Kepemimpinan CODE Dinilai Gagal Membangun Pegunungan Bintang

0
FB_IMG_1574998367768

Theo Sitokdana, Tokoh Intelektual Pegubin, Wakil Bupati Periode 2005-2010. (Foto; Dok Pribadi)

OKSIBIL, TRIBUN PAPUA.ID—Kepemimpinan Bupati Costan Oktemka, S.IP dan Wakilnya Deki Deal S.IP selama lima tahun memimpin Pegunungan Bintang  dinilai gagal dikarenakan tidak ada dampak signifikan yang dirasakan oleh masyarakat, terutama gagal menyiapkan SDM, gagal dalam mengkaderkan SDM di bidang Birokrasi maupun Politik, gagal dalam menyiapkan pemuda dan Olah Raga serta sejumlah aspek penting yang mendobrak peningkatan kesejahteraan rakyat.

Hal itu dikatakan Theo Sitokdana, Tokoh Intelektual Pegunungan Bintang kepada media ini, 9 Januari 2020. Ia menilai selama kepemimpian Costan Oktemka-Deki Deal atau CODE lima tahun ini tidak memanfaatkan waktu dan dana APBD untuk benar benar membangun manusia dan mensejahterakan orang asli Pegunungan Bintang.

Theo Sitokdana, juga mantan wakil bupati periode 2005-2010 itu mengatakan ada beberapa hal mendasar CODE gagal memimpin Pegunungan Bintang. Pertama, tidak memanfaatkan waktu 5 tahun ini membangun di semua aspek   Pembangunan. “Waktu untuk kita bisa melangkah lebih maju dari keadaan pembangunan sebelumnya hilang begitu saja. Kita tidak mensyukuri waktu yangg Tuhan berikan dengan memanfaatkannya untuk kemuliaan Tuhan melalui berbagai kebijakan pembangunan yang langsung bisa mendongkrak kehidupan masyarakat asli Pegunungan Bintang”kata Sitokdana

Kedua, hilang Uang. Dana APBD 5 tahun ini sebanyak lebih dari 7,5 trilyun. Dari jumlah dana ini, dana pembangunan 5 trilyun. Sayang dana sebanyak ini tidak jelas pemanfaatannya. Hilang begitu saja tanpa ada efisiensi penggunaan, khusus program pembangunan yang langsung berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat asli Peg Bintang. Banyak uang tapi tidak mampu kelolah degan skala prioritas demi kemajuan masyarakat dan pembangunan daerah ini.

Ketiga, menurutnya hilang waktu Pengkaderan. Lima tahun ini menjadi tahun kemunduran pengkaderan, baik kader di birokrasi, kader politik dan kader di dunia usaha. Pengkaderan di birokrasi pemerintah daerah sangat mundur, merosot tajam dan sangat memprihatinkan. ASN asli Peg Bintang diabaikan, tidak ada penghargaan bagi mereka, seakan-akan Kabupaten Pegunungan Bintang bukan tempatnya mereka berkarier dan berprofesi sebagai ASN. Pergantian semua eselon seenaknya dan semaunya bupati tanpa mengikuti mekanisme dan aturan kepegawaian yang berlaku di pemerintah sangat berpengaruh kuat terhadap proses pengkaderan ASN asli Pegunungan Bintang selama 5 tahun terakhir ini.

Keempat, hilang kesempatan dunia Pemuda & Olahraga. Uang banyak tapi ketidakmampuan manajemen dalam mengelolanya sehingga 5 tahun ini pemuda dan pemudi Pegunungan Bintang tidak bisa diorbitkan ke permukaan melalui bidang kepemudaan dan olahraga. Sangat memprihatinkan, banyak potensi orang muda kita tetapi bupati mengabaikan mereka.

Kelima, hilang dalam pembangunan SDM. Menurut Mantan Wakil bupati yang juga sebagai bapak Pendidikan ini mengatakan Pemerintahan CODE gagal dalam memimpin selama 5 tahun ini. Pemerintahan ini tidak memiliki jiwa membangun Pegunungan Bintang. Motivasi membangun daerah ini tidak ada. Sadar atau tidak, sejak tahun pertama tidak perhatikan Pembangunan SDM maka sejak itu juga penghancuran daerah ini sudah dirancang.

“Pendidikan adalah pintu untuk segalanya. Menjadi bupati tapi kalau tidak memprioritaskan pendidikan dan mengabaikan pembangunan SDM maka kegagalan pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang sudah sangat nyata”ucapnya.

Untuk itu, menurut tokoh pejuang pemekaran kabupaten ini mengatakan CODE kalau mau maju lagi untuk Periode Kedua, sebenarnya CODE sedang merancang sistim apa lagi utk menghancurkan kabupaten ini”ucapnya.

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *