menghindari perkawinan sedara karena belum tahu asal-usulnya. Inilah tanggungjawab moral bagi orang tua dan Pemerintah sebagai pengarah. Ketiga, Sebaiknya, para penerus muda-mudi Aplim Apom mesti diberi sadar dan mencari pengetahuan khusus dengan asal-usul marga dan klen dari setiap orang atau tokoh yang senior agar tidak terbawa arus modernisasi. Penulis merasa penting dan mendesak, walau masih banyak hal lain yang menjadi tugas kita bersama. Dengan demikian, kedepan bisa memberi harapan kehidupan sesuai norma adat-istiadat yang benar. Harapan dan kerjasama sangat diharapkan untuk membangun masa depan anak negeri Aplim Apom.
Penulis: Akondakanki, Mepianus Tapyor, Mahasiswa Distrik Oksop Kabupaten Pegunungan Bintang
Editor: Erick Bitdana
