Pegunungan Bintang Butuh Guru Yang Punya Hati

0
71687919_963657503972174_2323452392307163136_n

Penulis Saat Mengajar di SMP Negeri Bulangkop (Dok: Pribadi/TP)

Oleh Salmon Kasipmabin*

 

Kabupaten Pegunungan Bintang terdapat 80-an lebih Sekolah Dasar (SD). Jumlah ini tidak termasuk SMA/SMK, SMP, PAUD maupun TK yang tersebar di wilayah ini.

Berdasarkan hasil diskusi penulis dengan  masyarakat yang saya  jumpai, ada banyak keluhan yang datang dari masyarakat setempat,  bahwa dari sekian sekolah ini, belum ada guru di tempat.

Menurut mereka,  satu sekolah hanya 1 atau 2 Guru dan biasanya tidak selalu di tempat tugas untuk mendidik anak anak.  Sementara yang selalu ditempat adalah guru suka relawan. Diskusi kami berasal dari kondisi real kemampuan anak yang kami alami sendiri di SMP atau SMA.

Kondisi di atas sering dialami di sekolah Dasar (SD). Tetapi  bukan hanya SD saja, tetapi SMP atau SMA pun sama halnya. Sehingga output atau outcome dari proses belajar mengajar yang terjadi di sekolah tidak sesuai dengan harapan  bersama dan tidak memenuhi tuntutan kurikulum Nasional itu sendiri.

Saya mengajar anak anak  di sekolah,  baik tingkat SMP maupun  SMA di Oksibil  sebagai guru pembantu/honorer mencapai 3 tahun lebih. Selama saya mengapdi, sampai dengan hari ini belum temukan titik pijak bagaiaman menjadi guru.

Persoalan mendasar yang sering dihadapi anak anak di Oksibil adalah  CALISTUNG.  Anak SMP belum ada yang membaca dan menulis dengan baik. IQ anak sulit berkembang. Anak sulit diajak untuk belajar dan mengerjakan tugas mandiri di rumah.

Seringkali juga tugas yang diberikan jawaban anak tidak sesuai dengan pertanyaan. Ini yang bikin saya selalu bingung untuk dapat memecahkan persoalan.  Sedangkan untuk masalah kehadiran, anak SMP sangat memuaskan. Setiap hari tidak absen. Ini point yang saya apresiasi untuk anak Pegunungan Bintang di tingkat SMP.

Bukan hanya di SMP melainkan SMA pun demikian. Hitungan dasar Matematika (CALISTUNG) sulit. Di SMA banyak anak-anak yang belum mengenal dirinya bahwa saya ini anak sekolah. Anak belum pernah bertanya diri bahwa saya siapa(Who am I)?  Datang lambat pulang cepat, itu yang terjadi.Seorang anak datang di jam yang ada gurunya lalu meninggalkan sekolah di jam yang tidak ada gurunya.

Misalnya anak anak di SMA Negeri Oksibil yang saya didik, perbandingan kelasnya adalah 1: 35-1:40. Di jam saya dari sekian siswa yang hadir hanya 10-15. Kalau waktu tatap muka dengan siswa jatuh pada sesi terakhir, kadang saya mengajar 7-10 anak.

Dari sekian banyak persoalan yang saya alami di sekolah, saya seringkali mengeluh adalah tidak ada tempat atau waktu untuk masalah ini dibahas bersama. Sehingga saya selalu terpendam dalam hati saya. Tidak ada ruang untuk berdiskusi dan mencari solusi untuk mengatasi problem Pendidikan atau anak di sekolah. Tidak ada alat ukur keberhasilan anak.

Selalu statis, tidak pernah mengikuti dinamika perkembangan pendidikan di tingkat nasional maupun Internasional. Kurikulum tidak pernah menyentuh di sekolah di pedalaman Papua.

Berdasarkan kondisi Pendidikan di  Pegunungan Bintang, datang dari beberapa fakta di lapangan yang perlu disikapi secara bijak dan bersama-sama.

Pertama,   Asumsi saya bahwa sekitar 75% Guru asal Pegunungan Bintang adalah berusia lanjut. Dari 75% guru,  sebagian sudah pensiun dan sebagian lagi di pindahkan ke dinas sebagai pengawas dan  menduduki jabatan eselon.

Karena melihat dari aturan birokrasi, pangkat menjadi satu syarat sehingga pegawai tua dilingkup pemerintah daerah adalah guru untuk konteks Pegbin. Sedangkan sisinya sebagian guru asal Pegunungan Bintang, motivasinya terkontaminasi oleh uang, jabatan, dan fasilitas semata dan sebagiannya masih anak muda yang  tidak memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi, sehingga ikut arus di dunia politik ataupun dunia lain dan menjadi sia-sia tugas dan tanggung jawab sebagai seseorang guru itu.

Kedua,  Dari sekian guru asal Pegunungan Bintang yang masih berprofesi sebagai guru, memiliki etos kerja yang sangat rendah. Motivasinya sangat terkontaminasi oleh uang dan jabatan. Tidak memiliki integritas atau dedikasi yang tinggi untuk membangun pendidikan Pegunungan Bintang yang lebih baik.

Hal ini dibuktikan dengan, banyak kepala sekolah atau guru PNS memilih untuk meninggalkan tugas hingga berbulan-bulan di kota hanya mengurus uang atau aktivitas lainnya yang bukan tugasnya yang sesungguhnya. Banyak Guru bikin liburan atas inisiatif sendiri. Kadangkala malas tau dengan tugas dan tanggung jawab sebagai seseorang guru itu.

Dengan demikian, fakta di lapangan adalah yang selalu ada di sekolah untuk membantu adik-adik adalah guru sukarelawan. Kondisi ini banyak terjadi di sekolah Dasar. Sehingga anak-anak dapat “dinaikkan atau diluluskan” dan merepotkan bagi Guru SMP atau SMA.

Guru SMP/SMA bingung, mau mulai dari mana? Terpaksa harus terjebak dalam CALISTUNG. Target yang ingin dicapai oleh seorang guru di SMP dapat terbengkalai dan selalu main di tempat (statis).

Bagaimana kita mau menjadikan anak-anak berprestasi kalau Guru sekolah dasar adalah mereka itu?

 

Mereka yan yang tidak memiliki segudang pengetahuan dan pengalaman yang mampuni? Guru sukarelawan adalah tamatan SD atau SMP yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dan ilmu pengetahuan yang cukup. Ini real keberadaan pendidikan kita hari ini di Pegunungan Bintang.

Ketiga,  Kepala sekolah atau guru tidak pernah mengikuti dinamika perkembangan pendidikan secara nasional.

Pimpinan sekolah tidak mengerti tentang manajemen dan sistem serta kurikulum sekolah atau pendidikan Nasional. Untuk membahas mengenai masalah perkembangan prestasi, sikap atau perilaku anak seringkali tidak ada ruang dan waktu. Tidak ada ruang dan waktu untuk mengevaluasi kinerja Guru serta keterlibatan komunitas dan orang tua anak tentang peningkatan mutu dan kualitas sekolah, dan perkembangan prestasi belajar, sikap, dan perilaku anak. Pimpinan sekolah tidak pernah supervisi guru.

Jadi,  semua jalan seadanya tidak ada alur perjalanan menuju tujuan pendidikan Nasional.

Keempat,  Selain kepala sekolah dan guru di sekolah, suatu faktor penyebab rendahnya peningkatan mutu dan kualitas pendidikan serta prestasi belajar siswa datang dari lemahnya orang dinas pendidikan.

Dinas  tidak punya data real keberadaan sekolah, fasilitas,  jumlah Guru,  jumlah anak, dst. Sehingga yang terjadi adalah pemerataan guru di seluruh sekolah tidak pernah ada.  Dinas belum pernah tau di sekolah Dasar sana ada guru siapa? Berapa banyak? Selalu di sekolah kah? Pernah buat RPP kah?.

Hal ini terjadi karena fungsi tugas dinas pendidikan yang selalu mandeg. Tidak ada pengawasan langsung dari dinas. Mandeg supervisi sekolah,  mandeg pengawasan,  miskin sosialisasi dan pelatihan kurikulum, miskin evaluasi terhadap perkembangan Pendidikan.

Dari empat faktor di atas merupakan kondisi real yang kami alami. Tidak berasumsi, tapi fakta. Oleh karena itu,  supaya kedepannya ada perubahan yang terjadi, orang-orang harus berubah mindset. Praktek-praktek korup harus lawan.

Memberi kesadaran masyarakat untuk komunitas dan orang tua mengerti tentang pentingnya pendidikan.  Harus ada supervisi yang ketat datang dari dinas pendidikan dan kepsek. Perbaikan insentif guru PNS dan honorer oleh Pemda harus ada, dinas dan kepsek harus proaktif meng-update perkembangan sekolah terkini paling tidak tiga bulan sekali atau enam bulan.

Dinas dan kepsek minta sekolah atau guru untuk menginformasikan prestasi anak sesuai fakta. Lihatnya peranak datang dari wali-wali kelas.  Dinas harus menggantongi data real, bukan data manifulasi. Dengan demikian, perkembangan kualitas dan mutu pendidikan harus Fakta.

Supaya terjadi perubahan sesuai keinginan, orang-orang harus punya hati. Orang dinas, Kepsek, dan Guru harus punya hati. Perubahan yang terjadi di Pendidikan ini, datang dari Guru yang punya hati.

Meskipun, kita memiliki segudang niat atau keinginan baik, punya uang banyak, kepandaian atau kepintaran yang cukup untuk membangun pendidikan Pegunungan Bintang atau Papua.

Jika tidak dilandasi oleh suara hati” hati yang melayani” perubahan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi. Dengan hati dan iman Welington meletakkan dasar pembangunan, oleh sebab itu, sehebat apapun visi, bekerja tanpa iman dan hati, semua program endingnya tidak tepat sasaran.

 

Penulis Guru Honorer SMA Negeri 1 Oksibil  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *